Terpaksa Nikahi Bos Sombong

Terpaksa Nikahi Bos Sombong
BAB 81


__ADS_3

Dipagi hari yang cerah ini, baru saja Ivan bangun dari tidurnya ponsel sudah berbunyi menunjukkan bahwa ada pesan masuk.


Dengan berat hati dia mengambil ponsel dari meja dekat ranjang dan melihat siapa yang mengirimnya pesan dipagi hari.


Ivan membuka matanya dan melihat nomor yang tidak diketahui yang mengirim ponselnya.


Melihat nomornya, sepertinya tidak asing bagi Ivan.


Selamat pagi Ivan, malam ini aku mengadakan acara besar-besaran mengenai kepulanganku. Aku mengajakmu untuk hadir kealamat yang sudah aku kasih. Ivan, aku berharap kamu untuk hadir diacara ini, karena kamu adalah tamu spesial yang ditunggu-tunggu banyak orang lho. Jangan sampai nggak hadir ya, see you.


Baru membaca setengah dari isi pesan


tersebut dia sudah tahu siapa yang mengirimkannya, sudah jelas-jelas itu adalah Lena.


Ivan mematikan ponselnya dan menaruh kembali ponsel itu keatas meja. Kalimat antar kalimat yang berada didalam ponsel itu sama sekali tidak menarik bagi Ivan, tidak ada satu kata pun yang membuat dia ingin datang keacara itu.


Meskipun mereka sudah baikan, bukan dipeetemuan selanjutnya mereka akan lebih dekat lagi kan?.


Meskipun sudah diberitahu secara detail oleh Lena tentang kepulangannya, dia sudah tenang dan hanya sekedar tenang tidak lebih.


Untuk menjaga kesopanan dan harga diri sebagai orang yang paling dekat dengan Lena hingga pada hari ini, terpaksa dia harus hadir.


Sudah jelas Lena beserta teman-temannya akan menantikan kehadiran dirinya.


Sudah sekian tahun mereka tidak bertemu dan saat yang tepat bagi mereka untuk mengenal kembali sikap Ivan yang sekarang.


Dikantor pribadi, gedung perusahaan nomor satu dikota A. Ivan hari ini mendapatkan tamu spesial setelah mendapat laporan dari Daniel, sang asisten pribadi.


"Tuan, hari ini nyonya Sity datang berkunjung. Katanya dia berjanji untuk tidak mencari ribut lagi"


"Biarkan saja dia masuk" Mendengar ucapan bosnya, Daniel menunduk pelan kepalanya dan pergi untuk menjemput nyonya Sity, ibu Raras.


Begitu dia sampai kedalam ruangan, langsung membicarakan keintinya saja.


"Tuan Ivan, aku tidak ingin kita bermusuhan. Tapi yang jelas, aku tidak mau kamu memberitahukan hubungan kita berdua kepadanya. Dan jangan pernah mengatakan tentang masa lalu yang telah terjadi padanya"


Ivan membulatkan matanya tapi tetap dengan ekspresi dingin"Masa lalu? aku tidak tahu tentang masa lalunya"

__ADS_1


Ibu merasa bersalah telah mengatakan hal ini, dia pikir Ivan tahu apa dari masa lalu dan yang terjadi pada Raras dan kejadian yang membuatnya hilang ingatan.


"Eh tidak ada tidak ada, masa lalu yang kumaksud adalah kehidupan Raras setelah tinggal denganku" Ibu tersenyum palsu seperti orang bod*h.


"Baiklah, kau bisa pergi dari sini"


"Kalau begitu aku telah merestui hubunganmu dengan Raras, apabila tuan melanggar janji aku tidak akan diam. Terima kasih" Ibu menundukkan kepalanya.


"Terima kasih bu atas kunjungannya, silahkan" Daniel mengantar ibu hingga dirinya keluar dari ruangan itu.


Setelah mengantar kembali, dia mendatangi Ivan untuk menanyakan masalah tadi.


"Tuan, apa anda tidak ingin menanyakan pada nyonya Sity apa yang terjadi dengan nona sebelum ingatannya hilang?" Tanya Daniel dengan penuh rasa khawatir.


Seharusnya ini adalahs saat yang tepat untuk menanyakan masalah ini kepada ibunya, tapi entah mengapa Ivan malah memilih diam dan membiarkan ibunya pergi dengan tenang.


