
Dipagi hari yang cerah,kedua kalinya Raras melihat pemandangan yang tidak ingin ia lihat.
Baru saja membuka mata perlahan,tubuh gagah Ivan serta dirinya yang telanjang bulat membuat Raras berpikir yang tidak-tidak.
Ia merasa dirinya sangat berdosa karena telah menyaksikan hal yang tak terduga.
Padahal hubungan mereka saat ini suami istri,namun Raras masih belum terbiasa.
"Kyaa,Ivan kalau kamu mau pakai baju
dikamar mandi aja!" Perintah Raras
Pria itu malah tersenyum sambil mengkancing kemejanya.
"Emangnya kenapa?,kita kan udah menikah" Ivan berjalan mendekat kearah Raras
"Walaupun kita sudah menikahi jangan kira
aku akan tertarik oleh tubuhmu itu!"
Kata Raras kemudian memalingkan wajah
"Benarkah,tapi ekspresimu tadi meyakinkan
aku jika kau tertarik padaku" Kata Ivan sungguh membuat Raras semakin salah tingkah.
Emang kelihatan banget ya? Batin Raras
"Ivaaaan,sana pergi kekantor nanti kau ter-
lambat" Teriak Raras sambil mendorong badan Ivan.
Tingkah Raras yang seperti ini membuat Ivan merasa nyaman jika berada didekatnya.
Ia lebih suka jika Raras selalu melakukan suatu tindakan yang benar-benar ada dihatinya,bukan terpaksa melakukan hal yang Raras lakukan walaupun ia tidak menyukainya sekalipun.
"Aku akan pergi sekarang juga kalau kau
mengikat dasiku"
__ADS_1
Perintahnya emang seharusnya dilakukan oleh Raras,biasanya seorang istri yang mengikatkan dasi terhadap suaminya.
Kekanak-kanakan banget,punya dua tangan malah menyuruh aku yang buat. Mendingan suruh ibumu aja yang ikat Batin Raras
"Apa yang kau pikirkan? Cepat lakukan!" Perintah Ivan dengan tidak sabaran
"Iya iya" Raras mulai memegang dasi yang sudah lekat dikerah kemejanya Ivan.
Ia mulai mengikat dasi itu,Raras masih ingat caranya dalam mengikat dasi.
Raras melakukannya dengan sangat rapi.
"Bagus" Ivan mempunyai perbuatan khusus pada Raras.setiap Raras melakukan sesuatu padanya,atau membuat hatinya senang pasti Ivan mengacak-acak rambut Raras.
"Gak mau ikut sarapan denganku?" Tawar Ivan
"Aku mau mandi,nanti aku bakalan nyusul
kalau sempat"
Akhirnya Ivan angkat kaki dan keluar dari kamar.
Tapi,ia berusaha agar tubuhnya stabil.
Namun,satu hal yang tidak Raras sadari adalah Ivan mengetahui akan hal itu.
Pantas saja Ivan dari tadi tersenyum.
Setelah Raras selesai mandi dan bersiap- siap.Ia berencana untuk mencari sebuah pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.
Karena belum tamat kuliah,Raras tidak yakin akan mudah diterima kerja dengan gaji yang banyak dan memuaskan.
"Halo Nyonya Raras,wajah anda sudah lebih
bugar dari pada yang kemarin.Pasti Tuan
muda Ivan memperlakukan anda dengan
baik kan?" Tanya Pelayan kemarin dengan sangat penasaran.
__ADS_1
"Haha,tidak juga"
Pelayan ini masih mengkawatirkanku? Batin Raras
Raras duduk dikursi dan melihat sekeliling dapur ini.
"Apa Ibu tidak ada?" Tanya Raras
"Oh Nyonya Putra barusan sudah pergi.
Biasanya kalau ia pergi pasti ikut arisan atau
tidak ke mall" Kata Pelayan
"Oh,terima kasih bi.Tapi,kenapa bibi tau apa
yang ibu lakukan?"
"Dulu kan Nyonya tinggal disini" Kata pelayan sambil menyodorkan sarapan kepada Raras.
Raras memakannya dengan lahap dan berharap agar Ibu tidak akan pernah kembali lagi.
Sebenarnya Raras masih sangat bingung, kenapa Ibu tidak pulang saja.
Bukankah acara pernikahannya sudah terlaksana?.
Memikirkan sifat dari Ibu saja sudah membuat Raras merinding.
Setelah menghabiskan sarapan,Raras mengambil sapu tangan disamping piring kemudian mengelap mulutnya.
"Bi,aku pergi dulu ya" Raras berdiri dari kursinya.
"Nyonya mau kemana?" Tanya Pelayan
"Aku mau melamar kerja bi,tapi mau ngambil
surat-surat sama ijazah dirumah dulu"
"Nyonya gak mau diantarin?" Sudah berulang-ulang kali pelayan menanyakan pertanyaan yang sama ketika Raras ingin pergi sendiri namun ia tidak tau bahwa Raras tidak ingin orang luar tau tentang seluk beluk keluarganya.
__ADS_1