Terpaksa Nikahi Bos Sombong

Terpaksa Nikahi Bos Sombong
BAB 78


__ADS_3

Dipagi hari yang cerah, menunjukkan pukul tujuh pagi Raras terburu-buru untuk pergi kerumah ibunya. Tepat dipagi ini dia sudah berjanji kepada dokter untuk melakukan konsultasi tentang penyakit ibunya. Apakah semenjak dia pulang kerumah keadaannya baik-baik saja atau semakin memburuk.


"Sayang, mau kemana pagi-pagi begini?" Suara pintu lemari pakaian yang ditutup oleh Raras terdengar nyaring, membuat Ivan terbangun dari tidurnya.


"Maaf telah membangunkanmu. Hari ini aku ada urusan penting yang harus aku urus"


"Urusan penting apa?" Ivan penasaran apa yang disebut penting oleh Raras, sampai relain bangun dipagi hari. Padahal hari ini adalah tanggal merah.


"Ehmm..." Jika membicarakan hal yang terkait dengan ibunya, dia takut akan hal yang terjadi. Bagaimana kalau Ivan menyuruhnya untuk tidak mendekati ibu.


"Pokoknya ada urusan deh, aku pergi dulu ya!" Senyuman Raras penuh banyak arti. Sewaktu dia ingin melewati ranjang, Ivan menarik tangannya.


Perkataan Raras yang penuh rahasia tadi membuat dirinya semakin penasaran. Apalagi dia yang asal pergi saja.


"Eh, Ivan.. kamu benar-benar mau tahu urusanku ya? Padahal urusanku nggak ada yang menarik lho!" Percuma saja dia meyakinkan begitu keras, usahanya sia-sia.


"Mana tahu istriku selingkuh dengan pria lain"


"Aku nggak mungkin setega itu!" Raras hendak melepaskan tangannya dari cengkraman Ivan, namun tangannya masih ditahan.


"Sayang, ternyata kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku ya"


Saat menyentuh tangan Raras yang gemetaran membuatnya tahu akan sesuatu hal yang akan dilakukan Raras tanpa sepengetahuan Ivan.


Pasrah dengan keadaan, Raras mengaku bahwa suaminya sangat ahli dalam melihat raut wajah seseorang. Pantesan perusahaannya tidak pernah mengalami penurunan, selalu menjadi perusahaan nomor satu sejak Ivan adalah pemilik saham terbanyak.


"Huh, emang kamu pintar dalam menebak ekspresiku ya." Raras membalikkan badan


"Aku mau kerumah ibu, ingin membawa ibu konsultasi kedokter"


Raut wajah Ivan tidak berubah, dia pikir dengan membicarakan hal yang mengenai ibunya, Ivan akan marah. Nyatanya tidak.


Yang terpenting, hubungan Ivan dengan ibu tidak diketahui jelas apa yang terjadi diantara mereka.


Raras berniat untuk mencari informasi mengenai hal yang terkait dengan ibunya.


"Tuh, kamu lebih manis kalau berkata jujur"


"Aku pergi dulu ya, dadah!" Raras melepaskan tangannya, berjalan kearah pintu dan menutupnya kembali.


Didepan rumah, mobil perak milik supir pribadinya, Ari telah sampai.

__ADS_1


Dia bergegas untuk masuk kedalam.


"Maaf pak Ari, telah mengganggumu dipagi hari"


"Haha tidak perlu sungkang, ini sudah menjadi tugas saya"


"Apa nona sudah siap?" Pak Ari memutar kepalanya kebelakang, ingin memastikan Raras untuk memakai sabuk pengaman.


"Sudah, langsung pergi saja"


Tadi malam, dia menelpon ibunya untuk pergi kerumah sakit yang telah dijanjikan. Tanpa pikir panjang, ibu mengiyakan dengan senang hati.


Beberapa menit kemudian, Raras sampai kerumah sakit. "Pak Ari, kamu tunggu diluar nggak apa-apa kan?"


"Iya, nggak apa-apa. Semoga berjalan dengan baik ya"


"Terima kasih" Raras membuka gagang pintu mobil dan keluar ruangan. Didepan gedung rumah sakit, dia melihat ibunya sedang duduk dikursi yang telah disediakan sambil menelpon.


Begitu melihat wajah ibu, Raras berlari untuk menghampiri ibunya.


"Ibu.." Teriaknya. Mendengar suara Raras, dia mematikan panggilan dari ponsel dan melambaikan tangannya.


Begitu Raras berada didepan ibunya, dia memeluk ibu dengan erat.


