
Hujan yang turun sepanjang siang hari ini hingga hari beranjak malam membuat udara di rumah ini dan sekitarnya menjadi lebih sejuk dari biasanya. Baik Nenek, Papa dan Tante kini sudah berada di kamarnya masing-masing setelah selesai makan malam beberapa menit yang lalu. Kini tinggal Bibi yang ada di dapur seorang diri setelah membereskan dan mencuci peralatan makan yang dipergunakan untuk makan malam tadi.
Ia tengah duduk di bale panjang dapur dengan segelas teh hangat yang ia seruput perlahan. Seharian ini dirinya hanya berbelanja sebentar ke pasar dan tidak pergi keluar rumah lagi sejak hujan turun tadi siang. Letak dapur ini yang memang persis dekat dengan bagian belakang rumah ini membuat suara-suara alami yang berasal dari kebun kosong itu terdengar sangat jelas seperti suara katak dan suara jangkrik yang berbunyi bersahut-sahutan. Atau banyaknya hewan dan serangga kecil yang keluar dari sarangnya karena tidak tahan dengan turunnya hujan seperti ketam atau kecoa yang menempel di dinding bagian luar rumah karena sarang mereka yang terendam air.
Bibi sedikit mengernyit melihat beberapa ketam atau yuyu, sejenis kepiting air tawar berukuran kecil berjalan miring di lantai dapur dan bibi bangun dari duduknya untuk melihat darimana ketam-ketam ini bisa masuk ke dalam dapur dan ia melihat ada celah kecil di bagian bawah pintu belakang dekat kamar mandi yang ternyata menjadi akses masuk untuk ketam-ketam ini. Sejujurnya Bibi tidak merasa terganggu dengan adanya ketam-ketam ini. Tetapi jika jumlah dari ketam yang masuk ke dapur ini terus bertambah, Bibi terpaksa harus 'menampung' mereka di bak plastik yang biasa ia pergunakan untuk mencuci pakaian. Bibi mengambil salah satu bak plastik yang berukuran cukup besar itu yang sebelumnya sudah diisi air olehnya. Dengan sigap Bibi mulai menangkap ketam-ketam yang cukup gesit itu. Ia cukup kewalahan dan jumlah ketam yang ia taruh di ember itu bisa di hitung dengan jari. Kegiatannya menangkap ketam itu rupanya diperhatikan oleh Tanteku di depan pintu masuk dapur dan mengambil ketam yang berjalan miring ke arahnya.
"Bi, ini ada Yuyu banyak banget dari mana?", Tante mengamati ketam yang ada di tangannya dengan capit dan kaki-kakinya yang bergerak-gerak.
"Itu Neng masuk dari bawah pintu belakang Deket kamar mandi, banyak banget jadi Bibi tangkap..", Bibi menunjuk bak plastiknya dan Tante langsung menaruh ketam di tangannya ke dalam bak
"Kenapa di taruh di dalam sini Bi?", Tanteku agak terheran dengan jumlah ketam yang cukup banyak di dalam bak itu.
__ADS_1
"Banyak banget Neng Yuyu yang masuk, makanya Bibi taruh dulu di bak ini, baru besok di lepas lagi ke belakang...", Bibi kembali menangkap dua ketam dan buru-buru ia masukkan ke dalam bak.
"Alin bantuin Bi tapi Alin ke kamar mandi dulu ya..", Tanteku setengah berlari menuju kamar mandi dan tidak lupa ia berhati-hati agar langkahnya tidak sampai mengenai apalagi menginjak ketam-ketam yang masih banyak berkeliaran di lantai dapur ini. Mungkin besok pagi ia akan memberitahu papa untuk menutup celah yang ada di bagian bawah pintu belakang itu agar tidak ada lagi ketam yang masuk.
Setelah urusannya di dalam kamar mandi selesai akhirnya Tanteku membantu Bibi mengumpulkan ketam-ketam itu yang kini jumlahnya telah memenuhi kapasitas dari bak itu.
