
Hari sudah gelap, Raras bergegas menelpon supir pribadinya untuk datang menjemput.
Setelah beberapa menit kemudian dia datang dan Raras pun membuka gagang pintu dan masuk kedalam.
Diperjalanan, Raras menyandarkan tubuhnya disandaran kursi sambil melamun. Walaupun pandangan matanya menuju kearah kaca jendela mobil.
Pak Ari yang sedang mengendarai mobil menatap kekaca spion, melihat Raras tenggelam dalam lamunannya.
"Nona, sedang memikirkan apa?" Mendengar suaranya membuat Raras kembali tersadar akan dirinya sendiri.
"Ah, tidak apa-apa kok. Aku hanya mengkhawatirkan ibu, hehe."
Pak Ari tersenyum"Emang sudah sepantasnya seorang anak mengkhawatirkan ibunya"
"Bagaimana dengan pak Ari, apa kamu juga pernah mengkhawatirkan seseorang?" Tanya Raras penasaran. Sudah sekian lama mereka berteman, sudah sepantasnya Raras penasaran dengan kehidupan pribadi supirnya. Walaupun dia bukan tipe orang yang penasaran dengan kehidupan pribadi orang.
"Ya begitulah" Wajahnya berubah dingin, Raras jadi tidak berani melanjutkan perkataannya dan mengubah topik yang menyenangkan. Hingga tidak sadar mereka telah sampai kerumah.
"Terima kasih, pak tumpangannya" Dia turun dan memasuki rumah.
Membuka sepatu dan berjalan menaiki tangga.
Begitu sampai didepan pintu kamar, Raras membuka gagang pintu Ivan sudah berada disana.
Tidak seperti biasanya, dia yang akhir-akhir ini suka lembur baru kali ini pulang cepat.
"Kamu udah pulang ya?" Ucapnya antusias.
"Kalau aku belum pulang ngapain aku ada disini?"
Baru saja pulang Raras sudah naik darah mendengar ucapannya itu. Sudahlah, karena dia adalah Ivan jadi kumaafkan!.
Raras mendekati Ivan yang sedang membaca buku sambil berbaring ditempat tidur dengan serius.
Melihat dia yang serius begitu membuatnya penasaran buku apa yang dia baca.
"Hey, kelihatannya kamu sedang sibuk ya"
"Hmm"
Tubuh Raras bergerak dengan sendirinya begitu ada Ivan didepan mata.
Akhir-akhir ini dia ingin sekali diperhatikan oleh Ivan.
Dia duduk disamping Ivan, melihat isi buku yang dibaca oleh suaminya. Kelihatannya serius banget, membuatku penasaran saja.Pikirnya.
Ivan melihat Raras disampingnya, membuatnya tidak niat untuk membaca buku itu lagi. Tidak peduli apa yang dilakukan dengan istrinya, tetap mencoba untuk fokus membaca buku.
__ADS_1
Raras menidurkan kepalanya kebahu Ivan sambil fokus kearah buku yang dipegang suaminya, tanpa melihat wajah suaminya karena malu.
Melihat Raras yang bertindak seperti itu tidak mungkin dia tinggal diam.
Menjatuhkan buku itu dari tangannya secara asalan dan menarik tangan Raras hingga terbaring diranjang.
Raras terkejut melihat tindakannya yang seperti kilat, apalagi melihat tubuh kekar Ivan berada diatas tubuhnya.
Wajahnya memerah padam, kenapa bisa dia menikahi seorang yang selalu bertindak nakal begini.
"Ivan, kamu ngapain sih" Membuang muka dan mencoba melepaskan diri dari cengkaraman Ivan.
Dia tersenyum licik dan menyentuh dagu Raras, wajah mereka hanya menyisihkan sedikit jarak."Sayang, menurutmu jika seorang istri menggoda suami yang akan suaminya lakukan?"
Perkataannya sungguh membuat Raras semakin malu.
Sialan, bagaiaman dia bisa tahu kalau aku sedang menggodanya. Tapi percayalah, aku menggodamu bukan seperti yang kamu maksud!.
"Eh, siapa yang menggodamu. Kamu terlalu kepedean!"
Semakin mendekatkan wajahnya kedepan. "Benarkah, yang duluan dekat dan sender dibahuku siapa?"
Dia menyerah, terus mengulang perkataan yang membuat Raras malu adalah keahlian Ivan.
"Baiklah baiklah, aku duluan yang menggodamu. Sekarang kamu puas kan?"
