The House 1937

The House 1937
16. Harus Permisi Dulu


__ADS_3

Rumah nenek hari ini cukup ramai di bagian dapur karena hari ini sedang ada perbaikan atap dapur yang bocor dan juga penggantian genteng yang sudah retak. Sehari sebelumnya atap dapur itu memang terlihat menyedihkan dengan lubang yang cukup besar disertai dengan potongan dan serpihan genteng yang jatuh ke lantai dapur dan juga bak besar yang ada di bagian tempat cuci piring sehingga serpihan genteng itu jadi mengotori air yang ada di bak. Hujan yang turun beberapa hari ini ternyata sanggup membuat kerusakan di atap itu dan nenekku segera memberitahukan hal ini kepada papa. Papa pun akhirnya memanggil seorang mandor tukang bangunan yang juga kenalan dari pak Tani untuk datang beserta dengan beberapa anak buahnya untuk melakukan proses perbaikan di atap itu.


Sudah sejak pagi tadi para tukang yang merupakan anak buah dari mandor itu sudah ada di dapur rumah dan hingga hampir petang ini masih saja sibuk dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Sebagian ada yang masih bekerja, namun ada juga sebagian yang beristirahat dengan memakan suguhan yang sudah disiapkan bibi seperti, aneka gorengan, lontong isi oncom, tidak lupa juga sepiring kecil cabe rawit hijau beserta kopi hitam hangat dan satu teko berisi air putih dan beberapa gelas bersih yang tersusun rapi di nampan kaleng di sebelah teko itu. Tanteku yang sesekali datang ke dapur rupanya cukup menarik perhatian beberapa tukang disana yang langsung mendapat teguran dari sang mandor dan memperingatkan mereka harus fokus dengan pekerjaannya.


Sang mandor yang cukup galak itu akhirnya berinisiatif menemui nenek dan papa untuk menginformasikan bahwa di bagian dapur itu tepatnya di bagian atapnya memang banyak memerlukan perbaikan dan penggantian genteng baru, selain karena kondisinya yang sudah tua dan lapuk, juga sangat beresiko besar karena bisa saja sewaktu-waktu genteng dapur itu jatuh dan bisa mencelakai penghuni rumah jika tidak segera dilakukan perbaikan.


"Gimana Jun?", tanya nenekku pada papa yang juga terlihat berpikir sejenak.

__ADS_1


"Di dandanin aja deh Nah semua yang rusak, kan ngeri juga kalo sampe ada genteng yang jatoh...", Papaku menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Di benerin aja pak semuanya yang bagian-bagian rusaknya..., harus beli genteng baru juga ya?", Tanya papa kepada mandor itu.


"Iya bener Koh, banyak genteng yang lapuk, berlumut, ada juga yang pecah-pecah gitu ya.., itu bisa jatoh kalo ga di ganti...", Jelas mandor itu sambil mengeluarkan sebatang rokok kretek dari saku bajunya.


******

__ADS_1


Hari sudah menjelang sore dan para tukang yang tadi melakukan pekerjaannya kini sedang duduk-duduk santai di bangku panjang yang ada di dapur dengan sajian yang baru saja bibi letakkan di atas meja yaitu, nasi putih hangat, sayur asam, ikan teri goreng kacang, tempe goreng dan juga lengkap dengan sepiring sambal terasi. Genteng-genteng baru yang tadi papa pesan sudah siap dan kini berada di bagian pojok dapur. Selesai acara menyantap makanan mereka masih berada disana sambil membereskan peralatan tukangnya dengan sesekali mengobrol dan bercanda. Salah satu dari mereka yang sedang membereskan alat tukangnya tiba-tiba merasa harus menunaikan panggilan alamnya dan karena ia merasa tak enak hati untuk menggunakan kamar mandi di rumah, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke bagian belakang rumah ini untuk menuntaskan panggilan alamnya yang sudah sangat mendesak. Ketika ia hendak keluar rumah untuk pergi ke belakang, ia sempat ditakut-takuti oleh salah satu rekannya yang berkata bahwa bagian belakang rumah ini sangat angker begitu menjelang malam, bisa saja jika sedang tidak beruntung akan melihat atau berpapasan dengan keangkeran yang ada di bagian belakang rumah ini. Ia hanya menggelengkan kepalanya sambil berlalu dan membuka pintu samping dapur dan sekilas terdengar tawa temannya yang tadi sempat menakutinya, ia sudah tidak peduli karena ingin segera menuntaskan rasa kebeletnya itu. Begitu ia sudah di bagian luar pintu samping dapur dan berjalan perlahan ke arah belakang rumah ini, ia sedikit merasa gemetar karena hawa malam ini yang terasa dingin belum lagi keadaan yang gelap gulita karena papa belum mengganti lampu bohlam yang biasanya menerangi sedikit bagian belakang rumah ini dengan cahaya kekuningan. Tukang itu melihat keadaan sekitar yang gelap gulita dan langsung menyalakan senter kecilnya yang tadi ia ambil dari perkakas tukangnya. Bagian belakang rumah yang memang masih berupa lahan kosong ini membuatnya sedikit takut, mungkin saja ada ular di sekitarnya yang tidak ketahui dan bisa melukainya. Kini sinar dari lampu senter kecil yang ada di tangannya mengarah ke gudang padi yang ia dengar dari salah satu rekannya itu bahwa gudang itu sangat angker dan beberapa pasang mata pernah menjadi saksi dari keangkeran gudang itu. Ia hanya menggelengkan kepala pelan dan segera menuntaskan panggilan alamnya itu. dan begitu ia selesai dan kembali menyalakan lampu senternya, ia sekilas tak sengaja melihat sesuatu seperti sebuah kain lusuh yang terkena sinar lampu senternya dan begitu ia arahkan kembali lampu senternya ia sangat kaget dengan penampakan yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Sesosok pocong dengan wajah pucat dan hancur di bagian hidungnya sampai-sampai hanya tulang hidungnya yang berlendir menjijikan itu yang tersisa. Kain putih yang begitu lusuh membungkus tubuhnya dan ia berdiri di dekat pohon mangga besar dekat gudang padi dengan seringai lebar dengan mata hitamnya yang kosong dan sangat menakutkan. Sontak saja ia langsung lari tunggang langgang dengan pemandangan mengerikan itu dan langsung membuka kasar pintu samping rumah dan masuk ke dapur dengan wajah pucat ketakutan. Ia hanya melihat ada bibi disana yang tengah membereskan piring-piring dan alat-alat makan kotor dengan tatapan sedikit linglung dan kini pandangannya beradu dengan bibi yang sedikit menghela napas.


"Harusnya tadi numpang-numpang dulu bang....", Jawab bibi sambil berlalu.


********


__ADS_1


__ADS_2