The House 1937

The House 1937
38. Memancing di Malam Hari


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan dari warga sekitar akhirnya papa memutuskan untuk pergi ke Empang di belakang rumah untuk melihat sendiri lokasi dari kejadian naas itu. Langkah papa yang setengah berlari menuju empang itu diikuti oleh warga lainnya yang tadi berkumpul di samping rumah. Dalam langkahnya yang setengah berlari itu papa mengingat kejadian yang sama yang pernah terjadi di Empang itu, hanya saja yang tenggelam adalah seekor kambing milik warga sekitar yang tinggal tak jauh dari Empang itu. Memang seharusnya sudah dari lama empang itu papa pagari saja dengan jaro, pagar yang terbuat dari bilah-bilah bambu yang cukup tinggi dengan jumlah yang cukup banyak agar Empang itu sulit di akses orang lain. Mungkin setelah ini papa akan membicarakan niatnya yang ingin memagari Empang itu kepada nenek.


"Apa polisi sudah datang pak?", Tanya Papa kepada salah satu warga yang langkahnya sejajar dengan Papa.


"Sudah datang Koh, sekarang polisi lagi minta keterangan ke warga sekitar...", Jelas warga tadi secara singkat.


Papa kembali mempercepat langkahnya namun tetap harus hati-hati sebab jalanan menuju empang itu banyak ditumbuhi oleh rumput liat yang cukup tinggi. Langkah papa yang sudah tak jauh dari Empang itu melihat sudah banyak kerumunan warga di sekitar Empang dengan garis kuning milik polisi yang sudah di pasang mengitari area Empang itu. Warga sekitar yang melihat kedatangan papa langsung menginformasikan kepada polisi yang ada di area kejadian bahwa papalah pemilik dari area ini, dan salah seorang dari polisi itu menghampiri dan menyapa papa dengan formal.


"Selamat pagi Pak, apa betul anda pemilik dari area lahan ini?",


"Benar Pak, Lahan ini milik keluarga saya...", Jawab Papa tegas, mengabaikan beberapa warga yang memang melihat papa sebagai anak dari pemilik area ini untuk pertama kali, beberapa ada yang memuji Papa karena menurut mereka papa memiliki paras yang cukup tampan.


Di samping itu, di lokasi kejadian terlihat dua orang warga yang tengah bercakap-cakap tentang mereka yang pernah memancing di Empang ini sambil sesekali melihat Papa yang masih diinterogasi oleh polisi.


"Jadi itu ya si Engkoh yang punya rumah besar di depan itu..", Salah satu dari mereka membuka pembicaraan.


"Iya, Engkoh itu kan yang punya sawah di dekat irigasi, hampir sebagian besar....", Jawab warga satunya yang sepertinya mereka adalah teman akrab.


"Wah, kalau tidak salah Giman sama Najim kerja sama si Engkoh itu sudah lama untuk mengurus sawahnya..., dengar-dengar Si Engkoh itu galak orangnya..",


"Iya, kau tahu Udin dan Acup?, mereka pernah tertangkap basah Si Engkoh ingin mencuri entok punya Engkoh itu dan..., mereka habis kenal pukul..", ia refleks memegangi wajahnya bagaikan wajahnya sendiri yang akan kena pukul.


"Kalau Si Engkoh tahu kita pernah mancing di Empang ini gimana ya?",


"Tapi kau tahu sendiri kita mancing disana bukannya dapat ikan malah....",

__ADS_1


Mereka berdua saling bertatapan dan teringat dengan peristiwa yang pernah menimpa mereka beberapa waktu yang lalu. Walaupun peristiwa itu sudah cukup lama berlalu, namun mereka sama sekali tidak bisa melupakannya.


*******


"Kau sudah bawa lightstick untuk memancingnya?", Dasir bertanya dengan nada penasaran, takut-takut sahabatnya ini lupa lagi untuk membawa alat yang walaupun kecil namun sangat dibutuhkan untuk memancing di kegelapan itu.


"Jangan khawatir, aku sudah membelinya sampai satu kotak penuh...", Juha menunjukkan satu kotak kecil berisi lightstick yang masih baru. Dengan mematahkan bagian tengah dari lightstick itu, perlahan benda kecil itu akan memancarkan cahaya yang cukup membantu untuk memancing di malam hari. Tidak hanya benda kecil yang bisa menyala itu, di tangan mereka berdua sudah siap dengan joran yang sudah terpasang benang kenur dan kumbul, karena mereka akan memancing di malam hari, semuanya harus sudah di persiapkan untuk mempersingkat waktu.





Mereka tinggal memasang cacing umpannya saja saat mereka tiba di lokasi untuk memancing. Selain joran, mereka juga membawa korang untuk menampung ikan hasil tangkapan mereka. Korang adalah tempat untuk menampung ikan berbentuk oval atau lainnya yang terbuat dari bambu.



"Masih Jauh Sir?", Juha bertanya kepada Dasir yang memang lebih tahu akses dari Empang itu di malam hari.


