
Untuk sebagian orang, rumah merupakan
tempat untuk tinggal, untuk berpulang,
berkumpul bersama keluarga, untuk istirahat,
atau tempat dimana mereka tumbuh dan
berkembang menghabiskan sebagian masa
hidup mereka bersamaan dengan berbagai
kenangan yang tercipta disana, entah kenangan
baik ataupun sebaliknya.
Ada juga orang yang bilang bahwa "Rumahku
Surgaku". Ya,, beruntungnya mereka apabila
memiliki rumah dengan suasana yang tenang
dan nyaman. Yang merupakan rumah idaman
untuk banyak orang.
Namun bagaimana bila rumah yang mereka
tinggali merupakan sebuah rumah tua yang
telah berdiri cukup lama dan mereka tahu tidak
tinggal sendiri di rumah itu. Entitas tak kasat
mata berdampingan tinggal disana bagai
bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan
bendanya. Sekilas mata mereka menunjukkan
eksistensi mereka seolah secara tak langsung
ingin menyampaikan kepada manusia bahwa
mereka juga ada dan nyata adanya di dunia
fana ini. Mereka seperti tak kenal waktu untuk
'menyapa' kami entah itu siang atau malam.
Aku sebagai salah satu dari manusia yang
menjadi penghuni rumah pun tak luput dari
'mereka' yang selalu 'menyapa' diriku dengan
cara mereka.
Dan rumah ini, tak hanya sebagai tempat
tinggal semata bagiku dan keluargaku namun
juga sebagai tempat yang meninggalkan
__ADS_1
berbagai kenangan dalam hidupku karena
dirumah inilah aku tumbuh dan berkembang
menghabiskan sebagian besar hidupku,
demikian juga dengan papaku yang jauh
terlebih dahulu tinggal di rumah ini sejak lahir.
Percaya atau tidak, bahkan dalam alam
mimpiku sekalipun, aku bermimpi selalu berada
hampir di seluruh bagian rumah ini, entah di
ruang tamu, dapur, kamar tidur, di halaman,
atau di lapangan berukuran cukup luas yang
ada persis di samping halaman rumah.
Ini lah kisah ku, tinggal di rumah tua dengan
arsitektur lama yang memang begitu banyak
menyimpan kenangan bagiku. Terlebih lagi,
kenangan yang berkaitan dengan 'mereka' yang
juga kurasakan berada disana, seolah mereka
menyiratkan kalimat 'ada walau tak terlihat'
Rumah ini didirikan tahun 1937 dengan
arsitektur Tionghoa peranakan yang memang
sudah jarang ditemui di masa sekarang. Aku
ingat tahun pembuatan rumah ini karena
tergambar jelas di dinding dapur yang timbul
membentuk angka tahun tersebut dan sudah
kutanyakan sebelumnya dengan nenekku
perihal angka tahun di dinding itu.
Yang paling
aku ingat tentang rumah itu adalah kunci pintu
kamarnya yang masih manual dengan
menggunakan grendel kayu khas rumah
zaman dulu dan juga dengan lantainya yang
belum menggunakan keramik modern seperti
sekarang, masih menggunakan sejenis keramik
__ADS_1
tradisional berwarna kekuningan. Dengan
ruangan di tiap rumah yang cukup luas dan
dengan halaman yang juga tak kalah luas
dilengkapi lapangan yang biasa aku gunakan
untuk bersepeda sewaktu aku kecil.
Belum lagi
dengan bagian belakang rumah yang masih
berupa tanah kosong yang di tumbuhi banyak
tanaman-tanaman liar dan pohon-pohon seperti
pohon jambu air, pohon kelapa, dan pohon
mangga. Selain tanaman liar dan pohon-pohon,
ada juga sejenis empang yang juga cukup luas
ada disana yang banyak ditumbuhi ecengondok.
Di bagian depan tanah kosong itu juga
berdiri dua bangunan yang terlihat lusuh
dengan dua pintu dengan gembok lusuh yang sudah
berkarat. Satu pintu pertama adalah sebuah
gudang yang menyimpan peralatan-peralatan
tua, aku tahu isi dari gudang itu karena pernah
sekali aku melihat kesana ketika nenekku
sedang membuka pintu gudang itu, entah
untuk apa aku lupa soal itu.
Dan pintu yang satunya lagi adalah gudang
yang digunakan untuk menyimpan
karung-karung padi. Pada waktu itu keluarga
papa masih memiliki dan mengelola sawah
mereka sendiri, dan menyimpan padi-padi hasil
sawah mereka ke gudang itu.
Dan sekali lagi, kenangan diriku tentang rumah ini
memang tak pernah bisa aku lupakan sampai
hari ini.
__ADS_1