
Raras menepuk jidatnya dengan kuat. Bagaimana caranya dia membawa Naya untuk pulang kerumah? sedangkan rumahnya saja Raras tidak tahu ada dimana.
Setelah dia berpikir keras, akhirnya Raras mempunyai sebuah ide meskipun dia tidak percaya apakah hal ini akan berhasil atau tidak.
Dia mengambil ponsel Naya yang berada didalam tas untuk melihat alamat rumahnya. Karena gadis itu pelupa, mungkin dia menyimpan alamat rumahnya diponsel.
Tuh kan! sudah kuduga! tidak ada hasil sama sekali.
Dia mendenguh kesal.
Bagaimana jika aku memesan sebuah kamar hotel disamping cafe ini? mungkin ini adalah hal yang terbaik untuk dilakukan.
Dia memesan sebuah kamar hotel yang biasa saja dan menidurkan Naya disana.
Dia tahu, Naya tidak boleh dibawa pulang. Karena sangat berbahaya jika wanita itu ada disana. Karena itu bukan sepenuhnya rumah Raras, itu adalah milik Ivan.
Sewaktu dia ingin keluar dari ruangan suara dering ponsel Raras bunyi. Ternyata itu adalah panggilan dari Dokter yang menemani ibunya dirumah sakit.
"Dokter ada apa nelpon saya malam-malam begini?"
"Nona Raras, ibu kamu hari ini sudah membaik jadi tidak perlu menginap. Nona harus menjemput ibu sekarang juga dia tidak sabar bertemu dengan nona!"
"Benarkah? saya akan kesana dengan segera. Terima kasih pak" Dia mematikan telpon dengan perasaan gembira. Raras tidak perlu pusing lagi memikirkan penyakit ibunya.
Sewaktu dia sampai didalam ruangan, ibunya sedang duduk diranjang rumahs sakit.
"Ibu, ayo kita pulang" Wajahnya tampak sangat bahagia.
"Kamu akhirnya datang juga. Sudah lama sekali ibu menunggu"
"Maaf bu, Raras telat sedikit" Dia berjalan karah ibunya dan memeluknya. Wajah ibunya yang biasa terlihat pucat dan kurus sekarang telah membaik. Dia benar-benar sama dengan ibunya sewaktu sehat walafiat.
Mereka berpamitan dengan dokter yang telah menjaga ibu dan pulang kerumah. Raras membuka pintu rumahnya yang sederhana itu dan membantu ibunya untuk berjalan dan beristirahat.
"Sayang, kamu tidak akan meninggalkan ibu disini sendirikan?" Ucap ibunya dengan tersenyum.
Raut wajahnya langsung berubah, dia tidak memikirkan bahwa ibunya akan ditinggal sendiri disini.
"Eh.. itu bu.. bagaimana ya?" Dia ragu-ragu untuk menjawab.
__ADS_1
"Kenapa sayang? apa kamu tidak menyukai tempat tinggal ini lagi?" Ibu memerhatikan pakaian yang dikenakan oleh Raras "Sekarang kamu sudah berubah ya. Mulai merubah penampilan"
"Bu, maaf. Aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkanmu. Raras akan menemani ibu disini kok"
Ketika dia mengucapkan kata-kata itu, Raras pergi dari kamarnya untuk menelpon Ivan. Dia ingin meminta izin untuk tinggal semalam dirumah.
Tapi, panggilan tidak terjawab, Ivan tidak mengangkat telpon dari Raras.
-
"Tuan Ivan, teleponmu bunyi, dari Raras siapa dia?" Tanya Diana.
Begitu Daniel mendengar perkataan itu, dia langsung mematikan telpon dengan segera.
"Kamu kenapa Daniel?"
"Mendingan hari ini kita menikmati acara tanpa ada orang luar"
"Emangnya wanita bernama Raras itu siapa?"
"Dia istri simpanan tuan Ivan."
"Apa yang kalian ributkan?" Tanya Ivan yang sedang duduk didepan mereka dan menikmati segelas bir.
"Ti..tidak ada tuan. Tadi Diana bilang dia mau nambah sebotol anggur tapi saya tidak memperbolehkannya"
"Kenapa tidak boleh? pesta kali ini saya yang traktir kau tidak berhak untuk mengaturnya!" Ucapnya dengan dingin
"Maaf tuan, saya akan membawakan sebotol bir yang baru kepada Diana"
Ketika Ivan tidak campur urusan kepada mereka berdua, Daniel berbisik" Jangan biarkan tuan tahu jika wanita itu menelpon. Nanti tuan memberhentikan acara ini dan menyuruh kita untuk menikmati pesta ini. Saya tidak mau hal itu terjadi!"
