
Disebuah perusahaan terbaik dikota, Ivan telah menyelesaikan rapatnya sepuluh menit yang lalu. Seorang CEO dari perusahaan lain mendatangi Ivan didalam kantor.
"Apa kabar Ivan" Kata pak Michael
"Ada apa? kenapa kesini?" Tanya Ivan setengah curiga
"Haha, tidak. Aku hanya ingin berteman dengan anda. Aku sering mendengar beritamu dimana-mana, apalagi berita tentang dirimu yang telah menikah tak lama ini" Michael duduk didepan meja Ivan
Ivan hanya diam saja, karena terlalu lelah menyelesaikan pekerjaannya. Dia juga tidak senang dengan keberadaan Michael. Terlihat diwajahnya bahwa dia seorang pria licik.
"Ivan, kenapa kau merahasiakan istrimu? apakah identitasnya harus disembunyikan?" Tanya Michael
Kenapa lelaki bod*h ini tidak pergi juga? Padahal dia sudah melihat wajahku yang tidak perduli. Batin Ivan
"Aku tidak ingin menikah dan perusahaanku membutuhkan agar aku secepatnya menikah. Menurutku, tanpa saya jelasin seharusnya presdir Michael sudah tau. Bukannya anda adalah seorang CEO?" Kata Ivan
"Haha benar. Ternyata kau masih belum mau menikah juga ya, dan hanya demi perusahaan. Lagipula kau masih muda, jadi tidak saatnya memikirkan tentang pernikahan"
Kapan pria ini kehabisan topik pembicaraan? aku tidak sabar melihat dirinya menutup mulut rapat-rapat. Batin Ivan
__ADS_1
"Sebenarnya, kedatanganku kesini adalah ingin melihat anda. Karena banyak sekali orang diluar sana yang membicarakanmu. Presdir Ivan, jika ada waktu luang aku mau mengajakmu minum. Apa kau mau?"
"Kalau ada sempat" Jawabnya cuek
"Baiklah, aku permisi dulu" Akhirnya Michael pergi dari ruangan ini. Sosok punggungnya dilirik Ivan.
Sangat jarang ada CEO lain yang mendatangi Ivan dengan cara rendahan seperti ini. Baru saja selesai rapat, Ivan sudah emosi berat.
Dia menuangkan botol berisi anggur kecangkir dan meminumnya.
"Tuan Ivan, sebaiknya anda jangan melakukam hal ini. Tubuh anda sekarang butuh istirahat, sebaiknya jangan minum dulu" Kata Daniel yang barusan datang menghampiri Ivan.
Dengan sigap Daniel mengambil gelas dari tangan Ivan.
"Sebaiknya tuan mendengarkanku. Aku tidak mau anda sakit" Daniel tersenyum
Ivan menatap tajam mata Daniel. Pria itu tau kensekuensinya jika dia bertindak seperti itu. Apa boleh buat, bagaimana jika Ivan jatuh sakit? siapa yang akan menjaga perusahaannya, tentu saja Daniel. Dia tidak mau melakukan hal itu. Karena sangat merepotkan.
"Berikan gelas itu padaku! berani-beraninya kau!" Ivan meraih gelas itu dari tangan Daniel. Terpaksa dia memberikan gelas itu. Karena dari mata Ivan, terlihat jelas bahwa dia sangat menginginkan anggur itu.
__ADS_1
-
Tampak cahaya bintang menyinari seisi bumi. Raras menuju kearah jendela berada, dia melihat bahwa hari sudah petang. Ini saatnya dia pulang kerumah.
"Cici, selanjutnya aku serahkan semuanya ketanganmu. Aku sudah sangat lelah, aku ingin tidur diranjang empukku"
"Serahkan semuanya padaku. Hati² dijalan nona. Semoga malam ini adalah malam terbaik ketika anda berada diranjang" Cici terkekeh kecil.
"Haha, dasar kamu! selamat tinggal!" Raras menunjukkan senyum manisnya dan tidak lupa juga untuk berpamitan dengan pegawai lainnya.
Dia mengambil ponsel yang berada ditas bermaksud untuk menelpon pak Ari.
Dia menunggu sekitar setengah jam dan akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.
Ketika melihat mobil Ari melaju didepan mata, Raras langsung masuk kedalam mobil. Dia tidak tahan dengan cuaca yang sangat dingin dimalam hari.
"Maaf Nyonya, tadi ada pekerjaan yang harus aku urus. Apa terlalu lama?" Tanya pak Ari
"Tidak masalah, tapi aku tidak tahan dingin"
__ADS_1