
Di malam hari ketika semuanya sudah berkumpul di rumah, Nenek memberitahukan baik Papa maupun Tante Alin untuk nanti berkumpul di ruang tamu setelah sesi makan malam mereka. Papa sempat bertanya kepada nenek, mengapa Chun In tidak ikut makan malam bersama mereka.
"Nah, kok Chun In tidak ikut makan malam?", Papa menatap sekilas Tante Alin yang hanya menaikkan kedua bahunya.
"Chun In Enah suruh istirahat, makan malamnya sudah di antar Bi Inah ke kamarnya, Jun. Tadi siang dia langsung keliatan lemas setelah memeriksa gudang belakang...", Nenek menunjukkan raut wajah yang cukup khawatir, sebenarnya ia merasa takut melihat Chun In yang sampai seperti itu, ia takut nanti setelah ini malah sesuatu yang tidak baik akan menimpa putra dari Babah Hwan itu. Ia ingat betul sebelum melihat masuk ke gudang itu, pemuda itu nampak baik-baik saja, berbeda jauh dengan kondisinya saat keluar dari gudang itu.
"Lemas bagaimana Nah, apa Koh Chun In sakit?", Tante Alin juga menjadi khawatir melihat ekspresi nenek yang seperti itu.
"Enah juga tidak tahu, Jun. Cuma pas tadi siang Enah tanya soal yang di gudang, dia bilang malam ini...", Nenek melihat papa yang mengangguk pelan, pertanda mengerti maksud nenek walaupun ia belum menyelesaikan kalimatnya.
Mereka bertiga akhirnya melanjutkan sesi makan malam itu tanpa berbicara sedikitpun. Papa mulai berpikir, ia menerka sepertinya ada sesuatu yang buruk telah terjadi di dalam gudang itu. Terlihat Chun In yang baru akan bicara jika semuanya sudah berkumpul di rumah. Entah apa nanti yang akan dibicarakan putra dari almarhum sahabat kakek itu, Papa hanya bisa berharap semoga Chun In bisa memberikan titik terang sesuai dengan harapannya.
Setelah sesi makan malam selesai, baik Nenek, Papa, maupun Tante Alin melangkah menuju kamar Om Toni yang di pergunakan Chun In untuk beristirahat. Nenek mengetuk pelan pintu kamar, dan terlihat Chun In dengan posisi duduk sambil bersandar di kepala ranjang, sementara Bi Inah terlihat duduk di kursi dekat kaki ranjang, Bi Inah memang sengaja menemani Chun In karena perintah Nenek untuk menemaninya. Nenek dan papa langsung melangkah masuk ke dalam kamar, sementara Tante Alin masih berdiri di ambang pintu. Hanya sesekali Tante mengintip si balik pintu di keramaian di dalam kamar itu.
"Bagaimana In?, medingan?", Nenek menarik kursi yang ada di seberang tempat tidur, lalu mengambil tempat duduk di bagian samping tempat tidur tepat di sebelah Bi Inah.
__ADS_1
"Mendingan Nah...", Chun In hanya menjawab seadanya dengan suara yang masih terdengar lemas. Ia berusaha untuk tidak terlihat gugup, setenang mungkin ia akan mencoba bercerita mengenai apa yang dialaminya tadi siang.
"Enah Bilang Engkoh langsung keliatan lemas habis memeriksa ke dalam gudang, kenapa bisa begitu Koh?, Engkoh liat apa di dalam gudang itu?", Papa bertanya seperti itu karena ia merasa yakin bahwa Chun In "melihat" sesuatu di dalam sana.
"Jadi Begini, Nah, Koh...",
Chun In menarik napas sejenak lalu mulai menceritakan dengan runut kejadian yang ia alami tadi siang. Semua orang yang ada di ruangan itu menunjukkan mimik wajah yang terlihat tidak percaya. Tante Alin yang kini sudah ada di dalam kamar dan berdiri tepat di pinggir pintu pun terlihat sangat terkejut mendengarnya. Mereka semua terutama Nenek, sangat-sangat tidak menyangka bahwa tanah yang mereka tempati sejak lama itu pernah terjadi sebuah peristiwa berdarah yang sangat mengerikan. Bi Inah pun merasa yakin bahwa yang mengganggunya sewaktu di dalam gudang juga merupakan sosok yang sama yang di ceritakan Chun In.
