
Apakah ada alasan lain, selain lebih mementingkan urusan pribadimu?
Hujan semakin deras, cipratan air yang turun dari langit membasahi tubuh mereka. Angin yang bertiup kencang dan kilatan yang tertera dilangit sama seperti hati Lena yang hancur. Berantakan berkeping-keping.
"Ivan, jawab aku! apakah kamu akan mencintaiku jika aku memberitahukan alasan sebenarnya aku pergi?"
"Tidak. Lena, lupakan semua masa lalu kita. Lupakan semua kebahagiaan dan kesengsaraan yang kita hadapi bersama. Karena itu hanya masa lalu dan kenangan buruk bagiku"
Bagaikan sebuah pisau yang menusuk jantung Lena. Dia pikir, Ivan masih mencintainya lebih dari apapun. Nyatanya, pria itu tidak memikirkan perasaan Lena yang sakit ketika mendapat sambutan tanpa senyuman dari orang yang dicintai.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu." Selama ini, hanya Lena lah satu-satunya wanita yang paham betul dengan sikap Ivan. Dari kecil setelah orang tua Ivan meninggal, mereka sudah saling mengenal. Berjuang bersama untuk mengejar impian mereka masing-masing.
Dia membalikkan badannya dan mengambil payung yang dari tadi tergeletak ditanah. Ketika payung itu berada ditangannya, kembali dia membalikkan badan dan tersenyum menatap wajah cinta pertama sekaligus terakhirnya "Selamat malam Ivan, semoga mimpi indah"
Sudah lama sekali, perasaan ini muncul lagi. Sudahlah, lebih baik aku menunggu. Menunggu agar Ivan membukakan hatinya untukku dan menerimaku apa adanya. Mendapatkan cinta dan perhatiannya sama seperti yang dilakukan dulu. Rasanya ingin kembali kemasa lalu.
- - -
Dipagi hari yang cerah, Raras terbangun karena cahaya matahari yang menerangi seisi kamarnya.
Hoaamm. Dia menguap dan membuka matanya perlahan. Terdapat sosok Ivan yang berada didepan mata hanya memakai handuk kecil yang berada dipinggangnya.
"Selamat pagi sayang" Tersenyum sambil menatap wajah Raras.
Baru pagi-pagi gini udah buat aku salting aja!
"Pa...pagi" Kelihatannya wajah Ivan yang murung kemarin sudah berganti dengan senyuman.
Dia mendekat kearah Raras, sedangkan wanita itu mundur sampai mentok.
"Hey, apa yang mau kamu lakukan?" Senyuman licik diwajah Ivan masih belum hilang.
"Kenapa mundur, masa kamu takut sama suami sendiri?" Ivan naik keatas ranjang dan mendekat kearah Raras. Diantara mereka sudah tidak menyisahkan jarak.
"Hey hey, turun! menyebalkan sekali"
"Apa kamu bilang? aku menyebalkan?" Ivan menggenngam tangan Raras sekuat tenaga dan mencium daerah lehernya.
__ADS_1
Wajah Raras memerah. Bisa-bisanya dia melakukan hal memalukan seperti ini dipagi hari. Sekuat apa usaha Raras untuk melepas diri dari Ivan tetap tenaga Ivan lah yang lebih kuat.
"Ivan hentikan, Masa kamu marah karena aku bilang kamu menyebalkan! tidak seperti biasanya"
"Tapi kamu mau kan?"
Dasar kurang ajar! kenapa pula dia bisa tahu isi pikiranku ya.
Tapi, kelihatannya dia berbeda dari biasanya. Kenapa pagi ini dia terlihat bahagia ya, apakah ada sesuatu hal yang menarik?.
Seketika Raras mengingat kembali, kepergian suaminya kemarin malam. Meskipun dia tidak tahu jelas apakah hal itu yang membuatnya bisa melakukan hal ini pada Raras.
"Eh, Ivan kamu.."
Tok tok tok
Tiba-tiba suara ketukan pintu terbuka, membuat Raras memberhentikan pembicaraannya. Awalnya dia ingin menanyakan kepada Ivan hal menarik apa yang terjadi kemarin malam, tapi sialnya ada saja yang mengganggu.
