
Akhirnya sampai dirumah,Raras segera turun dari mobil.Setelah ia turun,Daniel melajukan mobilnya untuk pergi ke sebuah tempat perjanjian Ivan dengan Ronald.
"Tuan,hubunganmu dengan nona Raras
sangat baik ya"
"Tentu saja" Kata Ivan
"Hm,apa tidak takut dengan ibu angkat?"
"Aku percaya dia bisa menjalaninya dengan
baik"
Hm,tuan Ivan masih belum sadar kelakuan
ibu angkatnya.Sampai kapan ia akan menyadari akan hal itu Batin Daniel
"Apa kau sudah mencari apa yang kuminta?"
Tanya Ivan
"Aku selalu siap melakukan apa yang Tuan
suruh.Sudah sangat lama aku mendapat
informasi tentang keluarga Raras.Tinggal
menunggu apakah tuan sudah siap untuk
mendengarnya atau tidak" Kata Daniel sambil tersenyum
"Nanti saja,jika sekarang kau beritahu mood
ku langsung hilang"
"Haha,benar juga ya"
- - -
Raras masuk kedalam rumah,sosok ibu angkat Ivan sudah berada di atas sofa.
Melihat kedatangan Raras ia sangat tidak peduli.
"Selamat Sore bu" Ucap Raras penuh hormat
__ADS_1
"Ambilkan aku secangkir teh"Perintahnya
Bukannya dirumah ini banyak pembantu ya? Kenapa malah menyuruhku. Sudahlah ini juga sebuah kesempatan agar ibu memandang diriku Batin Raras
"Baiklah"
Raras pergi kedapur untuk membuat secangkir teh hangat.Ia membuatnya dengan penuh keberhati-hatian agar tidak terjadi kesalahan.
Setelah selesai,Raras membawa secangkir gelas berisi teh keruang tengah dan memberikannya pada ibu.
"Silahkan diminum bu"
Ibu mengambil dan menyicip sedikit teh itu.
Sebenarnya rasa teh itu tidak buruk,tapi karena dia sangat benci dengan Raras kesempatannya untuk menjelek jelekkan wanita itu.
Dengan marah, Ibu menjatuhkan secangkir teh itu membuat cangkirnya pecah beserta isinya berhamburan.
Raras sangat kecewa,ia yakin dan percaya bahwa teh yang dia buat tidak buruk sama sekali.
"Bisa-bisanya kau membuatkan ku sebuah
teh tidak enak seperti ini?.Membuat teh
aja gak bisa,masih mempunyai nyali menjadi
Raras mengepalkan tangannya.Perlakuan Ibu angkat Ivan sudah melewati batas.
Boleh saja dia membenci Raras,tapi tidak perlu dengan perlakuan yang seperti ini.
Pelayan yang melihat kejadian ini buru-buru mengbil kain lap dan mengelap teh yang baru saja tumpah.
"Berhenti,biarkan nona didepanmu yang
mengelapnya" Pelayan itu ragu-ragu untuk memberikan kain lap pada Raras.Ia sangat tidak tega melakukan hal itu.
"Ta..tapi" Melihat wajah Raras yang tersenyum kearahnya barulah pelayan itu mau memberikan kain lap nya.
Raras membungkukkan kakinya kemudian mengelap sampai bersih tanpa ada sisa noda.
Tidak lupa juga untuk membersihkan beling kaca yang berserakan dimana mana.
Walaupun Raras bukan siapa-siapa,pelayan itu sangat rela dimarahi oleh Ibu angkat Ivan demi melakukan hal itu.
Tapi ia tidak mampu.
__ADS_1
"Buatkan aku yang baru"Kata Ibu
Dasar ibu tua! masih belum puas untuk menggangguku Batin Raras
"Baik"
Raras kedapur untuk membuatkan teh.
Kali ini dia lebih berhati-hati, membuatnya jauh lebih baik dari pada yang tadi.
Mengukur takaran gula sedetail mungkin, tidak lupa juga untuk menyesuaikan seberapa hangat tehnya.
Selesai ia membuat teh itu,Raras pergi dan memberikannya pada Ibu.
"Pergi sana" Ucap ibu
Dengan senang hati Raras pergi,lebih baik dia disuruh pergi dari pada memandang wajah jeleknya ibu.
"Nyonya,jangan terlalu dipikirkan.Maaf ya tadi
aku terpaksa melakukan hal itu,aku sangat
keterlaluan sudah memberikan kain lapnya
padamu" Kata Pelayan yang tadi
"Tidak apa-apa.Aku baik-baik saja,kamu
tidak perlu khawatir"
Ucapan Raras tadi membuat hati pelayan itu kembali tenang.
"Ngomong-ngomong nyonya,Umurmu masih
20 tahun.Apakah tidak kepikiran untuk
melanjutkan kuliah?" Tanya pelayan
"Hehe,aku tidak perlu melakukan hal itu,
yang paling kupikirkan adalah membuat
tuan muda Ivan merasa senang ketika berada
ditekatku.Aku tidak pantas untuk bersekolah
__ADS_1
lagi" Kata Raras
Kasihan sekali nyonya Raras,berani memikul beban dengan sendirinya.aku tidak berani untuk menanyakan alasan nyonya menikahi Tuan.Dari sorot matanya,terlihat sebuah kesedihan yang sangat besar Batin Pelayan