Terpaksa Nikahi Bos Sombong

Terpaksa Nikahi Bos Sombong
Bab 59


__ADS_3

Raras tidak tahan melihat wajah Ivan yang sedang tertidur.


Kenapa wajahnya bisa begitu? meskipun dia sedang tertidur.


Entah kenapa dia mau mendekatkan wajahnya kearah wajah Ivan. Dia ingin mencium suaminya, tapi takut ketahuan dan jika ketahuan itu adalah masalah besar.


Percayalah, jantung Raras berdegub kencang dan tubuhnya penuh keringat.


Akhirnya berhasil, meskipun dia tidak mencium bibir Ivan. Awalnya Raras hanya ingin mendekatkan wajahnya, tapi karena nafas Ivan terasa hangan dia tidak tahan. Sewaktu bibir Raras mengenai pipih Ivan, Pria itu membuka matanya.


Seketika Raras tersipu malu, pipinya memerah seperti buah persik. Raras menjauhkan diri dari Ivan, tapi pria itu menarik tangannya hingga tubuhnya berada diatas tubuh Ivan.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Raras


"Kau duluan yang menggodaku" Kata Ivan dengan wajah liciknya.


"Dasar! lepaskan tanganku, aku mau tidur" Teriak Raras


"Cium aku dulu" Ivan menunjukkan bibirnya menggunakan jari telunjuk.


"Tadi kan sudah"


"Yang tadi belum berasa"


"Jawaban macam apa itu?"


"Jika kau masih diam saja aku tidak akan melepaskanmu!" Ancam Ivan


"Apa? kau curang!"


Ivan hanya diam saja dan menatap mata Raras. Sedangkan wanita itu membuang muka, dia sangat sebal jika Ivan berbuat ulah yang aneh. Dia sangat tidak suka jika ada orang yang mempermainkannya seperti ini, tapi karena sudah sering dipermainkan oleh Ivan dirinya merasa terbiasa.


Akhirnya Raras memutuskan untuk mendekatkan dirinya kedepan wajah Ivan, pria itu tidak sabar menunggu.


Bagaimana caranya ya? aku tidak tahu! Sudahlah asalan saja Batin Raras


Belum sampai kebibir Ivan, dia sudah mencondongkan bibirnya tapi tidak mengenai bibir Ivan. Wajah Raras benar-benar membuat Ivan tersenyum konyol.


Dia menarik kepala Raras hingga bibir mereka bersentuhan. Wanita itu memejamkan matanya dan merasakan kehangatan nafas Ivan. Entah kenapa Ivan merasa bibir Raras sangat lembut hingga membuatnya geram meskipun dirinya sedang sakit. Sanking geramnya, Ivan menggigit bibir istrinya hingga menimbulkan darah kental.


Raras kesakitan dan mencoba untuk melepaskan diri dari Ivan.


Apa yang dilakukan pria ini? Batinnya


"Apa yang kau lakukan?" Raras menyentuh bibirnya yang ternodai darah.


Ivan tidak bisa menjawab, entah kenapa pertanyaannya yang satu ini bisa membuat dirinya terdiam dan tidak mengeluarkan kata-kata.

__ADS_1


Raras mengelap darah itu menggunakan piyama.


"Aku sangat lelah" Ivan menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang itu dan menutup matanya.


Sudahlah, lupakan saja. Mungkin dia yang terlalu lelah! Batin Raras


Raras berjalan untuk mematikan lampu, setelah dia pastikan lampunya sudah mati Raras kembali naik keatas ranjang kemudian menutup tubuh Ivan menggunakan selimut begitu juga dirinya meniduri tubuhnya diatas ranjang kemudian menarik selimut dan tertidur.


-


Dipagi hari yang cerah ini, Raras mengecek suhu tubuh Ivan menggunakan termometer. Setelah termometernya bunyi, Raras mengambil dan melihat suhu tubuh Ivan semakin parah, yaitu 39,4 derajat.


"Kenapa malah tambah parah? bukannya kemarin baik-baik saja?... apa karena kemarin aku memijitnya?" Tanya Raras dalam hati


"Ahh itu tidak mungkin, aku tidak ingin membiarkan dia yang seperti ini!"


Raras meletakkan termometer itu dimeja kecil samping ranjang. Dia pergi keluar ruangan menuju dapur, Raras ingin memasak bubur agar tubuh Ivan lebih enakan dan bisa beraktivitas secepatnya.


