
Hari ini di rumah Nenek kedatangan tamu, namun bukan Pak Tani, Giman atau siapapun yang berkaitan dengan Papa atau Nenek. Tamu itu adalah Yuliana atau yang biasa disapa Yuli atau Mamaku, ya..., Mama adalah teman dari Tante Alin sejak Sekolah Dasar yang juga satu sekolah di jenjang SMP dan SMA dan kini ia tinggal di Jakarta karena pekerjaannya. Pertemanan mereka yang sudah lama itu membuat mereka saling mengenal anggota keluarga. Mama mengenal baik Nenek dan mengenal papa juga walaupun hanya sekilas saja.
*******
Pertama kali Mama datang ke rumah ini ketika masih kelas Lima Sekolah Dasar. Pada saat itu mereka ada tugas kerja kelompok dari guru mereka untuk membuat sebuah kerajinan kesenian. Karena rumah Tante Alin yang berjarak lebih dekat dari Sekolah, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengerjakannya di rumah Tante Alin. Pertama kali Mama melihat rumah ini ia cukup berdecak kagum karena rumahnya yang memang menurutnya sangat luas di tambah lagi dengan halaman di samping kiri, samping kanan, dan lahan kosong yang ada di bagian belakang rumah.
Pada waktu itu Kakekku sudah meninggal dunia, jadi mama tidak sempat berkenalan dengan kakek, ia hanya melihat potret diri kakek saja yang tergantung di dinding ruang keluarga. Memang sekilas Tante pernah bercerita kepada mama pada waktu kakek meninggal dirinya masih sangat kecil.
*********
"Yuli kerja dimana sekarang?, papa dan mama sehat?",
Sore hari ini nenek, Tante Alin dan Mama kini tengah duduk di ruang keluarga sambil menonton acara televisi. Nenek sudah memberi tahu Bi Inah untuk menyediakan teh hangat tawar dan beberapa kue jajanan pasar yang sangat pas untuk sore hari dengan di selimuti hujan saat ini. Mama tadi sudah menyapa ramah Bi Inah DNA juga kaget karena Bibi, asisten rumah tangga yang sebelumnya sudah tida sejak beberapa bulan lalu.
"Mama papa sehat Nah, tadi titip salam buat Enah, sekarang Yuli kerja di perusahaan logistik di Jakarta Nah...",
"Jakartanya dimana, Yul?, Logistik?,"
"Di kelapa Gading Nah, itu nah buat mengirim barang ke banyak tempat...",
"Oh begitu, sudah berapa lama kerja disitu?, pantas saja susah lama ngga mampir kemari lagi...", Mereka berdua tertawa bersama.
"Iya Nah, Yuli jarang pulang soalnya, sekalinya sempet baru bisa sekarang...",
__ADS_1
Di tengah obrolan mereka bertiga Bi Inah datang membawakan tiga gelas teh hangat tawar dan sepiring aneka kue jajanan pasar yang berwarna-warni menggugah selera. Setelah mereka bertiga mengucapkan terima kasih, Bi Inah akhirnya mohon diri untuk kembali ke dapur karena tengah menyiapkan hidangan untuk makan malam nanti.
"Bi Inah sudah berapa lama disini Lin?", Mama menyeruput teh hangat tawarnya.
"Baru sebulanan Yul disini, untung saja Enah langsung dapat orang baru gantiin Bibi..",
"Oh gitu, Bibi meninggalnya karena apa Lin?, sakit?",
"Iya Neng, paru-parunya Bibi sudah lama bermasalah...",
"Begitu ya Nah...",
"Nah, kalau Yuli kapan-kapan ada waktu lagi, boleh menginap disini lagi ya?", Tante Alin bertanya sambil memegang tangan Mama yang malah terlihat kaget dengan perkataan Tante yang cukup tiba-tiba itu.
"Ya ga apa-apa Neng, kalau ada waktu, kemari saja...", Nenek tertawa melihat mama yang terlihat meringis karena merasa tak enak hati, walaupun itu Tante yang bicara.