Begitu juga Ivan, sudah tau ada orang yang mengetuk pintu, tapi dia tetap memeluk dan mencium leher Raras bahkan menggigitnya.
"Ivan, ada orang datang!"
Daniel memasuki ruangan, begitu melihat kondisi dia tetap masuk saja kedalam dengan tidak tahu malunya.
"Maaf mengganggu tuan, pak Michael datang mencari anda pagi ini. Dia ingin membicarakan tentang pertemuan untuk bersenang-senang"
Seketika Ivan langsung duduk dan mengarahkan pandangan kepada Daniel. Sedangkan Raras langsung mengambil selimut dan membungkus diri dengan selimut itu.
"Katakan kepadanya aku tidak tertarik untuk bersenang-senang dengannya. Jika dia memaksa, bilang aku sedang sibuk" Dia berjalan untuk mengambil setelan jas yang berada dilemari.
"Baiklah, maaf sudah mengganggu kesenangan tuan dan nyonya"
Karena situasi yang barusan terjadi, Raras kehilangan kata-kata untuk membicarakan mengenai tingkah Ivan pagi ini.
Dia keluar dari selimutnya, merapikan tempat tidur dan bergegas untuk pergi ketoilet. Sedangkan Ivan sibuk untuk melilitkan dasinya.
"Kamu mau aku yang masak nggak?" Tawar Raras. Dia memberhentikan langkahnya demi menanyakan pertanyaan itu.
__ADS_1
"Pasti kemarin kamu suka kan sama masakan aku"
Ivan menoleh sekejap"Lebih enak masakan pelayan"
Raras sudah tahu sudah pasti itu adalah sebuah candaan. Setiap Raras yang memasak makanan buat Ivan, pria itu selalu melahapnya tanpa tersisa.
Benar-benar menyebalkan! tinggal jujur aja susah amat.
"Sini, kemarilah" Ivan menjulurkan tangannya kearah Raras. Agar wanita itu mau mengikuti arahan yang telah diberikan.
Mengingat kejadian yang terjadi barusan, membuat Raras berpikir buruk ssbelum bertindak.
"Nggak mau ah, ntar kamu isengin aku lagi!" Wajahnya yang cemberut benar-benar imut, sampai-sampai Ivan tidak tahan untuk mencium bibirnya.
Raras melipat kedua tangannya dan memalingkan wajah, yang tadinya dia mau pergi kekamar mandi malah ketahan oleh Ivan.
"Oh, padahal tadi aku mau cium selamat pagi. Karena kamu gak mau yaudah deh" Ucapnya plin plan.
Cih, dia benar-benar tau kalau aku suka dicium. Tapi, masa aku harus datang kedia sama kayak kemarin malam sih. Mengingat hal yang terjadi tadi malam benar-benar memalukan! seorang kampungan kayak aku bisa-bisanya dapat suami yang tampan kayak gini.
Ketika Ivan membalikkan badan, Raras menahan tangannya. Oh Tuhan, ini benar- benar memalukan! bahkan seluruh badan Raras gemetaran.
"Kalau kamu memaksa, aku mau"
Ivan tersenyum tipis melihat tingkahnya Raras, begitu juga Raras. Pagi-pagi gini dia udah mendapatkan perhatian dari Ivan adalah sebuah keuntungan besar.
Sewaktu kemarin malam Raras mengatakan yang sejujurnya tentang perasaannya kepada Ivan, membuat hati dan pikiran tenang.
"Jarang sekali aku melihat tingkahmu yang seperti ini. Apakah sewaktu kamu pacaran dengan mantanmu yang dulu kamu melakukan hal ini juga?"
"Kenapa kamu sebut-sebut mantan aku. Meskipun aku udah lama banget pacaran sama dia, aku nggak pernah ciuman sama dia. Paling cuman pegangan tangan" Kembali dia mengingat kembali masa-masa dia berpacaran dengan Reynald.
Jika diingat-ingat itu adalah kenangan yang paling buruk didalam hidup Raras. Bahkan lebih buruk lagi daripada awal dia bertemu dengan Ivan yang kejam.
"Kalau kamu.." Kata-kata itu dengan plin plan diucapkan oleh Raras. Awalnya dia hanya main-main saja tapi dianggap serius oleh Ivan
"Kamu punya mantan nggak?"
__ADS_1
BERSAMBUNG