Desahan yang keluar dari mulut Raras membuat Ivan semakin bergairah. Membuatnya semakin menikmati tubuh istrinya yang benar-benar memikat.
"Su..sudah cukup. Hentikan"
"Yakin mau berhenti?"
"I..Ivan hari ini kamu kenapa, kenapa begitu kasar?." Raras menutup matanya dan semakin mencengkram selimut itu. "Ugh, kumohon berhenti"
Perkataan terakhir dari Raras membuatnya berhenti.
Barulah dia tenang dan mencoba untuk tetap dalam keadaan tenang. Menatap wajah Ivan yang diam dalam lamunannya.
Raras dengan sigap mengambil selimut dan membaluti selimut itu untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Hari ini aku lelah, aku mau tidur" Keluh Raras.
Ivan yang semula berada diatasnya berpindah kesamping Raras dan menidurkan tubuhnya keatas ranjang. Menatap langit langit kamar, tapi hanya matanya saja yang menatap kearah sana. Pikirannya melayang entah kemana.
Raras melirik kearah suaminya, memikirkan apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya.
Dia mencoba untuk mendekatkan diri dan menanyakan apa yang terjadi. Tapi, tubuhnya yang telanjang membuat Raras enggan untuk mendekat dengannya.
__ADS_1
"Kamu kenapa, apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanyanya dengan penuh perhatian.
Dia tersadar dari lamunannya dan menekan keningnya dengan kuat. Memijit otaknya agar tidak memikirkan hal yang tidak penting. Semakin dipikirkan membuat otaknya lelah.
"Ivan, kamu hari ini bekerja terlalu keras ya. Jangan memaksakan diri" Tidak sadar bahwa tubuhnya mendekat kearah Ivan, dia bersandar didada suaminya.
Melihat tindakan Raras yang blakblakan membuat Ivan tersenyum, meskipun dia tidak terlalu mendengar apa yang diucapkannya.
Mengingat kembali apa yang dikatakan oleh Ronald tadi pagi membuatnya semakin gila. Kenapa bisa hal ini terjadi padanya, kenapa dia datang diwaktu yang tidak tepat.
Dia benar-benar tidak mengerti kenapa hal ini bisa terjadi dengannya.
"Ivan, kalau kamu ada masalah langsung ceritakan padaku saja. Mungkin kamu bisa merasa lebih baik, aku juga pernah mengalami hal yang sama denganmu"
Dia mengangkat sedikit tubuhnya dan menatap wajah suaminya dengan penuh ceria.
"Cium aku" Dengan wajah datar.
Tidak percaya akan hal yang dikatakan oleh Ivan. "A.. apa, mungkin aku salah dengar"
"Cium aku" Ulangnya sambil menampangkan wajah kesal, sudah tahu didepan mata. Apanya yang salah dengar?.
Raras memundurkan tubuhnya dan bertindak aneh.
"Sepertinya kamu sudah merasa lebih baik. Jadi aku nggak perlu menghiburmu kan? selamat malam!"
Ivan kembali tersenyum dengan tingkahnya. "Kalau kamu tidak melakukannya, jangan harap bisa selamat malam ini"
Kembali mengeluarkan kepalanya dari selimut.
Oh Tuhan, apa yang dipikirkan pria ini. Tidak mungkin aku datang dan menciumnya, apa dia pikir aku mudah untuk melakukan seperyi apa yang dia lakukan padaku?
Dia menelan ludahnya dan mendekatkan dirinya kearah Ivan. Semakin medekat kearah wajah Raras dan memperhatikan seisi wajahnya yang tampan itu.
Karena gugup, mengalir keringat dari kepalanya. Dan meneteskan keringat itu kebadan Ivan yang kekar.
Semakin mendekatkan wajahnya kearah Ivan, kemudian mencium pipih sebelah kanan suaminya.
"Ma..maafkan aku. Sungguh, aku tidak sedang mempermainkanmu, percayalah" Mencoba untuk tenang dan melakukannya kembali.
Kali ini dia menutup mata agar dirinya tidak melihat wajah suaminya yang sedang menatapnya dan menunggu agar bibirnya menyentuh bibir suaminya.
Begitu dia semakin mendekatkan wajahnya, Raras bingung. Sepertinya dia sudah memajukan kepalanya, tapi kenapa tidak mengenai bibirnya sama sekali.
Sewaktu dia membuka matanya, terlihat Ivan yang membuang wajahnya.
"Ivan, kamu.. mempermainkanku lagi ya?"
__ADS_1
BERSAMBUNG