Terpaksa Nikahi Bos Sombong

Terpaksa Nikahi Bos Sombong
Bab 35


__ADS_3

Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Daniel datang membawa pelastik yang berisi obat pereda memar.


"Raras,kamu nunggu lama ya ?" Tanya Daniel sambil berjalan terburu-buru kearah Raras.


"Lama banget"


Daniel mengambil obat itu dari kantung pelastik kemudian memberikannya pada Raras.


"Ini... obati lukamu sendiri" Raras menatapnya sekejap kemudian mengambil obat itu dari tangan Daniel.


Sementara Daniel duduk disamping Raras.


Ia mulai membuka tutup obat kemudian mengoles perlahan luka itu menggunakan tangan.


"Raras,musuh sudah didepan mata kenapa


gak langsung terang terangan?"


Kata Daniel sambil terkekeh


Raras tau bahwa perkataan Daniel tertuju dengan masalah yang tadi.


"Jika aku melawan si Cindy tadi,apa kau


tidak berpikir bahwa aku akan dikeroyok


sama mereka ?" Tanya Raras sambil memijit kepala perlahan yang memar


"Haha,ternyata kamu punya otak juga ya!"


Kata Daniel sambil mengacak acak rambut Raras.


"Tapi,kan kau bisa adu mulut sama mereka.


aku jamin mereka yang akan kalah sudah


tau posisinya hanya sebagai rekan tapi


mulut mereka sudah seperti mulut tetangga"


Kata Daniel dengan penuh emosi


Aku yang dipukul kok dia yang marah?


Batin Raras


"Aku hanya malas meladeni orang yang gak


penting. lagian posisiku sebagai kekasih


Ivan hanya sementara,paling-paling


sebentar lagi aku bakalan dicampakkan


benar tidak?"


"Kenapa,kau mau selamanya disamping


Ivan?" Tanya Daniel


"Bu..bukan siapa juga yang mau !"


- - -


Ivan yang lelah duduk dan bekerja tubuhnya


perlu bergerak sedikit.


Ia melihat sekeliling bahwa Raras tidak ada ditempat.


Bahkan pria itu tidak ingat jika Raras pergi


untuk menyeduh sebuah teh untuknya.


Ia angkat kaki dan turun kelantai bawah menggunakan lift untuk mencari Daniel.


Mungkin ada sesuatu yang ingin dia bicarakan.


Akhirnya sampai juga, sebenarnya ruangan tadi yang didalam berupa Raras dan Daniel adalah ruangan bersantai Daniel.


Ivan membuatnya khusus untuk asisten satu-satunya.


Ia sampai kedepan pintu,setelah membuka Ivan kaget setengah mati karena terlihat sosok Daniel dan Raras sedang berbincang- bincang dengan asyik.

__ADS_1


Daniel dan Raras begitu mendengar suara pintu dan hentakan kaki terkejut setengah mati.


"Ada apa ini ?" Tanya Ivan dingin


"I..itu, bos jangan salah paham.Tadi para


rekan kerja bodoh memukul nya hingga


memar parah.seharusnya tuan berterima


kasih padaku.


kau tenang saja aku sudah memecat mereka


semua"


Kata Daniel sambil berdiri dan berjalan kearah Ivan.


Namun Ivan menghiraukannya,matanya menuju pada Raras yang sedang duduk dan memijit kepala.


Ia segera berjalan kearah Raras berada.


"Sakit tidak ?" Kata Ivan sambil jongkok.


Raras sangat terkejut ketika mendengarkan


perkataan Ivan.


Dia pikir Ivan akan emosi sebab Raras pergi tanpa Ivan menoleh kepadanya tadi.


Emosi Ivan makin membahana ketika melihat memar yang ada didahi Raras lumayan besar.


"SIAPA YANG MEMUKULMU ?"


"Ivan kamu tenang dulu, sebenarnya aku


tidak perduli dengan perlakuannya padaku.


Dia sudah dipecat aja membuatku bangga"


Kata Raras berusaha agar Ivan tidak marah


"KAU TIDAK PERDULI TAPI AKU PEDULI!"