"Lagian kalau kita cari pun percuma, semua kejadian dan kehidupan nyonya sebelum ingatannya hilang sudah dihapus oleh pemerintah" Daniel membuang nafas secara kasar, padahal ini adalah kesempatan yang tepat.


"Nggak perlu"


"Dia tidak mungkin tahu apa-apa tentang kehidupan Raras sebelum mengalami hilang ingatan"


"Eh, kenapa bisa?"


"Dia hanyalah istri dari seseorang yang ada dikejadian kebakaran waktu itu, suaminya adalah seorang pemadam kebakaran. Aku yakin, dia hanya mengadopsi Raras dikejadian itu tidak lebih"


Perkataan yang terdengar membuat Daniel semakin paham. Ternyata selama ini dia salah paham, dia pikir suami dari ibu Sity menyelamatkan Raras karena ada hubungannya dengan anak itu. Ternyata hanya karena dia bermarga Davies.


- - -


Dimalam hari setelah menyelesaikan tugas kantor, Ivan bela-belain untuk hadir diacara yang diselenggarakan oleh mantannya dulu.


(Sebenarnya Lena bukan mantannya, tapi udah dianggap mantan karena nggak balik²).


"Tuan, hubunganmu dengan nona Lena baik ya" Puji Daniel.


"Apa dia pernah memberitahukanmu alasannya untuk pergi keluar negeri?" Tanya Ivan dengan sangat penasaran namun wajahnya masih terlihat dingin.

__ADS_1


"Se..sebenarnya saya tahu hal terkait masalah ini. nona Lena yang memberitahukannya kepadaku sebelum dia pergi, tapi tidak menyuruhku untuk memberitahukan tuan, maaf" Ucapnya sambil berkonsentrasi untuk menyetir.


Bagaimanapun semua orang mempunyai alasan untuk melakukan sesuatu. Ivan tidak tahu hal apa yang membuat Lena tidak memberitahukan alasan sebenarnya dia pergi meninggalkannya.


"Tuan, apa perlu aku mencari informasi mengenai.."


"Tidak perlu, aku tidak peduli hal itu dan semua yang menyangkut dirinya"


Sesampainya disana, Ivan turun dari mobil peraknya, langkahnya diikuti oleh Daniel yang berada dibelakangnya.


Didepan gedung bar milik Lena, sudah banyak sekali terparkir mobil-mobil mahal milik tamu yang datang untuk menghadiri acara kepulangannya.


Namun harga mobil mereka tak sebanding dengan harga mobil milik Ivan, malah berkali-kali lipat.


Dia masuk kedalam, semua mata tertuju kepadanya. Mereka yang sibuk dalam mengurus masalah begitu melihat wajah tampan Ivan langsung tidak mempedulikan masalah mereka masing-masing.


Lena yang awalnya menyambut tamu begitu melihat wajah Ivan, dia langsung datang untuk menyambutnya.


Berlari kearah Ivan berada sambil menunjukkam wajah senangnya dan memeluk pria itu.


"Akhirnya kamu datang juga" Kalimat pertama yang diucapkan olehnya.


Namun pandangannya yang semula kedepan dalam keadaan tetap, wajahnya yang dingin juga dalam keadaan tetap. Tidak mementingkan masalah bagaimana pandangan orang melihat dirinya.


Lena memeluk lengan tangan Ivan dan tersenyum."Ivan, mari kita bersenang-senang"


Meskipun dia tahu bahwa wajah dingin Ivan masih tertera, dia tidak mementingkan hal itu. Malah membuatnya semakin ingin berusaha agar dirinya mencintai Lena kembali.


Arah mata tamu lainnya tertuju kepada mereka.


"Liat tuh, pasangannya Lena udah mucul. Serasinya.."


"Bahkan dari dulu sampai sekarang tuan Ivan semakin tampan saja. Lena sangat beruntung ya mendapatkan pria sesempurna itu"


"Hehe, suaramu jangan terlalu kuat. Nanti didengar lho"


Lena membawa Ivan ketempat duduk VIP. Dimana hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk kedalamnya. Diperjalanan menuju meja VIP tersebut hanya ada kesunyian bagi mereka, Ivan yang diam dan memperhatikan jalannya sementara Lena yang sibuk untuk mempertahankan agar tetap tersenyum meskipun hatinya merasa sakit, bahwa sampai ditempat ini pun dia masih bersikap seperti tidak saling mengenal.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Like dan komen ya


__ADS_2