The House 1937

The House 1937
1. Prolog


__ADS_3

Untuk sebagian orang, rumah merupakan


tempat untuk tinggal, untuk berpulang,


berkumpul bersama keluarga, untuk istirahat,


atau tempat dimana mereka tumbuh dan


berkembang menghabiskan sebagian masa


hidup mereka bersamaan dengan berbagai


kenangan yang tercipta disana, entah kenangan


baik ataupun sebaliknya.


Ada juga orang yang bilang bahwa "Rumahku


Surgaku". Ya,, beruntungnya mereka apabila


memiliki rumah dengan suasana yang tenang


dan nyaman. Yang merupakan rumah idaman


untuk banyak orang.


Namun bagaimana bila rumah yang mereka


tinggali merupakan sebuah rumah tua yang


telah berdiri cukup lama dan mereka tahu tidak


tinggal sendiri di rumah itu. Entitas tak kasat


mata berdampingan tinggal disana bagai


bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan


bendanya. Sekilas mata mereka menunjukkan


eksistensi mereka seolah secara tak langsung


ingin menyampaikan kepada manusia bahwa


mereka juga ada dan nyata adanya di dunia


fana ini. Mereka seperti tak kenal waktu untuk


'menyapa' kami entah itu siang atau malam.


Aku sebagai salah satu dari manusia yang


menjadi penghuni rumah pun tak luput dari


'mereka' yang selalu 'menyapa' diriku dengan


cara mereka.


Dan rumah ini, tak hanya sebagai tempat


tinggal semata bagiku dan keluargaku namun


juga sebagai tempat yang meninggalkan

__ADS_1


berbagai kenangan dalam hidupku karena


dirumah inilah aku tumbuh dan berkembang


menghabiskan sebagian besar hidupku,


demikian juga dengan papaku yang jauh


terlebih dahulu tinggal di rumah ini sejak lahir.


Percaya atau tidak, bahkan dalam alam


mimpiku sekalipun, aku bermimpi selalu berada


hampir di seluruh bagian rumah ini, entah di


ruang tamu, dapur, kamar tidur, di halaman,


atau di lapangan berukuran cukup luas yang


ada persis di samping halaman rumah.


Ini lah kisah ku, tinggal di rumah tua dengan


arsitektur lama yang memang begitu banyak


menyimpan kenangan bagiku. Terlebih lagi,


kenangan yang berkaitan dengan 'mereka' yang


juga kurasakan berada disana, seolah mereka


menyiratkan kalimat 'ada walau tak terlihat'


Rumah ini didirikan tahun 1937 dengan


arsitektur Tionghoa peranakan yang memang


sudah jarang ditemui di masa sekarang. Aku


ingat tahun pembuatan rumah ini karena


tergambar jelas di dinding dapur yang timbul


membentuk angka tahun tersebut dan sudah


kutanyakan sebelumnya dengan nenekku


perihal angka tahun di dinding itu.


Yang paling


aku ingat tentang rumah itu adalah kunci pintu


kamarnya yang masih manual dengan


menggunakan grendel kayu khas rumah


zaman dulu dan juga dengan lantainya yang


belum menggunakan keramik modern seperti


sekarang, masih menggunakan sejenis keramik

__ADS_1


tradisional berwarna kekuningan. Dengan


ruangan di tiap rumah yang cukup luas dan


dengan halaman yang juga tak kalah luas


dilengkapi lapangan yang biasa aku gunakan


untuk bersepeda sewaktu aku kecil.


Belum lagi


dengan bagian belakang rumah yang masih


berupa tanah kosong yang di tumbuhi banyak


tanaman-tanaman liar dan pohon-pohon seperti


pohon jambu air, pohon kelapa, dan pohon


mangga. Selain tanaman liar dan pohon-pohon,


ada juga sejenis empang yang juga cukup luas


ada disana yang banyak ditumbuhi ecengondok.


Di bagian depan tanah kosong itu juga


berdiri dua bangunan yang terlihat lusuh


dengan dua pintu dengan gembok lusuh yang sudah


berkarat. Satu pintu pertama adalah sebuah


gudang yang menyimpan peralatan-peralatan


tua, aku tahu isi dari gudang itu karena pernah


sekali aku melihat kesana ketika nenekku


sedang membuka pintu gudang itu, entah


untuk apa aku lupa soal itu.


Dan pintu yang satunya lagi adalah gudang


yang digunakan untuk menyimpan


karung-karung padi. Pada waktu itu keluarga


papa masih memiliki dan mengelola sawah


mereka sendiri, dan menyimpan padi-padi hasil


sawah mereka ke gudang itu.


Dan sekali lagi, kenangan diriku tentang rumah ini


memang tak pernah bisa aku lupakan sampai


hari ini.


__ADS_1


__ADS_2