The House 1937

The House 1937
41. Kaki dan Tangan


__ADS_3

"Ini semua mau dibereskan Nah?",


"Iya Bi, saya mau kelambu, sprei dan sarung bantalnya diganti, dan bagian kolong ranjangnya juga tolong dibersihkan ya Bi...",


Nenek sedang memberikan instruksi kepada Bi Inah untuk mengganti kelambu ranjang, sprei serta sarung bantalnya. Nenek juga menunjukkan kepada Bi Inah lemari khusus tempat nenek biasa menyimpan sprei, selimut, kain sarung dan sarung bantal bersih. Nenek juga memberi tahu Bi Inah bahwa semua yang tersimpan di lemari ini adalah khusus digunakan untuk nenek saja, tanpa pernah digunakan oleh kedua anaknya.


" Bi, nanti kalau mau mencuci sarung bantal, sprei dan selimutnya itu dipisahkan dengan yang lain ya. Dan ini hanya saya saja yang pakai.., kalau sudah kering dan di setrika nanti disimpan di lemari ini ya...",


"Baik Nah, berarti Kokoh sama Cici tidak pakai yang ada di lemari ini ya Nah?",


"Benar Bi, Bibi tahu lemari yang ada di depan kamar Bibi kan?, nah itu isinya sprei, sarung bantal dan selimut yang biasa di pakai sama Dewi,Toni, Jun sama Alin. Dewi dan Toni anak saya juga, tapi mereka sudah berkeluarga dan belum datang untuk berkunjung lagi ke rumah ini. Setelah selesai mengganti semuanya, langsung ke dapur Bi untuk buat makan malam. Kalau ada yang ingin di tanyakan, saya di ruang depan Bi...", Nenek mohon diri keluar dari kamarnya untuk kembali duduk di ruang keluarga, karena ini sudah sore hampir malam, memang kebiasaan Nenek duduk di ruang keluarga untuk mulai menikmati siaran televisi. Saat ini nenek masih seorang diri saja di ruang keluarga karena Papa dan Tanteku belum pulang.


Bibi membuka lemari yang tadi nenek sebutkan lalu mengambil sprei, sarung bantal serta selimut yang diperlukan. Bi Inah yang tadi mendengar nama dari saudara papaku yang lain, ia langsung teringat dua foto pernikahan yang terpajang di dinding ruang keluarga yang ia lihat tempo hari. Mungkin nanti di saat perayaan Tahun Baru Imlek telah tiba, Bi Inah bisa bertemu di langsung dengan mereka berdua. Bi Inah langsung memulai pekerjaannya kini dengan mengangkat kelambu ranjang nenek, Bi Inah membutuhkan waktu beberapa lama untuk mengangkat kelambu itu karena ukurannya yang memang lebih besar dibandingkan ukuran kelambu di ranjangnya. Kelambu yang telah diturunkannya tadi ternyata cukup berdebu dan ia segera merapikannya dengan menggulung kelambu itu agar debunya tidak menyebar ke kamar ini. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya dengan melepas seprai dan semua sarung bantal nenek, menggantinya dengan yang baru dan juga memasang kelambu baru di ranjang itu.

__ADS_1


Ketika tengah merapikan semua selimut dan sarung bantal yang tadi ia lepaskan, penglihatannya mengarah ke bagian kolong ranjang nenek, yang terlihat botol minyak angin beserta alat penggaruk punggung nenek yang ada disana. Pasti benda itu terjatuh ketika ia membereskan ranjang ini, atau memang ada disana karena ketika sedang melakukan pekerjaannya, ia tidak mendengar ada suara benda yang jatuh. Bi Inah lalu dengan perlahan masuk ke bagian kolong ranjang nenek untuk mengambil botol minyak angin dan alat penggaruk itu, walaupun ukuran kolong ranjang ini tidak terlalu sempit ia tetap harus berhati-hati agar kepalanya tidak terbentur.


Begitu Bi Inah mengambil posisi untuk keluar dari kolong ranjang, ia melihat sepasang kaki yang ada di bagian luar kolong ranjang ini. Bi Inah memperhatikan sepasang kaki itu yang menurutnya....,sangat aneh. Sepasang kaki yang cenderung putih pucat tanpa mengenakan alas kaki dan itu jelas bukan kaki milik nenek karena ia tahu kaki nenek selalu tertutup sampai mata kaki oleh kain batik yang selalu digunakannya. Kaki Tante Alin pun tidak mungkin karena seingatnya kaki Tanteku tidak sampai berwarna pucat seperti itu. Bi Inah tidak mendengar suara apapun dari si pemilik kaki sehingga ia tidak tahu itu kaki siapa. Bi Inah sempat mengalihkan pandangannya dari kaki yang aneh itu. Yang ia tahu saat ini di rumah hanya ada dirinya dan Nenek saja yang ada di ruang keluarga. Ia kembali mengarahkan pandangannya ke kaki itu, dan ia masih saja berdiri disana. Bi Inah merasa kaki itu terlihat pucat dan kaku, seperti tidak pernah di gerakan sebelumnya. Bi Inah menarik napas dan mulai mencoba untuk bergerak dari posisinya saat ini, dengan berusaha bergerak dengan tidak menimbulkan suara sedikitpun. Baru satu langkah Bi Inah bergerak maju, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar nenek yang terbuka, refleks Bibi menengok dan terdengar suara Tante Alin memasuki kamar Nenek. Bi Inah kembali menengok ke arah kaki aneh itu.....,dan kaki itu sudah tidak ada !.