Apa wanita itu begitu penting bagi tuan Ivan? Aku pikir sifat playboy nya masih belum hilang sampai sekarang. Pantas saja tuan tidak pernah lagi tampak diberita dan hari ini tidak ada seorang wanita penghibu disampingnya! pikir Diana
Sekilas dia melirik tuannya yang sedang asyik meminum sebuah bir dan mengobrol dengan temannya tanpa melirik seorang wanita. Meskipun dari tadi banyak wanita seksi yang memamerkan tubuhnya didepan Ivan, dia sangat tidak tergoda oleh mereka.
Dan juga sebenarnya Ivan melakukan hal itu semua karena ada alasannya, bukan karena dia menyukai seorang wanita penggoda.
-
__ADS_1
"Kenapa tidak dijawab?" Kembali Raras memerhatikan ponselnya dan melihat dengan jelas apa benar pria itu tidak membalas panggilannya, karena ini pertama kalinya panggilan itu tidak dijawab oleh Ivan.
"Bu, ayo kita tidur ini sudah malam, tidak baik untuk kesehatanmu"
"Sayang, kamu bisa menceritakan semuanya kepada ibu. Menceritakan tentang kondisi kamu yang sekarang jika kamu sudah siap mengatakannya pada ibu. Selama ini ibu tidak pernah menanyakan hal ini, tapi.. tetap saja ibu merasa sangat penasaran."
Tidak terasa saat kata-kata itu dilontarkan tetesan air mata keluar dengan mudah. Dia tidak sanggup melihat ekspresi ibu yang ketika mendengar hal ini akan sangat menyakitkan.
"Raras, kenapa kamu menangis? apa pertanyaan ibu itu benar? Jadi selam ini kamu menyimpan sesuatu dari ibu?"
"Huhu.. maaf bu. Raras nggak bermaksud untuk mengatakan yang sejujurnya. Takut ibu marah dan terbawa emosi. Huhu.. bu bahkan aku tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi"
Ibu mengelap air mata Raras yang mengalir dipipih nya.
"Jangan menangis sayang. Ibu tidak marah jika kamu tidak bersalah"
"Justru karena ini adalah masalah besar makanya aku menangis seperti ini. Huhu bu.. percayalah, Raras menyesal telah melakukan hal yang diluar batas"
"Coba ceritakan pada ibu apa masalahnya?" Tanya ibu dengan tenang supaya Raras berhenti menyalakan diri sendiri.
Meskipun didalam hatinya tertimpa rasa sakit seperti apa yang Raras rasakan.
"Jangan bu.. aku takut penyakit ibu akan kambuh"
"Selagi kamu tidak menghianati ibu dari belakang ibu tidak akan pernah sakit hati."
"Baiklah bu. Raras bersedia dihukum oleh ibu karena masalah ini" Ibunya tidak membuka mulut lagi.
"Raras sudah menikah.. Itu satu-satunya jalan yang terbaik untuk melunasi hutang kita" Dia menundukkan wajahnya dan menggigit bibirnya sekuat tenaga.
Takut ibunya menampar pipinya, sama seperti yang dilakukan saat Raras masih kecil yang masih nakal dan tidak pernah menurut omongan orang tuanya.
"Siapa pria yang kau nikahi? apa kau mencintainya?" Tanya Ibu dengan wajah yang sangat serius tanpa adanya ekspresi marah.
Dengan sangat terkejut dia mengangkat wajah dan melihat ibunya.
Apa.. ibu tidak marah padaku? bahkan dengan entengnya ibu menanyakan siapa suami yang kunikahi dan lebih parahnya menanyakan pria yang kucintai. Kupikir ibu akan menyuruhku untuk menceraikan Ivan, kalau kata penceraian keluar dari mulut ibu terpaksa aku cerai dengan Ivan. pikirnya dengan sangat matang.
"Di...dia Ivan Putra, pemilik perusahaan J group. Ibu tahu kan Ivan? dia satu-satunya CEO yang terkenal akan kekayaannya dikota ini.
__ADS_1
Ini semua hanya paksaan, jika ibu ingin aku menceraikannya aku rela"