
Setelah sesi makan malam tadi, Bi Inah hanya duduk di tepi ranjangnya dengan di temani gelas cuntang miliknya yang sudah terisi oleh air putih dan segelas teh hangat tawar yang tadi di buatnya. Teh itu masih hangat dan ia taruh persisi di samping gelas cuntangnya. Ia merasa belum mengantuk, maka dari itu ia memilih untuk duduk di tepi ranjangnya saja. Dari luar kamarnya sayup-sayup terdengar suara televisi yang menyala dan suara dari Papa atau Tante Alin yang sedang tertawa. Melihat kedua anak Nenek itu, mengingatkan Bi Inah kepada anak-anaknya yang kini tinggal di Kampung dan sampai saat ini Bi Inah belum juga kembali ke Kampung Halaman untuk melihat anak-anaknya. Terakhir kali Bi Inah melihat mereka ketika mudik di hari Raya tahun lalu, jauh sebelum ia bekerja di rumah ini. Mungkin di hari raya tahun ini, ia akan meminta ijin kepada Nenek untuk mudik sekaligus melihat anak-anaknya di kampung.
Selain mengingat anaknya, Bi Inah juga teringat akan pembicaraannya dengan Pak Tani tadi siang. BI Inah tahu bahwa laki-laki tua yang menjadi orang kepercayaannya itu tak bermaksud buruk, namun tetap saja itu menjadi beban pikiran bagi dirinya. Ia akui, selama tinggal di rumah ini Nenek memperlakukannya dengan baik, begitu juga dengan papa dan Tante Alin. Namun ia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa.....kekhawatiran Pak Tani itu MEMANG BENAR ADANYA. Rumah ini memang mengerikan, ia benar-benar tidak percaya sampai hari ini bahwa gosip miring yang selalu ia dengar mengenai rumah ini memang BENAR. Pantas banyak orang yang enggan untuk melamar pekerjaan disini setelah kepergian almarhumah Bibi pada waktu itu.
Suaminya juga sempat menanyakan Bi Inah ketika mereka sedang berkumpul di rumah, karena suaminya juga pernah mendengar soal keangkeran rumah nenek yang menurut kabar yang ia dengan memang sangat menakutkan.
"Saya tidak apa-apa Pak, selama saya bekerja disana,, mereka semua baik sama saya...",
"Bapak senang kalau ibu sudah mendapatkan majikan baru yang baik, bapak tau kalau keluarga Engkoh pemilik rumah itu memang orang baik, tapi...",
__ADS_1
"Tapi apa Pak?",
"Bapak dengan rumah keluarga itu angker...,Bapak takut ibu kenapa-kenapa jika tinggal di rumah itu...",
"Bapak tahu darimana soal itu?, Najim yang cerita?",
"Bukan Bu, bapak dengar sekilas dari orang-orang...",
Begitulah percakapan yang terjadi antara dirinya dan suaminya pada waktu itu. Pada akhirnya ia berhasil meyakinkan suaminya itu untuk tidak menghawatirkan apapun mengenai dirinya yang bekerja di rumah ini. BI Inah melirik gelas berisi teh hangat itu dan perlahan menyeruputnya. Dari luar kamarnya masih terdengar suara Papa dan Tante Alin dan terdengar sekali suara Nenek yang memarahi mereka berdua. Bi Inah keluar dari kamarnya dan berdiri di depan pintu kamarnya, kini suara dari mereka berdua terdengar makin jelas, terdengar Tante Alin meledek papa dengan setengah tertawa yang lagi-lagi mendapat teguran dari nenek. Kini perhatian Bi Inah mulai teralih dari suara Tante Alin ke lemari tua yang ada di depannya.
