
Setelah Cindy mendorong kuat Raras, wanita itu jatuh tersungkur.
Kepalanya membentur dinding cukup kuat hingga tubuhnya sedikit lemas.
Walaupun begitu pandangannya masih jelas.
Ia memegang perlahan kepalanya yang sakit dan berteriak kecil.
"Sudah tau arti takut? mana keberanianmu
tunjukkan padaku?"
"Aku tidak pernah mencari masalah padamu.
sebelum hal buruk terjadi denganmu,
mendingan kau pergi dari sini"
Walaupun ia sudah disiksa oleh Cindy,tetap saja masih mengutamakan perempuan tidak tau diri itu.
"Hah? hal buruk? hahaha kau pikir seperti
film Cinderella dengan mudah seorang
pangeran menyelamatkan gadis cantik"
Kata Cindy mengejek
"Ada apa ini ribut-ribut?"
Tiba -tiba saja asisten Daniel datang dari belakang.
Semua orang yang mendengar suaranya langsung menoleh lebelakang.
Wajah mereka yang tadinya sok pahlawan kini berubah menjadi bocah ingusan.
"Pak Daniel? kami sedang memberi
pelajaran pada wanita tidak tau diri. tenang
saja kami akan membantumu untuk
menghajarnya"
Ucap salah satu rekan kerja yang berada dalam masalah
"Siapa ?" Tanya Daniel
"O...oh itu ada orang yang"
__ADS_1
Daniel mengernyitkan dahinya, tidak mengerti apa yang dibicarakan.
"Kalau tidak mau memberitahukan aku saja
yang lihat"
Ketika Daniel ingin berjalan mendekat, Cindy menghalangi jalan.
"Pak Daniel,jangan kesana"
"Lepaskan tangan kotormu itu" Kata Daniel sambil menghempiskan tangan Cindy yang tertuju kearah lengan.
Pria itu semakin dekat menuju Raras berada.
Karena Raras menundukkan kepala dan rambutnya menutupi wajah Daniel tidak terlalu tau siapa wanita itu.
"Matilah aku" Gumam Cindy sambil keringat dingin
Ketika Daniel menyentuh rambut Raras dan menaruhnya dibelakang telinga.
Ia mengangkat dagu Raras melihat wajahnya ia terkejut setengah mati.
"Apa yang kalian laukan padanya?"
Tanya Daniel dengan sangat dingin.
"I..itu semua ide nya Cindy pak"
menyuruhku untuk mempermalukannya"
"Cindy,dasar perempuan licik!" Kata rekan kerja yang mendorong tubuh Raras
Kembali Daniel berdiri dan menghadapkan tubuhnya kearah mereka.
"Mulai saat ini kalian dipecat !"
"Apa hak mu ngatur kami, emang kau berhak
memecat rekan kerja?" Tanya salah satu dari mereka
Sementara debat berlangsung,Raras hanya berdiam diri tidak tau apa yang ingin dia ucapkan.
Wanita itu benar-benar syok,akibat kepalanya sedikit pusing.
"Aku gak mau tau.KALIAN KELUAR DARI SINI
SEKARANG JUGA!" Pintah Daniel sembali menunjukkan pintu keluar dengan telunjuknya.
Cih,Raras sial*n liat saja kau nanti Ucap Cindy dalam hati
__ADS_1
Mereka akhirnya pergi juga,dengan cepat Daniel menghampiri Raras.
"Kau tidak apa apa kan Raras?" Tanya Daniel sambil memerhatikan wajah dan tubuh Raras.
"Tidak kok,mungkin karena aku yang terlalu
lemah" Kata Raras sambil tersenyum menatap Daniel
"Ini kenapa kepalamu memerah? ayo aku
bawain kerumah sakit"
Baru saja Daniel ingin mengangkat tubuh Raras,ia langsung menolak dengan cepat.
"Tidak perlu,aku tidak selemah yang kau
bayangkan.tolong bantu aku berdiri"
Kata Raras menjulurkan tangannya
"Baiklah,tapi kau jangan keatas dulu,tunggu
aku beli salep pereda memar baru boleh
naik."
"Eh,kenapa ?" Tanya Raras
"Tuan Ivan pasti akan memarahiku dan juga
rekan kerja yang mengerjaimu tadi. bisa-
bisa hidup mereka berakhir seperti Rose"
Perjelas Daniel
"Baiklah aku mengerti,jadi aku harus kemana
nih?"
"Keruangan ini saja" Daniel membawa Raras kesebuah ruangan kosong,tempatnya benar benar bagus.
"Ingat jangan pergi dari sini sebelum aku
datang!" Perintah Daniel
"Aku mengerti" Raras duduk di sofa yang berada diruangan itu sementara Daniel keluar ruangan menuju sebuah klinik terdekat untuk membeli salep.
Sebenarnya benturan yang ada dikepala Raras sudah mulai membaik.
__ADS_1
Tapi karena bekasnya berwarna merah muda terlihat jelas bahwa luka itu ada di dahinya.