
Raras menundukkan wajahnya dan memainkan tangannya.
"Nona, saya lihat sepanjang perjalanan kamu tidak tenang. Jangan berpesangka buruk terhadap tuan Ivan, kemarin aku menemaninya seharian dikantor. Banyak pekerjaan yang harus diurus" Daniel tersenyum agar menenangkan hati Raras.
"Baiklah, aku mengerti." Dia membuka gagang pintu mobil dan keluar dari sana.
Raras berjalan kearah rumahnya dan membuka gagang pintu.
Namun setelah dia menutup kembali pintunya, dengan sigap Ivan mendorong Raras kedinding dan menghentakkan tangan
kanannya dengan kuat, Raras sangat terkejut melihat tindakan Ivan yang secara tiba-tiba.
"Ada apa denganmu hari ini, katakanlah" Menatap dengan serius mata Raras.
"Apa yang aku pikirkan daritadi, seharusnya kamu tahu kan" Melirik kesamping dengan suara yang lusuh.
Raras memegang kedua tangan Ivan dan menatapnya kembali.
"Ivan, hal yang terjadi kemarin. Kamu bisa jelasin nggak? apa kamu mencintai wanita itu?"
"Apa kau benar-benar mau tahu?"
"Tentu saja!" Jawabnya dengan cepat. Ini bukanlah saat yang tepat untuk berbohong akan perasaan. Dia tidak bisa menahan diri untuk menahan dan berpesangka buruk dengan apa yang terjadi.
Ivan mendekatkan wajahnya ketelinga Raras"Kamu nggak perlu ikut campur" Ucapnya pelan.
Ia mengepal tangannya dengan kuat.
"Kenapa kamu harus mempermainkanku seperti ini, seharusnya kamu bilang dari awal jika kamu tidak ingin memberitahukannya" Terlihat wajah Raras yang menyeramkan, sudah lelah dipermainkan seperti ini.
Bagaimanapun dia berhasil membuat wajahnya merah tersipu malu, dan juga jantungnya tidak berhenti untuk berdetak kencang hanya untuk menunggu jawaban darinya.
"Karena itu mengasikkan" Senyuman licik itu keluarga lagi, membuat Raras ingin memukul wajahnya sekuat tenaga.
"Huh, kamu membuatku lelah. Seharusnya aku tidak membuang-buang waktu dengan orang seperti dirimu, benar-benar menyebalkan!" Raras mendorong tubuh kekar Ivan agar menjauh darinya, dia melangkah maju dan menaiki tangga satu persatu dengan hentakan yang kuat.
Begitu sampai dikamar, dia membanting pintu untuk menutupnya. Hal yang dia anggap serius dianggap remeh oleh Ivan. Bagaimana mungkin dia tidak marah?.
Raras mencoba agar dirinya tidak memikirkan hal yang tadi. Dia mencoba untuk menenangkan pikirannya yang amburadul itu. Menyiapkan air hangat untuk mandi, kemudian Raras membuka seluruh pakaiannya untuk pergi mandi.
Mungkin jika dia membasuh seluruh tubuhnya dengan air hangat akan merasakan ketenangan. Pikirannya sangat kacau.
__ADS_1
Sepertinya Ivan merahasiakan identitas wanita cantik yang disampingnya itu.
Bagaimanapun aku harus mencari informasi tentang wanita itu, aku tidak ingin pikiranku terganggu karena masalah ini.
Sewaktu Raras hendak mengambil sabun cair, tiba-tiba pintu terbuka lebar. Raras dengan sigap melihat dan terkejut.
"Sayang, mandi bareng yuk" Sosok Ivan yang hanya menggunakan handuk kecil yang dia kaitkan dipinggangnya dan menampakkan senyum menggoda.
Melihat keberadaan Ivan secara mendadak membuat dia menutupi seluruh tubuhnya dengan cara menenggelamkan diair.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanpa mendapatkan izin dari Raras, dia asal masuk dan membuka handuknya.
Raras yang menyadari bahwa hal itu akan terjadi siap siaga menutup kedua matanya.
Pria ini benar-benar tidak mengenal malu!, aku tidak mengerti apa yang ada dipikirannya saat ini.
Dia melangkah maju membuat jantung Raras berdegub kencang. Senyum liciknya membuat Raras tidak terkontrolkan, sekujur tubuhnya melemah dan bergetar.
"Kyaa, pergi sana! dasar manusia cabul!" Teriaknya sambil mencipratkan air kearah Ivan.
Dengan cepat, ia masuk kedalam dan duduk disamping Raras.
