
Sementara itu, ditoko Raras beserta Cici dan karyawan lainnya sedang duduk bersantai sambil bercerita tentang hal-hal yang menarik.
Berhubung toko pakaian ini sedang tidak ada pengunjungnya, ini adalah kesempatan bagi mereka untuk dekat dengan Raras dan berteman baik dengannya.
Tidak ada salahnya jika seorang karyawan ingin mempunyai hubungan baik dengan seorang bos, bukan berarti mereka ingin menjilat.
"Nona nona, boleh ceritain kekami gak, ciri-ciri suaminya nona" Tanya Adel, salah satu karyawan bagian kasir.
"Hmm bagaimana yah jelasinnya"
"Ternyata nona masih belum kenal betul yah sama suami"
"Haha, kamu benar! Kami baru menikah satu bulan dan hubungan kami baru dimulai kemarin" Ucap Raras dengan penuh bangga.
"Wah, ternyata selama ini nona masih belum berhubungan baik ya dengan suami. Aku penasaran banget loh gimana sifat suami nona, karena nona yang baik dan ramah begini udah pasti dicintai sama suami kan?. Kalo suami nona berperilaku buruk akan kutonjok wajahnya!" Adel yang semula duduk diam dan tenang berdiri dari tempat duduk dan mengepalkan tangannya dengan kuat kemudian memasang tatapan pembunuhan.
"Aku setuju denganmu, sangat jarang ada seorang bos seramah nona. Selama aku bekerja bertahun-tahun, baru kali ini bertemu dengan seorang bos yang ramah dan sopan" Sahut Cici yang merupakan manejer ditoko ini.
"Sebenarnya ini memang sudah tugasku kan membuat kalian nyaman bekerja disini. Aku juga tidak ingin membuat kalian tertekan bekerja disini" Raras menampilkan senyum manis dan meminum teh hangat yang barusan dibuat oleh karyawan.
"Ngomong-ngomong, tentang sikapnya sangat berbanding terbalik denganku sih" Belum saja Raras menyelesaikan perkataannya, Adel sudah memotong pembicaraan dengan penuh ambisi. Baginya, Raras dianggap sebagai saudaranya. Jika ada yang berani mengusik Raras, retak ginjalnya!.
"Kamu tenang dulu, tenang dulu. Kalau gak nyantai nona Raras gak bisa cerita lho" Cici yang sedang menyimak terganggu dengan tingkah Adel yang langsung bersemangat untuk ngoceh.
" Benar tuh benar" Dibalas anggukan oleh karyawan lain.
"Maaf nona, lanjutin"
__ADS_1
"Sepertinya tidak ada yang perlu dilanjut, tapi sifatnya yang paling aku nggak suka adalah terlalu egois, Pria yang egois seperti itu sebenarnya bukan tipeku, tapi karena banyak kelebihan yang dia punya jadinya aku nggak terlalu memikirkannya" Wajah Raras tampak merah merona.
Duh sial, saking keasyikannya ngobrol sampai lupa kalau status kami cuman kontrak. Semoga mereka tidak tahu siapa pria yang kumaksud, jika tidak bisa gawat.
Sebenarnya dia tidak egois sama sekali sih, aku cuman menambah-nambah cerita biar mereka senang.
"Kelebihannya, seperti buas diranjang" Perkataan yang dilontarkan Cici secara terang-terangan membuat Raras terkejut hingga air yang dia minum terciprat membasahi baju dan sekitar.
"Wah wah, maaf nona telah membuatmu terlekut." Cici panik merasa tidak enak telah mengatakan hal tadi. Terburu-buru dia mengambil tisu yang berada diatas meja dan mengelap baju beserta daerah mulut Raras yang masih ternodai teh.
Huh mata mereka benar-benar tajam, padahal bintik merahnya gak terlalu besar tapi dengan jelas mereka bisa melihatnya.
Pantesan dari tadi mereka melihat kearah leherku.
"Terima kasih"
Ditengah-tengah kepanikan, suara pintu masuk toko terbuka. Seorang wanita dengan elegannya masuk bersama dengan seorang pria yang terlihat tampan.
Bajunya yang seksi dapat dengan mudahnya memikat hati pria. Tubuhnya yang ramping juga tidak diragukan lagi!.