__ADS_1
Bi Inah terkejut melihat bayangannya sendiri dari pantulan cermin di lemari tua yang persisi ada di hadapannya. Lemari Tua ini langsung mengingatkannya akan peristiwa mengerikan tempo hari, yang membuatnya langsung menghambur ke kamar sambil membaca doa-doa seingat dirinya. Sampai-sampai di pagi harinya, Bi Inah dengan nekadnya bilang ke Papa bahwa sepertinya lemari tua ini memang harus di ganti, karena ketika Bi Inah sedang beres-beres isi lemari itu, lemari itu sedikit bergoyang dan terlihat kaki lemari itu hampir mau patah karena terlihat sudah lapuk.
"Baik Bi, mungkin saya akan membicarakan hal ini dulu sama Enah, karena mau bagaimanapun lemari ini punya Enah...",
Bi Inah kembali masuk ke kamarnya dengan membawa gelas teh yang masih terisi penuh, Bi Inah ingin menambahkan sedikit gula ke tehnya itu, mungkin sedikit rasa manis akan membuatnya jauh lebih baik. BI Inah mendorong pintu dapur dan terdengar suara berderit yang cukup menggangu pendengaran. Bi Inah memandang sekeliling dapur yang hanya diterangi oleh cahaya temaram kekuningan dari bola lampu yang menggantung di langit-langit. Dari semua ruangan yang ada di rumah ini, bagian dapur memang memerlukan banyak perbaikan, karena memang terlihat usang dan sedikit berantakan, di tambah lagi di malam hari seperti ini, hanya di terangi oleh cahaya kekuningan saja, menambah kesan seram dan sunyi bagian dapur ini.
Bi Inah memberikan setengah sendok teh ke gelas tehnya dan mengaduknya perlahan. Ia melirik piring-piring dan peralatan makan kotor sisa makan malam tadi yang belum di cucinya. Besok pagi-pagi sesegera mungkin ia akan membereskan terlebih dahulu peralatan kotor yang terlihat menyedihkan itu yang kini ada di lantai bagian tempat cuci piring. Bi Inah menyeruput kembali tehnya yang kini mulai sedikit terasa manis, Bi Inah melirik ke arah pintu gudang yang berada di sayang kanan dari arah masuk pintu dapur. Bi Inah ingat memang pintu dapur yang satu itu memang jarang sekali di buka, dan begitu pintu dapur itu terbuka, yang terlibat hanyalah lahan kosong yang di tumbuhi oleh dua pohon jambu air merah yang ukurannya tidak sebesar pohon jambu air merah yang di dekat lahan untuk menjemur padi. Hanya sesekali saja Bi Inah ke halaman rumah yang bisa di akses melalui pintu dapur itu untuk sekedar menyapu halaman rumah itu dari daun-daun jambu air yang berguguran atau buah jambu yang jatuh. Bi Inah menatap pintu dapur itu sejenak. Pintu itu terlihat lebih udang di bandingkan dengan pintu dapur yang ada di dekatnya saat ini.
Bi Inah melangkah pelan melewati pintu masuk area dapur dan kini ia sudah ada di depan pintu dapur itu. Di pintu dapur itu terdapat lubang yang berukuran tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil. Pintu itu hanya memiliki dua selot panjang sebagai pengunci pintunya. Entah mengapa, Bi Inah merasa tergelitik rasa ingin tahunya untuk mengintip keluar rumah melalui lubang pintu itu. Ia mulai berjongkok dan menaruh gelas tehnya di lantai dapur di samping dirinya. Dan mulai mengintip keluar rumah melalui pintu dapur itu. Sekilas hanya terlihat gelap dan pekat saja, mungkin Papa lupa untuk memperbaiki lampu rusak yang biasanya menyala terang kekuningan disana. Dirinya yang masih mengintip keluar tiba-tiba melihat sesuatu yang aneh. Terlihat seperti ada sesuatu yang bergerak dengan cepat di antara pohon jambu air itu dan....., terlihat sepasang cahaya berwarna merah pekat tidak jauh dari pohon jambu air itu,, seperti sepasang mata yang menyala..., terlihat sepasang cahaya itu seperti menatap langsung ke arah Bi Inah yang hanya terlihat kaku melihat apa yang ia lihat.
__ADS_1
******