The House 1937

The House 1937
67. Mengungkapkan Yang Sebenarnya


__ADS_3

"Penglihatan" yang Sukarsih berikan kepadanya telah berakhir. Chun In hampir terhuyung jatuh ke tanah jika saja ia tidak berpegangan ke lemari tua yang ada di dekatnya. "Penglihatan" itu jelas, sekaligus menyakiti dirinya. Tubuhnya mulai terasa lemas , Chun In paham bahwa kondisi tubuhnya yang seperti ini akibat dari energi di dalam tubuhnya yang mulai banyak terkuras karena melihat "penglihatan" itu. Namun, dirinya masih bisa menahan diri dengan berpegangan di lemari tua yang ada di dekatnya dan mulai mengambil napas pendek-pendek. Ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak mempedulikan bau menyengat dan menusuk yang ada di gudang tua yang pengap itu sambil tetap memperhatikan Sukarsih yang kini masih ada di posisinya.


Chun In melihat wajah Sukarsih yang kini mulai tampak sedih, di balik wajah dan penampilannya yang tampak mengerikan. Seketika Chun In merasakan simpati dalam hatinya, mau bagaimanapun arwah wanita di hadapannya ini adalah korban dari ketidakadilan yang kehidupannya direnggut, dicabut secara paksa tanpa ia tahu apa penyebabnya. Sukarsih masih terlihat sedih dengan wajah sedikit menunduk. Chun In akhirnya mulai berbicara setelah sekian waktu berkutat dengan "penglihatan" itu.


"Jadi..., jasadmu terkubur di tanah gudang tua ini?", Chun In tidak bisa menyembunyikan ekspresi kaget bercampur kesakitan di wajahnya.


Sukarsih hanya menunjukkan ekspresi sedih yang teramat dalam. Menjawab secara tidak langsung dari pertanyaan Chun In.


"Hanya itu yang ingin kau sampaikan..?", Chun In mulai merasakan rasa sakit yang mulai menusuk ke beberapa bagian tubuhnya. Pegangannya di sisi lemari tua itu semakin kuat untuk menopang tubuhnya.


"Benar Tuan, saya hanya ingin memberi tahu kebenaran ini.., jika anda ingin bertanya apakah saya merasa sedih, tentu Tuan, rasa sedih itu terus berputar di dalam diri saya sampai hari ini..., saya tidak tahu mengapa saya berakhir seperti ini...",


"Apakah di gudang tua ini ada "penghuni" lainnya seperti dirimu?,",


"Mereka hanya singgah sebentar disini, Tuan. Karena saya mengusir mereka jika ada yang mencoba untuk "menetap". Waktu itu ada Wewe Gombel yang menggangu seorang anak yang masuk ke area ini..., setelah anak itu lari keluar.., saya langsung mengusir Perempuan penculik anak itu. Dan satu lagi Tuan, saya ingin jasad saya yang terkubur di tanah ini bisa di makamkan secara layak....",

__ADS_1


"Anak?, baiklah kalau begitu, jika kau ingin di kuburkan dengan layak, aku harap kau tidak lagi seperti ini...", Chun In mengangguk pelan dengan wajah yang mulai basah karena sudah banyak bulir keringat yang mulai membasahi wajahnya.


"Apakah ada hal lain lagi yang ingin kau sampaikan?", Chun In melihat Sukarsih hanya menggeleng pelan, lalu seketika arwah perempuan itu menghilang dari pandangan Chun In. Chun In sendiri yang memang sudah merasa kesulitan menggerakkan kedua kakinya akhirnya memutuskan untuk memberi kode dengan memukul-mukul bagian ujung senter tua itu ke lemari tua yang ada di sampingnya. Ia berharap dengan suara kegaduhan yang di buatnya itu, Bi Inah yang ia duga masih berjaga di luar biasa segera datang ke sini untuk memapah dirinya keluar gudang. Dan benar saja, Bi Inah langsung terpogoh-pogoh datang dengan langkah yang sedikit tersendat karena kondisi tanah yang lembab dan sedikit licin itu.