"Nyonya sedang membuat apa?" Tanya salah satu Pelayan dibagian dapur


Raras menoleh dan menjawab:"Aku sedang membuat bubur untuk Ivan, kemarin malam dia sakit dan pagi ini keadaannya semakin parah" Keluhnya


"Kenapa bisa?"


"Bibi, aku ingin bertanya. Sewaktu tuan kalian sakit, apa yang kalian berikan padanya supaya pulih kembali?" Tanya Raras


"Kenapa bisa Ivan tidak pulang?"


"Saya tidak tahu nyonya, mungkin karena dulu tuan Ivan mempunyai banyak wanita diluar sana dan tuan selalu bersenang-senang dengan mereka demi menutupi kesedihannya"


Seketika wajah Raras berubah drastis, tubuhnya gemetaran.


"Bersenang senang?. Bi, aku ini termasuk wanitanya yang keberapa?" Tanya Raras


"Maaf nyonya membuatmu sedih, jangan menganggap dirimu sama seperti wanita lainnya. Kau adalah perempuan yang hebat" Pelayan mengacungkan jempolnya berusaha untuk membuat hati Raras pulih kembali.


Aku ingin menanyakan suatu hal pada Bibi. Tapi, bibi pasti tidak akan tahu apa jawabannya. Apa Ivan masih perjaka disaat kami pertama kali melakukannya? Membuatku kecewa saja! Raras mengepalkan tangannya.


"Ini" Raras memberikan semangkuk bubur dan segelas air hangat ketangan Pelayan dapur.


"A..apa maksudnya nyonya?" Tanya pelayan heran


"Tolong berikan itu pada Ivan, jika dia menanyakanku katakan saja aku sedang bekerja" Raras berjalan meninggalkan ruangan.


"Tapi nyonya... aku tidak bisa melakukan hal ini." Pelayan itu berusaha mengejar langkah kaki Raras.


"Bibi lakukan saja yang telah kuperintahkan" Akhirnya pelayan itu tidak mengikutinya lagi.

__ADS_1


"Apa yang telah kau katakan pada nyonya?" Tanya Arin yang merupakan pelayan bagian bersih².


"Aku sudah menyakiti hatinya" Pelayan itu merasa bersalah, ingin sekali dia memukul bibirnya hingga menimbulkan darah. Itu adalah tanda agar dia puas dan tidak akan berkata hal yang sembarangan.


"Tidak usah dipikirkan. Tapi kenapa kau mengatakan hal itu? tugas kita hanya melayani mereka" Arin pergi meninggalkannya.


Bu Dinda yang merupakan pelayan bagian dapur itu berjalan menaiki anak tangga satu persatu. Dia sudah menyiapkan diri untuk dimarahi oleh tuannya.


Bu Dinda mengetuk pintu kamar.


"Permisi" Bu Dinda masuk kedalam ruangan


"Tuan Ivan, ini buburmu" Dia meletakkannya dimeja samping ranjang.


Disana, Ivan sedang memakai baju jasnya.


"Mana Raras?" Tanyanya


"Nyo..nyonya, dia sudah pergi bekerja!" Kata Bu Dinda dengan sangat gugup.


"Kenapa wajahmu gugup gitu?"


"Tidak. Ngomong², tuan Ivan mau pergi kemana?"


"Kantor" Ivan mengambil bubur itu dan duduk diatas ranjang.


"Tapi, anda masih sakit. Bagaimana jika.."


"Bekerja lebih penting" Ivan mengambil bubur memakai sendok dan memasukkan kedalam mulutnya.


Bagaimana ini, apa yang harus kukatakan padanya..


Bu Dinda merasa bersalah atas perlakuannya dengan Raras tadi. Dia memutuskan untuk menjelaskan semuanya, tapi dirinya masih gugup. Tidak terpikirkan olehnya bagaimana wajah Ivan nanti jika mengetahui hal itu.


"Tuan Ivan saya ingin memberikan sesuatu padamu"


"Maaf, kesalahan saya telah mengatakan hal yang membuat nyonya Raras sakit hati"


Lanjutnya


"Apa maksud perkataanmu?" Tanya Ivan


"Tadi aku mengatakan hal yang menyakiti hati nyonya. Aku bilang... sebelum tuan mengenal Nyonya tuan tidak pernah pulang dan aku mengatakan sesuatu hal yang buruk tentang anda"


Ivan begitu mendengar perkataan Bu Dinda sangat emosi. Dia membantingkan semangkuk bubur yang masih tersisa setengah kelantai hingga mangkuknya pecah dan isinya berhamburan.


"Tu..tuan Ivan, maafkan aku" Bu Dinda menundukkan kepalanya

__ADS_1


__ADS_2