"Enah tidak apa-apa?", Bi Inah terlihat setengah panik melihat Nenek yang terlihat mulai terhuyung di kursinya. Papa langsung dengan sigap memegangi bahu nenek dan meminta tolong Bi Inah untuk membuatkan minuman hangat untuk semuanya, termasuk untuk Chun In. Chun In bahkan tidak bisa menolak Papa dengan ekspresi wajahnya yang teramat serius itu.
"Enah, kenapa Nah?," Papa dan Tante Alin memegangi dan menopang bahu Nenek untuk menenangkannya. Penuturan Chun In memang sangat mengejutkan. Terlampau mengejutkan sampai membuat Nenek shock seperti ini.
"Nah..., Enah istirahat di kamar aja ya Nah..., biar Koh Jun saja yang disini untuk lanjut bicara, biar Alin sama Bi Inah yang anter Enah ke kamar ya...",
Nenek hanya bisa mengangguk pelan dengan kedua mata yang sudah berair. Setelah Nenek mengatur napas dan menyeka matanya yang basah dengan kertas tisu yang diberikan oleh BI Inah, akhirnya Nenek mau untuk kembali ke kamarnya dengan di bantu oleh Tante Alin dan Bi Inah. Tante dan Bi Inah terlihat tidak tega dengan keadaan Nenek, mereka tidak mau nenek kembali mendengar lanjutan penuturan Chun In yang mungkin saja bisa membuat kondisi nenek semakin parah. Biarlah Papa saja yang kembali lanjut mendengarkan dan memikirkan solusi masalah ini bersama Chun In.
__ADS_1
"Koh, Alin ke kamar Enah ya...", Tante Alin dan Bi Inah mulai membantu memapah Nenek untuk berjalan.
"Iya Lin, hati-hati...", Papa terus memandangi Nenek yang mulai meninggalkan kamar itu. Papa lalu kembali fokus ke arah Chun In yang terlihat merasa bersalah atas kondisi Nenek yang menjadi shock seperti itu.
"Tidak perlu minta maaf Koh, harusnya saya saja yang membicarakan soal hal ini.., saya juga tidak menyangga jika Enah sampai kaget begitu mendengar ini, Saya juga tida menyangka Koh.., di tanah ini ternyata pernah terjadi pembunuhan...", Papa terlihat memucat begitu mengucapkan bagian-bagian terakhir kalimatnya. Ia berusaha tetap tenang, dan menanyakan bagaimana penyelesaian dari ini semua kepada Chun In.
"Arwah perempuan itu bilang kepada saya untuk ia menginginkan pemakaman secara layak kepadanya. Saya pikir untuk pembongkaran gudang itu harus segera dilakukan, Koh. Karena kita juga harus mencari dan menggali tanah di area gudang itu untuk mencari belulang dari arwah perempuan itu..",
"Telang perempuan itu ada di tanah belakang?",
"Lebih tepatnya di sekitar tanah di area gudang Koh, itulah yang ia sampaikan kepada saya...", Chun In kembali memijit sebelah pelipisnya, peristiwa tadi siang emang sangat mengejutkan, sekaligus menakutkan bagi dirinya.
"Begitu ya..., jadi harus secepatnya ya Koh?",
"Benar Koh, mungkin esok hari untuk prosesnya bisa mulai dilakukan, saya harap lebih cepat lebih baik...",
__ADS_1
Papa mengangguk mengerti. Lalu ia kembali menanyakan hal lain diluar masalah ini, yaitu mengenai gudang padi yang ada persisi di sebelah gudang itu.
"Jangan khawatir Koh, gudang itu tidak bermasalah, yang pernah Engkoh lihat itu adalah penghuni gudang yang memang sudah lama menempati gudang padi itu, waktu Engkoh lihat dia, itu memang hal yang tidak disengaja, hanya kebetulan...", Chun In menjelaskan dengan intonasi setenang mungkin, walau degup jantungnya berdebar dengan sangat keras.