"Koh Chun In..., kenapa Koh?", Bi Inah tampak kebingungan melihat Chun In yang dalam kegelapan terlihat berpeluh, seluruh wajahnya basah berkeringat dan yang membuat Bi Inah kaget, Tangan Chun In sedikit terasa dingin dan juga berkeringat.


"Bantu saya keluar dari sini Bi.., nanti saya ceritakan..",


Dengan di papah Bi Inah, Chun In perlahan-lahan mulai menggerakkan kakinya, berjalan untuk keluar dari area gudang ini. Chun In dan Bi Inah kini sudah melewati pintu gudang itu dan Bi Inah langsung menutup pintunya. Nenek sendiri melihat Chun In yang sampai di papah oleh BI Inah seperti itu langsung panik bukan main. Nenek langsung bangkit dari tempat duduknya dan menyuruh Bi Inah untuk mendudukkan Chun In ke kursi itu.


"Lu kenapa In sampai seperti ini?, ada apa?, lu liat apa di gudang itu?",


Chun In yang di berondong pertanyaan seperti itu hanya bisa menggeleng pelan saja. Setelah dirinya sedikit lebih tenang dengan secangkir teh hangat yang tadi di buat Bi Inah, barulah putra Babah Hwan itu angkat bicara, walau terdengar pelan dan sedikit lemas.


"Nanti Nah, saya akan bercerita...",

__ADS_1


****"


Kini Chun In sudah berbaring di kamar Om Toni yang ia pergunakan untuk bermalam. Sebenarnya Chun In sempat menolak halus ketika nenek menyuruhnya untuk merebahkan diri di tempat tidur. Namun, nenek yang memang terbiasa menghadapi anak-anaknya yang keras kepala jika sedang dinasihati olehnya langsung menegur Chun In dan mendudukkannya di pinggir ranjang. Akhirnya, mau tidak mau, Chun In mulai merebahkan dirinya di tempat tidur. Sambil sesekali memijit kepalanya, ia melirik meja yang ada di seberang tempat tidur ini yang di atasnya tersaji segelas air yang sudah tersisa setengah gelas dan bungkus kecil obat sakit kepala yang tadi ia minum. Ia memang sempat bilang ke Nenek kalau kepalanya terasa sedikit sakit dan pusing. Suara pintu yang terdengar langsung mengalihkan pandangannya, terlihat nenek yang kembali masuk sambil menggenggam botol minyak angin berukuran kecil yang tampak masih baru. Chun In melihat ekspresi kekhawatiran yang tidak ditutup-tutupi oleh Nenek. Nenek lalu menarik kursi yang ada di dekat lemari untuk duduk di pinggir tempat tidur, lalu dirinya menggenggamkan botol kaca berukuran kecil ke telapak tangannya.


"Bagaimana In?, sudah mendingan?", Tanya Nenek yang masih terlihat khawatir.


"Susah mendingan, Nah...", Chun In meneteskan satu tetes minyak angin itu ke kening kirinya. Rasa hangat yang berasal dari minyak angin itu, di tambah dengan harumnya yang sangat khas, membuat dirinya sedikit lebih baik, setidaknya ia bisa melupakan bau mengerikan yang berasal dari dalam area gudang tua itu.


"Apa lu tadi belum makan In?, sebelum masuk gudang..",


"Tadi sebelum masuk ke gudang itu, saya susah makan Nah, Tidak apa-apa...", Chun In memperhatikan dari ekspresi nenek yang nampak sangat khawatir yang cenderung berlebihan sejak ia berhasil keluar dari area gudang itu. Namun, ia mengerti, bagaimana pun Nenekku merupakan seorang ibu dari empat orang anak. Chun In merasa diperlakukan seperti anaknya sendiri,namun ia tidak bermasalah karenanya.


"Nanti malam, saya akan cerita soal yang di gudang tadi, Nah. Karena saya juga ingin Koh Jun mendengar cerita ini...",


__ADS_1


*********


__ADS_2