
Nenek menggelengkan kepala pelan melihat isi lemari sprei yang ada di depan kamar Bi Inah. Isi lemari itu terlihat berantakan dengan terlihat tidak rapi. Terlihat juga di dalam lemari tersebut terlihat sarang laba-laba yang harus segera dibersihkan. Melihat itu, Nenek langsung menghampiri Bi Inah agar membereskan lemari tua itu.
"Bi.., nanti tolong untuk beresin lemari sprei ya Bi. Tadi saya lihat isinya agak berantakan, nanti tolong juga bersihkan sarang laba-laba yang ada di dalam lemari ya Bi, supaya Sprei dan sarung bantalnya tidak kotor...",
Nenek menghampiri Bi Inah yang sedang membereskan sisa bahan masakan yang tadi ia siapkan untuk makan siang.
"Oh baik Nah, setelah menyiapkan makan siang akan saya bereskan...", Bi Inah yang telah menyiapkan makan siang untuk para tukang, mandor dan Giman yang ada di area luar dapur ini akhirnya bergegas menuju lemari sprei yang ada persis di depan pintu kamarnya.
Lemari itu terlihat tua dengan desain jaman dulu dan warna coklat tua yang terlihat sudah usang. Terlihat kaki-kai lemari tua itu yang sudah nampak lapuk dan mungkin bisa patah kapan saja. Daun pintu lemari itu dilengkapi dengan Cermin yang hampir memenuhi daun pintu, salah satu ciri khas dari desain lemari jaman dahulu.
Bi Inah juga mengingat perintah Nenek yang mengharuskannya untuk mengganti sarung bantal serta sprei milik Papa dan Tante Alin.
Nenek terkadang sampai menggelengkan kepala yang melihat Papa dan Tante Alin yang bahkan lupa harus mengganti sprei dan sarung bantalnya sendiri secara rutin. Bi Inah telah membawa semua sarung bantal dan sprei kotor itu ke bak tempat pakaian kotor. Dan kini ia sudah berada di depan lemari tua itu dan perlahan membuka pintunya. Suara derit yang cukup kencang dari engsel pintu lemari yang sudah berkarat cukup menggangu pendengarannya yang sudah tidak muda lagi. Ia mengambil dua lembar sprei dan beberapa sarung bantal kepala dan sarung bantal guling baru untuk kamar Papa dan Tante Alin.
"Bi Inah...", Sebuah suara yang di kenal Bi Inah memanggil dirinya, suara Giman.
"Ada apa Man?", Bi Inah menghampiri Giman yang berdiri di depan pintu samping dapur.
__ADS_1
"Teko air putihnya habis Bi Inah, tolong teko air yang baru ya Bi...", Giman menunjuk bagian samping dapur.
"Oh iya Man", Bi Inah mengisi air putih dari kendi ke teko baru yang masih kosong, lalu menyerahkan teko itu ke Giman.
"Kok hari ini kamu yang jaga Man?, saya kira Najim yang jaga hari ini..",
"Iya Bi, Najim masih sibuk di rumah mengurus Ibu, keadaan ibu belum sembuh benar.."
"Begitu ya...", Mereka terlibat percakapan singkat sampai Giman kembali menuju bagian luar dapur dengan membawa teko air baru itu sementara Bi Inah kembali menuju lemari tua itu.
******
Sesi makan malam ini berjalan seperti biasanya. Si tengah makan malam, Nenek sempat menegur Papa dan Tante Alin untuk mengganti sprei dan sarung bantal milik mereka sendiri tanpa harus di suruh lagi oleh nenekku, atau harus menyuruh asisten rumah tangga untuk menggantinya. Walaupun di rumah mereka memiliki asisten rumah, Tangga, Bi Inah, Nenek tetap mengingatkan mereka untuk melakukan itu sendiri karena itu merupakan tugas rumah yang harus mereka lakukan sendiri.
"Lu berdua kan masih muda, jelas bisa ganti sprei dan sarung bantal sendiri. Kalo gua butuh bantuan buat ganti, gua buat jalan saja kadang lutut terasa sakit..",
Papa dan Tante Alin hanya terdiam sambil menyantap makan malamnya, papa hanya memasang wajah kaku sementara Tante Alin menunjukkan wajah yang sedikit kecut.
__ADS_1
"Iya Nah..", Hanya itu yang Tante Alin ucapkan dan kembali menakutkan makan malamnya.
Selesai makan malam, Papa langsung duduk di ruang tamu untuk menunggu kedatangan Giman perihal tadi siang. Sementara Tante Alin dan Nenek duduk di ruang keluarga di susul oleh Bi Inah ke ruang keluarga setelah ia selesai mencuci semua peralatan makan di dapur. Mereka menonton acara televisi seperti biasa dan tiba-tiba Bi Inah berbicara kepada Nenek mengenai Sprei dan sarung bantal itu.
"Nah, saya tidak apa-apa jika harus mengganti Sprei dan sarung bantal untuk Engkoh dan Cici...", Bi Inah berbicara setengah berbisik kepada Nenek yang hanya terlihat mengerutkan kening.
"Tidak apa-apa Bi Inah. Mereka sudah besar, harus bisa merapikan kamar sendiri, walaupun ada Bi Inah disini...", Nenek teringat bahwa sepertinya kedua anaknya itu sudah sangat terbiasa dengan adanya asisten rumah tangga di rumah ini, Nenek tidak ingin mereka menjadi pribadi yang ketergantungan dengan segala kemudahan yang ada. Ia ingin mereka bisa menjadi pribadi yang mandiri dan dimulai dengan melakukan hal kecil yang sederhana, seperti membereskan kamar dan mengganti sprei dan sarung bantal sendiri.
"Baik Nah, saya mengerti...",
Papa yang telah selesai urusannya dengan putra Pak Tani itu akhirnya bergabung dengan yang lainnya yang ada di ruang keluarga. Lalu , papa meminta tolong kepada Bi Inah untuk membuatkan dirinya teh hangat tawar untuknya.
Papa dan Tante Alin keluar dari pintu dapur dan jam menunjukkan pukul sepuluh malam, waktunya mereka beristirahat. Nenek sudah terlebih dahulu kembali ke kamarnya, sementara Papa dan Tante Alin sudah masuk ke kamarnya masing-masing setelah pergi ke kamar mandi tadi.
Bi Inah yang terakhir keluar dari dapur mengunci pintunya. Bi Inah yang berbalik dari pintu dapur, ia sempat memperhatikan lemari tua berisi sprei dan sarung bantal yang tadi siang ia bereskan. Pintu lemari tua yang sudah berkarat di bagian engselnya itu tiba-tiba berbuka perlahan-lahan dengan sendirinya. Nenek pernah memberitahu Bi Inah bahwa lemari ini tidak di kunci, hanya ditutup secara manual saja karena bagian kuncinya memang sudah lama rusak, lagi pula isi lemari ini hanya sprei, sarung bantal, dan kain kelambu saja, sehingga nenek berpikir tidak perlu untuk memperbaiki kunci dari lemari itu. Pintu lemari tua itu terus terbuka secara perlahan diiringi dengan suara derit yang cukup menggangu. Bi Inah sempat terheran melihat sesuatu asing aneh yang ada di dalam lemari, ia menutup mulutnya menahan rasa kaget dan takut secara bersamaan. Sebuah kepala tanpa tubuh dengan wajah setengah hancur mengerikan terlihat menyeringai dengan mata kemerahan yang melotot tajam ke arah Bi Inah. Kepala mengerikan itu berambut panjang berantakan tak karuan yang membuatnya terlihat semakin menakutkan.
*******
__ADS_1