"Kamu ngomong apa sih, yuk kita masuk" Ibu menarik tangan Raras dan membawanya masuk kedalam.


Tidak mengerti dengan perkataan ibunya barusan, Raras mencoba untuk mencerna dan memahami.


Nada suaranya bisa sesantai itu, padahal kemarin ekspresi ibu begitu mendengar putrinya berpacaran dengan pria yang baginya tidak layak, sangat mengerikan.


Mereka menuju koridor, sambil mencari ruangan yang sudah dijanjikan dengan dokter.


"Wah, Raras dan ibunya ya. Senang bertemu dengan kalian" Ucap Dokter begitu melihat ibu dan Raras didepan ruangan yang telah dijanjikan untuk melakukan konsultasi.


"Senang bertemu denganmu juga, dokter mohon bantuannya ya" Mereka berjabat tangan bergantian, kemudian dokter menyuruh mereka untuk masuk kedalam ruangan untuk mengecek apakah penyakit ibu sudah membaik atau sebaliknya.


Raras menunggu dikursi tamu dalam ruangan sementara dokter melakukan pengecekan terhadap ibu.


Beberapa menit kemudian, akhirnya selesai juga.


Raras langsung berjalan kearah dokter berada dan menanyakan hasilnya.

__ADS_1


"Dokter, bagaimana hasilnya. Apakah penyakit ibu semakin berkurang?"


"Ya, kamu tenang saja" Dokter mengelus pelan kepala Raras.


Melihat tangan dokter berada diatas kepalanya dan senyuman itu membuat Raras tidak mengerti. Tidak pernah dokter melakukan hal ini kepadanya.


"Syukurlah kalau baik-baik sajaj;j. " Dia b berjalan kearah ibunya yang berada diranjang dan memeluknya erat.


"Bu, kamu dengar kan? penyakitmu sudah sepenuhnya hilang. Akhirnya ibu bisa hidup dengan bebas"


Ibu terharu mendengar kalimat yang diucapkam anaknya, dan juga senyuman bahagia diwajah Raras tak terasa membuat ibu meneteskan air mata.


"Bu, kalau ada waktu aku ingin mengajak ibu ke pasar malam" Dia melepaskan pelukan dan menatap wajah ibu.


"Boleh, sekalian kita pergi menjumpai ayah bagaimana? sebentar lagi kan hari ulang tahun ayah?"


"Oh, iya. Hehe, bisa bisanya aku lupa. Maaf bu"


"Tidak apa-apa, lagian ibu juga baru ingat"


Sekarang dia sudah bisa hidup dengan tenang, tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa masalah yang selama ini selalu merusaki pikiran Raras telah tersingkirkan juga.


"Bu, aku ketoilet dulu ya" Dia beranjak dari tempat itu menuju ketoilet. Ibu memperhatikan langkah Raras sampai keluar ruangan dengan senyuman.


"Anakku sekarang sudah besar ya."


"Maaf bu Sity, apakah masalah ini benar-benar harus ditutupi?" Tanya dokter sedikit khawatir dengan keadaan Raras.


"Hehe dokter. Maaf telah membuatmu ikut khawatir. Tapi, ini adalah keputusanku. Semuanya adalah rencanaku, jadi nggak perlu khawatir. Aku hanya ingin Raras hidup bahagia, itu saja sudah cukup"


"Walaupun aku tidak mengerti masalah keluarga kalian tapi aku ingin menyarankan ibu untuk memberitahukan tentang penyakit ibu sebenarnya kepada Raras."


Ibu membuang nafas secara kasar, sudah beberapa kali dia meyakinkan dokter untuk merahasiakan tentang penyakit ibu sebenarnya, tapi dokter masih saja khawatir.


Meskipun dia hanyalah orang luar, yang tidak ada hubungannya dengan keluarga Raras. Dia sudah mengenal Raras sewaktu pertama kali ibunya berada dirumah sakit ini.


Dokter selalu memperhatikan, betapa tulusnya dia menjaga ibunya. Hingga rela melakukan apapun demi ibu.


Membayangkan apa yang terjadi dengan Raras disaat melihat ibunya menghembuskan nafas terkahir membuat dokter tidak ingin hal ini terjadi.


Ibu berjalan kearah dokter berada dan menepuk pundaknya dengan pelan. "Bagaimanapun aku sudah tua, umurku juga tidak lama lagi. Jangan khawatir ya dokter"

__ADS_1


BERSAMBUNG


Like dan komen


__ADS_2