"Ci...", Bi Inah memanggil Tante sambil berusaha mempercepat gerakannya untuk keluar dari kolong ranjang Nenek.


"Loh Bi, Bi Inah sedang apa di kolong situ...?", Tante jongkok melihat ke arah Bi Inah yang masih berusaha keluar dari kolong ranjang. Tante Alin membantu Bi Inah untuk keluar dari kolong ranjang dan meraih botol minyak angin dan alat penggaruk punggung yang di pegang Bi Inah lalu menaruhnya di pinggir ranjang.


"Oh begitu Bi, saya kira apa. Ini Bi tadi saya beli nugget dua bungkus, nanti tolong di goreng setengah bungkus saja ya Bi, ini mau saya taruh di lemari es Bi..",


"Oh Iya Ci, nanti untuk makan malam ya. Tapi kok, Cici tau saya ada di sini?...",


"Iya Bi, saya tadi nanya ke Enah, sudah ya Bi, saya keluar dulu..."

__ADS_1


Tante Alin mengangguk pelan lalu mohon diri untuk keluar dari kamar nenek, sementara Bibi kembali mengalihkan dirinya ke pekerjaannya semula, Bibi memasukkan sarung bantal kotor beserta selimut ke dalam kelambu kotor itu dan menggulungnya untuk mempermudah Bibi membawanya menuju dapur. Bi Inah menarik napas yang terasa berat, menggelengkan pelan kepalanya, dan berusaha untuk tidak mengingat kembali peristiwa yang tadi di lihatnya. Ia memegang erat gulungan kelambu di tangannya, membuka pintu kamar secara perlahan lalu keluar dan menutup kembali pintu kamar nenek tanpa mengetahui sang pemilik kaki menatapnya dari arah pojok kamar dengan tatapan dingin yang kosong.


*******


Bi Inah meminum beberapa teguk air dari teko tanah liat di meja dapur setelah selesai mencuci piring dan peralatan makan lainnya yang tadi di gunakan untuk makan malam. Nenek, papa dan tanteku kini ada di ruang keluarga tengah menonton televisi. Bi Inah hanya menghela napas sambil menyeka dahinya yang cukup berkeringat dengan punggung tangannya. Apakah kejadian yang ia alami tadi si kamar nenek harus ia ceritakan?, Bi Inah merasa sedikit bimbang ketika ingin memutuskan apakah ia harus menceritakan kejadian menyeramkan itu atau sebaliknya, ia hanya diam dan tutup mulut seolah itu tidak pernah terjadi. Tetapi tetap saja, ia seperti merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, namun ia merasa serba sala. Ia ingin bercerita untuk mengurangi rasa takutnya, namun juga merasa tidak enak hati. Bi Inah memutuskan mungkin nanti ia akan menceritakan apa yang tadi ia alami, namun tidak di waktu dekat. Ia akan bercerita saat....


"Brak.....!!!!!"


Bi Inah tersentak kaget dan pandangannya langsung mengarah ke sumber suara yang sangat mengagetkan itu, suara itu sangat keras sampai Bi Inah menjatuhkan gelas yang ada di genggamannya dan kini gelas itu jatuh dan pecah berceceran di lantai. Ternyata itu suara dari pintu kamar mandi yang kini terbuka lebar. Bi Inah keheranan di tengah rasa kagetnya, pintu itu seperti sengaja di dorong dengan kuat sehingga menimbulkan suara yang mengangetkan seperti tadi. Tapi...., di dapur ini tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Bi Inah yang menunduk sambil menutup mulutnya kemudian melihat gelas yang susah pecah berceceran si lantai, berusaha menenangkan perasaannya lalu megambil sapu dan pengki untuk membersihkan sisa pecahan gelas kaca itu. Bi Inah yang berbalik ingin menyapu pecahan kaca itu tiba-tiba kembali di kaget kan dengan adanya sebuah tangan yang mengulur dari bawah meja teko tanah liat dan langsung masuk kembali ke bawah meja dengan sangat cepat. Bi Inah langsung meinggalkan sapu beserta pengki yang ia pegang, menyusul Nenek , papa, dan tante ke ruang keluarga.


Ia jadi kembali berpikir, apa ia tengah di "usir" agar tidak lagi bekerja di rumah ini oleh "mereka"?


********

__ADS_1


__ADS_2