"Sepertinya toko ini lagi gak ada orang sama sekali nggak seperti biasanya"
Raras beserta orang yang berada disekitarnya langsung memandang Anna. Suaranya sangat nyaring, hentakan sepatu higheels-nya juga terdengar sangat jelas.
"Bukankah... kamu siwanita pembuat onar kemarin? Apa lagi yang ingin kamu lakukan disini?" Cici berdiri untuk meladeni pelanggan yang pernah berperilaku kasar terhadap Raras.
"Wah wah, sungguh karyawan yang baik. Tapi jangan berpesangka buruk terhadapku, aku datang untuk damai lho" Anna tersenyum dan mendatangi Raras secara terang-terangan.
__ADS_1
"Anna, sepertinya pelajaran kemarin belum puas untukmu. Sudah kukatakan kamu nggak boleh asal masuk kesini!" Perintah Raras
Anna tersenyum dan melipat kedua tangannya. Kemudian memainkan rambutnya yang tebal dan dibiarkan tergerai bebas.
"Aku datang kesini buat pamer" Dia berbalik dan menatap pria yang barusan datang bersamanya. Ternyata itu adalah Reynald, mantan dari Raras.
"Oh cuman itu, keluarlah. Kamu nggak perlu pamer juga aku nggak perduli lho, selamat ya Anna akhirnya keinginan kamu terkabul juga" Menanggapinya dengan senyuman.
Perempuan yang satu ini gak ada habis-habisnya, pacaran sama pria seperti Reynald apa yang perlu dibanggakan?
"Wah wah, sepertinya kamu salah sangka Raras. Tujuanku datang kesini bukan cuman mau pamer, tapi mengajakmu untuk datang keacara pertunangan aku dengan Reynald. Benar nggak sayang?" Dia melirik kearah Reynald yang jauh dibelakang, dari tadi dia belum membukakan suara.
Raras merasa terpukau, Reynald yang selama ini terus mengganggunya akhirnya mempunyai keputusan untuk bertunangan. Seharusnya Raras tenang, karena tidak ada lagi yang mengganggu tapi kenapa hatinya berkata lain?.
"Aku ucapkan selamat kepada kalian berdua. Tapi permintaanmu yang kedua aku nggak bisa ikut, akhir-akhir ini aku sangat sibuk jadi nggak bisa datang"
Sudah jelas-jelas si Anna datang buat pamer, padahal dulu setiap ada acara disekolah dia enngak pernah mengajakku untuk hadir. Kalaupun dia megajakku untuk hadir pasti ada rencana licik untuk menghancurkanku.
"Oh, sebenarnya kamu takut kan liat aku sama Reynald bakalan bermesra-mesraan. Pasti kamu masih nggak menerima kalau aku bertunangan dengan Reynald kan?" Karena masih tidak puas dengan jawaban Raras yang berekspresi bahwa dia tidak tertarik sama sekali, terpaksa Anna mengancamnya agar Raras ikut keacara itu.
"Banyak yang datang lho, Maya juga datang. Semua yang aku undang teman seangkatan kita dan angkatan Reynald. Pasti asyik" Lanjutnya agar meyakinkan bahwa Raras akan ikut bersama dengannya.
Susah banget ngebujuk anak ini, perlu perjuangan yang keras. Tapi emang dari dulu aku selalu memberikan kesan buruk padanya sih, makanya dia bisa berlagak seperti ini. Pikirnya.
"Bagaimana, mau datang?"
"Baiklah" Mendengar nama Naya, Raras langsung tertarik untuk ikut kesana. Untunglah wanita itu ikut, jika tidak Raras tidak tahu mau berkata apa. Kalau dia nggak datang pasti bakal diledek habis-habisan, tapi kalo dia datang juga nggak tahu mau bicara sama siapa. Untunglah ada Naya.
__ADS_1
"Nona jangan! mungkin ada maksud tersembunyi dari nona sidada besar! Ma..maafkan aku jika berlaku tidak sopan" Adel menundukkan kepalanya, maksudnya sinona dada besar adalah Anna. Dia sulit untuk mengingat nama Anna, karena wanita itu daritadi memainkan tubuhnya yang ada dipikiran Adel langsung yang lain.
"Tidak perlu khawatir del, ini cuman pertemuan biasa kok"