Dia menarik dagu Raras kearahnya yang sedang menutup kedua matanya.
"Sayang, suamimu ini emang pria cabul. Apa itu masalah?" Membisikkan ditelinganya kemudian menghembuskan nafasnya dengan pelan membuat Raras merasakan dengan nikmat namun tubuhnya masih gemetaran.
Bukan saatnya untuk senang, ini adalah malapetaka baginya.
"Sayang, kenapa masih diam saja? apa kamu nggak senang aku ada disini?"
"Ti.. tidak, emangnya aku ada bilang begitu?" Menghempiskan tangannya dari genggaman Ivan dan menoleh kearah lain.
Beberapa waktu berlalu dia tidak mengerti apa yang barusan dia katakan, tapi setelah dia mencerna kata itu dengan baik, wajahnya memerah padam dan langsung menoleh Ivan dengan sangat cepat.
"Eh, maksudku bukan begitu. Aku tidak ada bilang kamu boleh disini lho.." Meyakinkan bahwa tidak ada yang salah dengan perkataannya barusan.
Ivan tersenyum dan segera menutup mulut Raras.
"Gosok punggungku" Melemparkan sabun kearah Raras dan membalikkan badannya. Raras menangkap kembali dan masih belum berhenti memikirkan sesuatu.
Tak lama kemudian dia mulai menjulurkan sabun kepunggung Ivan, meskipun dia masih agak ragu untuk melakukannya.
__ADS_1
Bagaimanapun meskipun mereka telah menikah cukup lama tidak memungkinkan bahwa mereka selalu bersama.
Ivan dan Raras adalah orang yang sibuk. Mereka selalu bekerja paruh waktu dan masih banyak hal yang harus mereka lakukan.
Entah mengapa berdua seperti ini meskipun terkesan sederhana sangat mengasikkan, Raras mulai menggosokkan punggung Ivan dan mulai tersenyum tipis.
Melihat sosok punggung suaminya yang putih bersih dan melihat ia berjalan saat memasuki kamar mandi sangat dihargai dirinya.
Raras tahu, tindakan ini sudah jelas untuk menghibur dirinya yang sedang patah hati.
Meskipun dia tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya terhadap apa yang terjadi dengannya dan perempuan itu dia mampu menciptakan hal baru yang bisa menyenangkan tanpa melakukan hal dasar.
Ivan menoleh kebelakang, menatap wajah Raras yang sedang berusaha keras dan tersenyum manis. Melihatnya tersenyum entah kenapa dia juga ikut tersenyum.
Beberapa selang waktu, Raras sadar bahwa Ivan daritadi memperhatikannya.
Mengetahui hal itu terjadi, dia berhenti tersenyum dan melakukan tugasnya dengan baik.
"Mengapa kamu menatapku seperti Itu?" Dia tidak bisa konsentrasi jika ditatap seperti itu. Tatapan mata Ivan membuatnya merinding.
"Aku hanya menatapmu yang menahan untuk tidak menggigitku" Raras memberhentikan gerakannya.
"Apa maksudmu? aku tidak berniat untuk menggigitmu kamu jangan salah paham. Meskipun tubuhmu bagus aku tidak pernah berniat untuk melakukan hal kotor sama seperti yang kamu lakukan padaku!" Ucapnya dengan serius tanpa memperhatikan wajah Ivan.
"Benarkah? tapi wajahmu sepertinya menginginkannya" Wajah Ivan memerah, tergesa-gesa dia menyiram punggung Ivan dengan air tanpa mempedulikan sedikitpun ucapan dari Ivan.
"Perkataanku ada benarnya juga ya"
"Sayang, aku tidak suka melihat wanitaku menahan diri seperti itu lho"
Jantung Raras berdegub kencang, tidak terpikirkan bahwa ekspresinya bisa dibaca oleh Ivan dengan mudahnya.
Pria ini kenapa selalu membuatku malu seperti ini. Siapa juga yang mau menggigitnya, dia pikir aku ini anjing?
"Huh, aku tidak akan melakukan hal kotor seperti itu"
Dengan sigap Ivan membalikkan badannya dan memeganh dagu Raras.
"Benarkah? sayang, kalau kamu tidak melakukan hal itu aku akan memakanmu malam ini" Dengan wajah kejamnya ia perlihatkan membuat Raras takut.
Dia mendekatkan wajahnya terhadap lehernya, dengan wajah memerah dia terpaksa melakukan hal itu.
__ADS_1
"Anak baik" Mengelus kepala Raras.
BERSAMBUNG