"Dikit lagi Ha, tenang saja. Jangan lupa tetap harus lihat-lihat sekitar..., takut ada ular...", Dasir kembali mengingatkan. Mereka berdua terus menatap ke depan dengan sesekali menatap sekitar, untuk memastikan keamanan jalur yang mereka lalui saat ini.


Setelah beberapa lama, akhirnya mereka telah sampai di tempat tujuan mereka. Mereka mematikan senter kecil mereka dan menggantinya dengan menyalakan senter berukuran lebih besar agar mereka mendapatkan penerangan lebih optimal. Mereka kini tengah memasang satu lightstick dan umpan si joran yang mereka pegang sambil mengobrol santai, berusaha melupakan suara-suara dari binatang malam di area lahan ini seperti suara nyamuk dan jangkrik yang cukup jelas terdengar.


"Sir, kalau untuk memancing di Empang ini saja, seharusnya tidak perlu dilakukan malam-malam seperti ini...", Sejujurnya sejak awal Juha kurang setuju dengan ide Dasir untuk memancing di malam hari seperti ini, apalagi memancing di Empang yang ada di lahan dengan banyak di tumbuhi tanaman liar seperti ini.

__ADS_1


" Memancing siang-siang bisa saja sih, tapi mau bagaimana lagi Ha, memancing di waktu malam ini lebih aman dibanding siang. Soalnya, dengar-dengar yang punya lahan ini galak orangnya. Bisa habis kita kalau ketahuan memancing disini...", Dasir mengingat-ingat bahwa yang pernah ia dengar, pemilik dari lahan tempat mereka memancing ini adalah seorang pria keturunan Tionghoa yang menurut sebagian orang adalah seorang pria yang masih muda, namun galak dan tegas. Selain pemilik dari lahan ini yang terkenal galak, sebenarnya ia juga pernah mendengar bahwa area Empang dan beserta lahan kosong ini merupakan area yang cukup angker. Namun hasil tangkapan yang cukup menggiurkan, berupa ikan gabus dengan ukuran besar telah mengesampingkan ketakutan Dasir akan kabar angin mengenai area ini.


"Segalak itu ya yang punya tanah ini?", Juha menggaruk lehernya yang gatal karena nyamuk.


"Katanya Ha, katanya....Repot kan kalau sampai kita ketahuan, kalau di malam seperti ini. Mungkin bisa lumayan tangkapannya...", Dasir terkekeh.


"Benar juga ya..", mereka berdua terkekeh bersama dan langsung melemparkan kail pancing mereka.


Cukup lama mereka menunggu kail mereka bergerak, tiba-tiba kail milik Dasir sedikit bergerak, Dan laki-laki itu dengan sigap memegang jorannya untuk menarik kail pancingnya kembali. Melihat tarikan dari jorannya yang cukup kencang, mungkin saja ikan yang ia dapatkan ini adalah ikan gabus dengan ukuran yang cukup besar.


"Ha, tarikannya lumayan nih..",


"Coba Sir pelan-pelan aja nariknya, takut ikannya lepas...",


Mereka yang tengah sibuk dengan kail Dasir yang tersangkut secara sayup-sayup mendengar suara aneh. Suara aneh itu yang semula berbaur dengan suara binatang malam yang ada lambat laun mulai terdengar lebih jelas.


"Sir...,dengar tidak?, itu suara apa ya?, kok aneh...", Juha merasa sangat ganjil dengan suara aneh itu.


Dasir yang semula fokus dengan jorannya lalu terkejut dengan suara aneh itu.


"Ha, sepertinya suara ini asalnya dari Empang...", Entah mengapa tubuh Dasir merasa kaku namun ia tetap menarik jorannya perlahan, ketika tali kenur dari joran milik Dasir semakin ke arah pinggir Empang, mereka amat sangat kaget bercampur takut karena bukan ikan gabus besar yang menyangkut di kali pancing milik Dasir. Sebuah kepala dengan rambut kusut, wajah yang setengah hancur, di tambah dengan sorot mata yang sangat mengerikan,mulutnya terus bergerak-gerak tidka jelas dan rambut dari kepala mengerikan itu yang menyangkut di kail Dasir. Sontak mereka ketakutan setengah mati sambil meneriakkan doa-doa yang mereka hafal dan tanpa basa-basi langsung meninggalkan lahan Empang itu, tidak mempedulikan semua barang bawaan mereka dan mereka tinggalkan begitu saja disana. Dan pada pagi harinya mereka kembali memberanikan diri ke area Empang itu untuk mengambil kembali peralatan memancing yang mereka tinggalkan semalaman disana.


\*\*\*\*\*\*\*


"Mau Coba memancing di Empang ini lagi?", Juga tiba-tiba mengajukan pertanyaan kepada temannya itu dengan nada mengejek.

__ADS_1


"Kalau kau mau mendapatkan kepala buntung, silahkan saja...", Dasir yang mulai kesal langsung meninggalkan Juha begitu saja di belakangnya yang hanya dibalas kekehan yang cukup keras oleh Juha.


\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2