
Raras sangat penasaran dengan sosok punggung pria yang terlihat sangat dikenalnya, terlintas yang ada dipikirannya adalah Ivan. Bagaimana pula pria itu bisa ada disini? terlebih lagi dia bersama dengan seorang wanita. Tapi dia masih belum bisa berpesangka buruk,karena yang ditatap hanyalah punggungnya bukan wajahnya. Seketika Raras bersembunyi, agar dirinya tidak terlihat.
Dalam pikiran masih ada tanda tanya, bagaimana pula dia bisa bersama dengan wanita lain disebuah mall. Bukankah seharusnya dia kekantor untuk bekerja?.
Dia masih tetap bersembunyi dan menatap dengan detail.Raras berpikir ingin menyamperin untuk memastikan apakah dia benar Ivan atau tidak. Tapi, melihat wanita yang disampingnya menggandeng tangan pria itu, sangat sulit untuk mengetahuinya dengan jelas.
Tidak ada wanita yang berani menggandeng tangan Ivan terlebih dahulu, dia pasti akan menghempiskan tangan wanita itu.
Apa aku terlalu banyak berpikir, tidak mungkin dia itu suamiku. Haih, akhir-akhir ini pikiranku selalu tertuju kepadanya. Mungkin saja aku sedang berhalusinasi. Haha.
Raras menepuk jidatnya berusaha menghilangkan pikirannya yang aneh itu.
Melihat kembali pria itu, Dia mengarahkan wajahnya kekiri dan menatap wanita yang berada disamping kirinya dengan penuh perhatian.
Deg, jantungnya berdetak kencang tidak sadar bahwa pandangannya masih tertuju terhadap mereka Berdua. Dengan wanita yang disampingnya menunjukkan aura kecantikan dan perhatiannya terhadap Ivan.
"Haha, itu Ivan? lucu sekali. Tidak mungkin itu Ivan" Seketika dada Raras terasa sakit, seperti tertusuk duri. Melihat pria yang pelan-pelan dia cintai bersama dengan wanita lain, bukan hanya sekedar pria yang dicintai. Tapi pria yang merupakan suaminya. Bagaimanapula sakit hati yang tertera didada Raras terasa, apalagi melihat suaminya sendiri bersama dengan wanita lain. Bahkan wanita itu terlihat asing dan tidak pernah Raras temui.
Raras merasa gila sendiri, tidak percaya akan hal yang dia lihat. Benar-benar sakit, tapi tidak berdarah. Air yang semula menggenang dipelupuk matanya perlahan jatuh kepipih dan meneteskan hingga kelantai.
Cobaan apa lagi yang aku dapatkan, kenapa bisa pria seperti Ivan menunjukkan sisi manisnya terhadap wanita itu. Bahkan dia tidak pernah melakukan hal seperti itu padaku. Curang, benar-benar curang. Aku yang sudah menunggu lama dan berharap agar Ivan mengutarakan perasaannya padaku sekarang itu hanya ilusi saja. Sudah berharap agar pernikahan kami menjadi hangat tanpa adanya masalah, tapi masalah yang timbul sangat parah daripada yang kubayangkan.
Raras tidak tahan melihat kedua pasangan yang terlihat serasi itu, dia pergi ketoilet untuk menenangkan diri. Walaupun belum meminta izin kepada teman-teman dan juga ibunya. Dia tidak sempat memikirkan hal itu, yang ada dihatinya hanyalah sepuncuk rasa sakit hati dan kecemburuan. Meskipun dia tidak tahu jelas, siapa wanita itu.
Dia mencuci wajahnya dengan mengambil air dikeran yang menyala. Membasuhi wajahnya dengan air,padahal baru saja berdandan
Make-up nya juga sudah luntur.
Dia menangis disana, tidak ada tempat yang lebih baik untuk menenangkan diri selain ditoilet.
__ADS_1
Petugas cleaning service yang berada didalam toilet bingung, melihat Raras menangis dia juga sangat panik.
"Permisi nona, apa yang sedang terjadi? apa kamu baik-baik saja? "Ikut turut kasihan akan kesedihan yang ada dimata Raras.
Wanita itu menatap wajah sicleaning service, kemudian memalingkan Wajah. Dia memberhetikan suara tangisannya namun masih terisak.
