The House 1937

The House 1937
44. Menginap (2)


__ADS_3

Acara televisi yang disiarkan telah berakhir pukul setengah sepuluh malam. Kini saatnya semua bersiap untuk tidur. Tante, Mama, dan Papa tengah menuju kamar mandi untuk menuntaskan panggilan alam mereka sebelum masuk ke kamar masing-masing. Setelah Papa selesai dan melangkah keluar dari dapur, entah mengapa Mama merasa aneh. Ia merasa Papa sekilas melirik kearahnya lalu kembali berjalan meninggalkan pintu dapur tanpa bicara sedikitpun.


Mama menggelengkan kepalanya, mungkin itu karena ia memikirkan perkataan Tante Alin dan Nenek tadi sore. Setelah selesai, Tante menutup pintu dapur dan mereka berdua langsung melangkah menuju kamar. Mama sendiri satu kamar dengan Tante Alin, walaupun sebelumnya ia susah ditawari Nenek untuk menggunakan kamar milik Tante Dewi yang sudah lama kosong, namun Mama menolak halus dan lebih memilih untuk satu kamar dengan Tante Alin saja.


Selain Tante Alin dan Papa sendiri, mama juga mengenal Om Toni dan Tante Dewi walaupun hanya sekilas saja. Mama tau dari Tante Alin jika saat ini Tante Dewi menetap di Singapura bersama suaminya dan Om Toni juga sudah tinggal di luar kota bersama istrinya dan menjalankan bisnis mereka berdua. Di rumah ini tersisa Papa dan Tante Alin sendiri yang masih lajang. Dan mengenai pasangan, sejak menginjakkan kakinya di rumah ini setelah sekian lama, mama memang penasaran dengan kabar terkini dari sahabatnya itu, khususnya tentang lawan jenis yang kini tengah dekat dengannya, ataukah ia sudah punya kekasih?.


"Tadi pas sore lu bahas soal Ko Jun terus Lin...", Mama mulai membuka pembicaraan sambil merapikan pakaiannya dari dalam tas.


"Ya?,lalu?,kenapa?", Tante Alin tengah menyisir rambutnya yang tampak sedikit berantakan karena tadi ia sempat mengikat rambutnya, tatapannya malah menatap jengkel sisirnya yang ada beberapa helai rambutnya yang rontok di sisir itu.


"Lu sendiri gimana?, pacar sudah ada?, jangan gua terus yang ditanya soal pacar...", Mama memandangi Tante dengan tatapan penasaran. Siapa kiranya laki-laki itu jika dugaannya benar.


"Dia temen Ko Jun Yul...", Tante menjawab singkat sambil tersenyum kecil.


"Benarkah?, Siapa?, susah berapa lama?", Mama mulai terlihat tertarik mendengar jawaban singkat Tante Alin, dan ia mulai menceritakan secara singkat awal pertemuannya dengan Om Herman sampai saat ini.


"Tidak di sangka setelah sekian lama gua baru datang lagi ke sini, ternyata sudah keduluan. Namanya masih satu daerah, dapatnya juga orang yang dekat ya....", Mereka berdua akhirnya tertawa bersama.

__ADS_1


"Yah begitu lah...", Tante Alin mengangkat kedua bahunya santai. Mereka berdua duduk di ranjang dengan memeluk bantal di pangkuan mereka.


"Apa lu ada fotonya?, gua liat dong...", Mama begitu penasaran ingin mengetahui paras dari Om Herman.


Tante Alin menggeser tubuhnya menuju meja belajar di samping ranjangnya, mengambil satu potret Om Herman dan menyerahkannya pada Mama.


"Bagaimana?", Tante dengan bangga bertanya kepada Mama yang masih memandangi potret Om Herman.


"Pantas saja lu mau, lumayan juga orangnya, sudah kenal lama sama Ko Jun ya?", Mama kembali menyerahkan potret polaroid itu kepada Tante Alin. Potret polaroid itu adalah potret Om Herman yang diambil oleh Papa menggunakan kameranya pada saat mereka tengah berada di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Mereka berdua pergi ke Magelang karena pada waktu itu tengah ada perayaan Hari Tri Suci Waisak secara Nasional di Candi Borobudur.