"Koko?, Koko yang mana Lin?",
"Ko Jun lah Yul, siapa lagi?, Ko Toni kan sudah menikah, dia tidak tinggal disini lagi...",
"Oh iya sih, lupa soalnya. Terus Ko Jun kenapa Lin?",
Tante Alin belum menjawab pertanyaan Yuli karena pandangan keduanya kini mengarah ke Papa yang ternyata sudah ada di dekat pintu penghubung antara ruang tamu depan dan ruang keluarga. Mereka bertiga bertatapan sejenak sampai akhirnya Tante Alin angkat bicara dan menyenggol bahu Mama.
__ADS_1
"Baru sampai Ko...", entah kenapa di mata Mama Tante Alin nampak terlihat gugup, padahal yang ia ajak bicara adalah saudaranya sendiri.
"Iya..", Jawab papa singkat sambil kembali menengok ke arah kursi yang di duduki Mama dan Tante lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur. Tatapan Tante kini kembali beralih ke Mama yang terlihat bingung dengan tatapan Tante yang cukup aneh itu.
"Kenapa Lin?", Mama mengernyitkan dahi dan lanjut memakan kue jajanan pasar yang ada di meja. Entah mengapa mama merasa sebal dengan tatapan Tante yang seperti itu.
"Lu belum cerita ke gua Yul, susah punya pacar belum?", Tante yang bertanya tanpa mengecilkan suaranya langsung di sikut oleh Mama dan Nenek hanya tersenyum saja mendengar anaknya bertanya seperti itu.
"Memangnya kenapa, kenapa tiba-tiba tanya soal pacar?",Terlihat ekspresi Mama antara kesal dan malu.
"Ya, mungkin saja kalau belum....", Tante Alin menggantung kalimatnya dan membisikkan sesuatu yang cukup mengejutkan Mama.
"Kalau belum ada, ada Koko gua...", Tante Alin berbisik dengan nada jahil, melihat ekspresi Mama yang kaget setengah mati membuat Tanteku itu tertawa cukup keras, kalau saja Nenek tidak memperingatkannya, mungkin suara tawanya akan lebih keras lagi.
"Memang Ko Jun masih sendiri?", Mama bertanya dengan nada tidak yakin, lagipula saudara dari temannya itu belum tentu mau di jodohkan seperti ini, atau bisa jadi ia sudah memiliki pasangan, hanya saja mungkin belum memberitahukannya kepada Nenek dan Tante. Yang sekilas ia tahu, saudara dari sahabatnya ini memang pendiam dan tidak banyak bicara, dugaan yang dipikirkannya mungkin saja itu benar.
"Yul.., Ko Jun itu sampai sekarang masih sendiri. Dia tidak pernah membawa perempuan manapun ke rumah ini. Dia selalu sibuk dengan tokonya di pasar dan mengurus sawah keluarga. Kalau ditanya apa dia sedang dekat dengan orang lain, dia hanya diam saja...", Tante Alin menjelaskan dengan tidak semangat. Mendengar Tante seperti itu, Mama mengambil kesimpulan bahwa Papa memang tipe pria pendiam yang tidak bisa memulai terlebih dahulu untuk berkenalan dengan lawan jenis.
"Iya Neng, si Jun memang agak susah orangnya. Pernah sekali Enah kenalin sama anak kenalan Enah, dianya langsung pergi begitu saja..." Nenek sampai menggelengkan kepala jika mengingat peristiwa itu. Waktu itu ia sempat merasa malu karena putra bungsunya itu tidak mengatakan apapun ketika sedang dikenalkan ke salah satu kenalan dan juga anak perempuannya, waktu itu Nenek, papa dan Tante sedang ada di satu resepsi pernikahan. Walaupun sudah dimarahi oleh Nenek ketika sampai di rumah, papa hanya mengedipkan bahu lalu masuk ke kamarnya begitu saja tanpa bicara apapun.
"Ko Jun memang susah Nah, mau bagaimana lagi...", Tante juga teringat ia sampai sedikit melakukan pemaksaan kepada papa untuk angkat bicara, apa yang membuatnya sampai seperti itu. Ia ingat papa hanya menjawab ia tidka mau dijodohkan atau dikenalkan oleh siapapun, ia tidak ingin urusan asmaranya diintervensi oleh siapapun.
"Berat juga ya, kalau begitu...", hanya itu komentar yang mama lontarkan kepada Nenek dan Tante.
__ADS_1
"Yul, kalau misalnya Ko Jun mau sama lu, bagaimana?",
\*\*\*\*\*\*\*\*