Menatap cermin dan melihat dirinya yang sekarang, terlihat jelek, lusuh seperti orang gila. Rambutnya juga berantakan kesini kemari. Gaunnya yang indah sudah ternodai dengan air keran itu.
"Nona, jika ada masalah jangan dipendam sendiri lho. Dan juga jangan putus asa meskipun mempunyai masalah besar." Wanita cleaning service itu sebenarnya tidak ingin ikut campur dengan masalah Raras, namun begitu melihat cantiknya Raras beserta gaun yang dikenakan membuat dirinya ingin sekali membujuknya. Bukannya dia lesbi.
Menghentikan tangisannya dan merasa bersalah telah mengabaikan ibu-ibu itu. Dia merasa bersalah telah membuat ibu itu ikutan panik dengan apa yang dia lakukan. Raras mengalihkan pembicaraannya.
"Maaf bu, saya telah mengotori lantainya. Pinjamkan saya kain pelnya bu, biar saya bersihin" Masih ada sedikit isakan
"Tidak perlu, ini sudah menjadi tugas ibu kok. Syukurlah kamu sudah mau berbicara"
Karena suasana hatinya tidak membaik, membuatnya enggan untuk berbicara dengan ibu cleaning service itu. Pikirannya masih campur aduk, membuatnya tidak nafsu untuk melakukan sesuatu.
Dia membuka pintu, wajahnya masih murung dan otaknya masih memikirkan hal tadi.
Ivan, aku tidak tahu jelas siapa wanita itu. Tapi instingku mengatakan bahwa dia adalah wanita yang sangat spesial bagimu, aku juga tidak mengerti kenapa bisa aku menangis sampai seperti ini.
Tetap menundukkan wajahnya agar tidak terlihat wajahnya yang sedang lesu.
Bruk. Tiba-tiba Raras tidak sengaja menabrak lengan tangan seseorang.
"Maaf, saya tidak..." Mengangkat wajah dan melihat wajah Ivan menatapnya. Mereka saling terkejut, Raras menjauhkan diri dari pandangan Ivan dan berjalan sangat cepat. Ivan masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia memandang Raras yang berjalan jauh dibelakang.
Kenapa Raras berada disini?.pikirnya
__ADS_1
Lena membangunkan Ivan dari lamunannya. Dia menyentuh pundak pria itu.
"Ivan, apa yang kamu pikirkan? kamu kenal wanita itu? "Tanyanya
Kembali tersadar dalam lamunan"Lupakan saja, ayo pergi"
Dia menarik tangan Lena untuk pergi dari sana secepatnya. Pura-pura bertanya seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
"Ternyata istrimu ada disini ya" Ucapnya membuat Ivan terkejut.
"Kau kenal dia? "
"Tentu saja, sewaktu kalian menikah aku mencari informasi mengenai istrimu. Sampai sekarangpun aku mengingat wujudnya lho. Ternyata aslinya dia sangat cantik, cuman aku merasa dia sepertinya sedang sedih" Ucapnya panjang lebar.
Yang daritadi dipikirkan oleh Ivan pun seperti itu, kenapa wajahnya terlihat lesu? dan kenapa dirinya ada disini?.
Ivan mulai berpikir yang tidak-tidak. Tidak mungkinkan dia bermaksud untuk menguntitnya?.
"Ivan, apa jangan-jangan dia melihat kita? " Ucap Lena panik.
"Bagaimana ini, apa perlu aku mengejarnya?" Tambah lebih panik lagi
"Mungkin dia salah paham terhadap hubungan kita, apa yang harus aku lakukan?
"Sudahlah, tidak perlu ikut campur tentang hubunganku dengannya"
"Tapi, nanti aku dibilang pelakor" Merasa sedih dan menyenderkan kepalanya kebahu Ivan.
"Sudah kukatakan dia hanya istri kontrakku. Tidak lebih, jangan salah paham dengan hubungan kami"
__ADS_1
Kembali Lena mengangkat kepalanya dan wajahnya berbinar-binar. "Benar apa katamu. bagaimanapun juga yang lebih dulu adalah aku."
Sementara itu Raras menahan agar dirinya tidak malu, berpapasan dengan suami yang bersama dengan wanita lain terdengan menyakitkan.