"Hmm.., begitu ya..", hanya itu jawaban singkat yang mama berikan.


"Jadi, Bagaimana Yul?, kalau lu gua jodohkan sama Ko Jun?", Tante hanya melihat ekspresi datar di wajah Mama.


"Kenapa Yul?, kenapa diem aja?,"


"Yul.., gua ga enak hati deh kalau begitu, maksudnya....,memang sih gua masih sendiri,, tapi mungkin aja Ko Jun sudah ada tapi belum bilang...",

__ADS_1


"Yuli..., dia Koko gua dan gua tau dia kaya gimana. Dia tuh..., kolot banget, lebih dari Ko Herman. Dia ga sempet cari pacar tuh, sibuk mengurus toko dan sawah sama ternak Babi warisan Babah terus...", Tante Alin sedikit mendekus,mengingat Papa yang memang sangat mendedikasikan dirinya untuk mengurus sawah dan peternakan Babi milik keluarga.


"Oh gitu Lin, kasihan juga ya Koko lu. Sampe lupa buat prioritas diri sendiri...",


"Makanya gua ngomong begini sama lu, mungkin saja ku bisa cocok sama Ko Jun...",


Mama hanya terdiam sambil mempererat pelukannya ke bantal guling di tangannya. Ia akui, memang saudara laki-laki dari sahabatnya itu memiliki paras yang cukup tampan walaupun terlihat kaku dan pendiam. Juga berasal dari keluarga baik-baik dan cukup terpandang di mata warga sekitar. Entahlah, mama hanya menghela napas dan masih belum memutuskan apakah ia bersedia untuk menyetujui saran dari Tante Alin atau sebaliknya.


******


"Lin, Lin, Alin..., bangun Lin..", Mama membisikkan Tante Alin yang terlihat sangat menikmati tidurnya, sampai tidak bergerak sedikit pun walaupun Mama sudah menggerakkan bahu Tante dengan keras.


Mama yang merasa usahanya gagal membangun Tante Alin akhirnya mau tidak mau memberanikan dirinya melangkahkan kaki seorang diri ke kamar mandi. Dengan bentuk bangunan rumah khas peranakan Tionghoa yang berukuran cukup luas, letak kamar mandi yang memang cukup jauh dan berubah temaram ketika di malam hari. Mama dengan langkah yang terasa berat akhirnya bangun dari posisi duduknya di ranjang lalu sedikit mendekus ke arah Tante Alin yang amat terbuai di alam mimpinya. Mama menggunakan sandal jepitnya, membuka selot pintu kamar dan melangkah pelan ke arah belakang rumah menuju kamar mandi. Suasana sepi dan hening, langkah mama hanya ditemani oleh lampu ruang keluarga yang menyala terang. Cahaya terang itu berubah menjadi kuning temaram, Mama membuka pintu dapur perlahan dan tanpa melihat ke kiri dan ke kanan lagi, mama memberanikan diri melangkah ke dapur dengan cahaya temaram itu menuju kamar mandi yang ada di bagian belakang.


Mama langsung menutup pintu kamar mandi begitu masuk kedalamnya dan langsung menuntaskan panggilan alamnya disana. Tanpa mau membuang waktu, mama kembali menyelot pintu kamar mandi dan melangkah cepat untuk keluar dari dapur itu. Entah kenapa terkadang mama merasa heran dengan sahabatnya itu, bisa-bisanya ia bahkan betah tinggal di rumah besar dengan arsitektur lama seperti ini. Mama menutup kembali pintu dapur itu dan berbalik menuju bagian ruang keluarga, begitu mama melewati lemari yang ada di depan pintu kamar Bi Inah, lemari yang berisi sprei, aneka sarung bantai, kain sarung dan selimut yang biasa di pergunakan oleh Papa dan semua saudaranya. Perlahan pintu lemari itu terbuka dan terlihat satu tangan pucat memegang pintu lemari itu dari bagian dalam dan pintu itu langsung tertutup rapat lagi dan tangan pucat itu menghilang di balik lemari. Mama hanya bisa menahan ludah dan mulai merasakan telapak tangannya yang dingin lalu berjalan cepat setengah berlari untuk kembali ke kamar Tante Alin.


*********

__ADS_1


__ADS_2