Ya Tuhan,apa yang telah kukatakan tadi ?


Batin Ivan


Wajah Ivan memerah dan baru kali ini ia merasakan apa yang namanya malu.


Tidak ada wanita lain membuat dirinya benar-benar jujur.


Daniel yang menyaksikan akan hal ini ikut kaget kemudian pergi dari ruangan.


Selanjutnya,ia tidak ingin menjadi nyamuk.


"Ka..kamu apa yang barusan kamu katakan?"


Tanya Raras tidak yakin


"Lupakan,aku hanya asal bicara saja. wajah


mu gak perlu sampai segitunya kan ?"


Kata Ivan sambil membuang muka. melihat wajah Raras yang penasaran akan kata yang ia ucapkan tadi malah dirinya makin menyesal telah jujur.


"Tidak , karena ini pertama kalinya aku


mendengar perkataan mu yang seperti itu.


ternyata walaupun kamu mempunyai sisi


kejam tapi masih bisa perhatian juga ya"


Kata Raras sambil tersenyum


"Kejam ? emangnya aku sekejam apa ?"


Tanya Ivan.mungkin dirinya tau bahwa ia kejam,tapi Ivan sangat penasaran di sisi mana Raras bilang perbuatannya yang kejam.


"Terutama wajahmu! setiap hari kau selalu


memasang ekspresi yang mengerikan.

__ADS_1


kemudian,sikap mu yang seenaknya


mengatur hidup orang lain"


Setelah dipikir pikir,Raras nyesal untuk mengatakan ini.


"Wajahku emang begini dan gak akan berubah.


Lagian semua yang aku inginkan bisa


kudapat dengan mudah.jadi kau gak perlu


merasa bahwa aku selalu mengatur hidupmu"


"Aku tidak merasa bahwa hidupku dikendalikan !.tapi,perkataan terakhirmu


salah, ada beberapa hal yang kamu inginkan


tapi tidak bisa kamu kendalikan sep..."


Baru saja Raras ingin melanjutkan,tapi Ivan memotongnya.


"Cinta dan Kasih Sayang bukan? aku tidak


membutuhkan dan perduli hal itu.karena


tujuanku hidup bukan untuk mendapatkan


hal itu melainkan balas dendam"


"Ba..balas dendam ?. terus kalau kamu udah


selesai balas dendam jadi tujuan mu hidup


apa?" Tanya Raras walau sedikit ragu-ragu


"Heh,menurutku hal itu akan sangat sulit


dilakukan.sebelum itu,ada sesuatu hal yang


akan kubahasa secara matang-matang


bersamamu"


Raras sangat bingung,tidak tau hal apa yang akan dibahas oleh Ivan.


Wajahnya benar-benar sangat serius menatap mata Raras.


Ivan berdiri dari tempat ia kongkok tadi dan memulaikan pembicaraan.


"Aku sangat membutuhkan istri yang tau


isi hatiku.tau kapan waktunya aku marah


atau senang"


Kata Ivan sambil menunjukkan senyum licik


"Wahh siapa itu? orang itu benar-benar


sangat hebat pasti dia adalah wanita yang


sangat beruntung!"


Kata Raras. sebenarnya ia tidak perduli akan hal ini,tapi Raras berpikir sejenak jika Ivan menikah nanti wanita itu pasti akan dilepaskannya.


Mendengar ucapan Raras, Ivan semakin tidak sabar dan menunggu ekspresinya Raras jika mengetahui bahwa ia yang akan dinikahinya.


"Karena aku gak mau pamer didepanmu.


bukannya kau pernah bilang bahwa kau


menyukaiku?" Tanya Ivan


"Haha, benar sekali Ivan! tapi jika kamu


berkehendak emang siapa yang bisa


membantah?"


Ivan menundukkan lututnya kemudian mendekatkan wajahnya kedepan Raras.


"Orang itu persis didepanku, Raras Wijaya"

__ADS_1


__ADS_2