"Kayanya udah ga ada lagi Bi..", Tanteku mengawasi sekitar dapur, takut-takut ada ketam yang belum tertangkap.
"Iya Neng, kayanya udah semua..",
"Iya Neng.., buat apaan juga di taruh di bak lama-lama...?", Bibi setengah tertawa.
__ADS_1
"Katanya Yuyu bisa dipake untuk menangkap tuyul itu bener ga sih Bi?,", Tanya Tanteku tiba-tiba kepada Bibi, dulu ia pernah mendengar salah satu dari temannya bahwa jika Yuyu di taruh di ember kecil atau baskom berisi air didalam rumah akan mengalihkan perhatian tuyul yang masuk sehingga ia akan lupa dengan 'tugas' yang harus ia lakukan.
"Hus.., Neng Alin malam-malam malah ngomongin itu.., Neng balik aja ke kamar ya udah malam....", Bibiku mendorong pelan Tanteku dan menyuruhnya untuk segera kembali ke kamarnya.
******
Bibi membuka matanya perlahan dan mengambil posisi duduk di ranjangnya secara perlahan, sayup-sayup suara rintik-rintik hujan diluar masih terdengar. Bibi Meraih gelas cuntangnya yang ada di samping ranjang dan ternyata hanya terisi sedikit. Untung saja Bibi menaruh kendi tanah liat yang biasa digunakan untuk menampung air minum di kamarnya.
Bibi mulai menuangkan air dari kendi ke cuntangnya dan meminum sedikit demi sedikit airnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Ditengah-tengah suara hujan yang masih turun rintik-rintik, sayup-sayup pendengaran Bibi mendengar seperti ada suara anak kecil yang sedang tertawa. Bibi cukup tersentak mendengar suara itu karena di rumah ini tidak ada anak kecil dan juga tentu ini sudah lewat tengah malam, jam setengah satu pagi, Bibi melihat waktu yang ditunjukkan jam dinding di kamarnya. Ia sedikit mengerut dan menajamkan pendengarannya.
__ADS_1
Walaupun ia susah berusia lanjut, pendengarannya masih terhitung baik untuk orang seusianya dan ia tidak mungkin salah dengar. Sayup-sayup suara itu terdengar kembali, suara tertawa anak kecil yang sangat ganjil untuk didengar di waktu dini seperti ini. Ia kemudian mengendap-endap ke arah pintu kamar dan menempelkan telinganya disana dan benar saja, suara tertawa itu memang ada dan terdengar lebih jelas. Siapa yang sekiranya berani tertawa di lewat tengah malam begini?, Bibi sedikit ragu apakah ia harus keluar kamar untuk mengecek kondisi di luar atau sebaliknya. Ia menghela napas dan akhirnya memberanikan diri untuk melihat kondisi di luar kamar. Ia membuka pintu kamarnya, dan terdengar sayup-sayup suara tertawa kecil itu berasal dari dapur. Kini Bibi sudah ada di depan pintu dapur dan terdapat celah di pintu dapur yang sudah terlihat tua itu dan Bibi mengambil posisi mengintip ke arah dapur melalui celah itu. Betapa kagetnya dia ketika tahu bahwa suara tertawa kecil itu berasal dari sosok anak-anak kecil yang kini tengah berjongkok di dekat bak plastik tempatnya menaruh ketam-ketam yang kemarin ia tangkap. Mereka memang terlihat seperti anak kecil namun dengan penampakan yang sedikit janggal, mereka hanya mengenakan sesuatu seperti ****** ***** berwarna putih, kulit putih pucat, memiliki bentuk telinga yang aneh yang meruncing di bagian atas daun telinga mereka. Mereka berjumlah tiga sosok dengan penampakan wajah mengerikan yang juga putih pucat dengan tatapan mata hitam legam keseluruhan tanpa ada kornea mata sedikitpun. Seketika Bibi ingat perkataan Tante Alin ketika mereka tengah menangkap ketam-ketam itu.
*******