The House 1937

The House 1937
48. Mencari kebenaran (2)


__ADS_3

"Man, nanti gua mau pergi ke Klenteng...", Perkataan Papa yang ia ucapkan tiba-tiba itu langsung mengalihkan perhatian Om Herman.


"Klenteng?, Klenteng yang dekat dengan Pasar ini?",


"Bukan Man, gua mau ke Klenteng tempat Babah pernah jadi pengurus disana...",


"Apa?, di Klenteng itu?, setahu gua lokasi Klenteng itu lumayan jauh Jun.., Mau apa lu kesana?",


"Gua mau ketemu Temennya Babah Man, namanya Babah Hwan, ada yang mau gua tanyakan sama dia...",


"Tanya?, Maksudnya?",


"Gua ingat Babah Hwan itu 'orang pintar', dia yang pernah bantu Babah ketika Ci Dewi "sakit" waktu kecil, sakit dalam arti..,bukan sakit sungguhan, lu paham kan?",


"Oh..iya, gua paham...memang lu mau nanya apa, Jun?, sampai mau menemuinya segala?",


"Iya Man..., ini soal rumah itu. Dan juga antara hidup dan mati...",


********

__ADS_1


Papa yang tengah berkonsentrasi menyetir sekilas teringat dengan percakapannya dengan Om Herman di pasar kemarin hari. Ia melirik sahabatnya itu yang sudah mulai terlihat setengah mengantuk karena lamanya perjalananan mereka. Papa hanya menatap jengkel ke arah Om Herman, seandainya saja kaki Papa bisa menendang kakinya, mungkin Papa akan melakukannya saat itu juga. Sambil tetap fokus menatap ke arah jalan di depannya, Papa mengingatkan dirinya agar nanti ketika mereka akan melakukan perjalanan pulang, ia akan meminta sahabatnya itu berganti posisi agar dia nanti yang menyetir mobil truknya ini. Mau tidak mau ia akui perjalanan menuju Klenteng tujuannya itu memang memakan waktu dan menguras tenaganya. Sebenarnya Om Herman sempat mengusulkan kepada papa agar mereka menginap saja selama satu malam di Klenteng itu. Karena menurutnya akan sangat melelahkan dan berbahaya jika mereka berdua memaksakan diri melakukan perjalanan pergi dan pulang di hari yang sama. Walau papa sempat menolak tersebut, namun pada akhirnya ia setuju untuk menginap disana selama satu malam. Mau bagaimanapun kondisi tubuh yang bugar dan fit sangat di perlukan untuk keamanan dan kenyamanan mengemudi.


Setelah beberapa waktu di perjalanan, akhirnya mereka berdua telah sampai ke tempat tujuan mereka. Ketika mobil truk kuningnya memasuki akses jalan utama menuju Klenteng tersebut, Pandangan papa terpana di sepanjang jalan, begitu juga di bagian kanan dan kiri dari jalan yang ia lalui itu. Menurutnya, banyak yang berubah dari kali terakhir ia datang kemari, jalan yang mereka lalui sudah di aspal dengan pemandangan beberapa rumah-rumah di sisi kanan dan kiri jalan, karena terakhir kali ia datang, jalanan itu masih sangat berbatu di sana sini dan masih sangat sedikit rumah yang ada di kedua sisi jalan ini. Ia ingat pada waktu itu datang ketika Klenteng ini sedang mengadakan acara perayaan tahunan yang mengundang orang banyak datang kemari. Puncaknya pada malam hari acara itu berlangsung semakin banyak orang ramai berdatangan, dan itu sudah cukup lama, mungkin beberapa tahun yang lalu.


Papa memarkirkan mobil truknya di halaman parkir Klenteng yang cukup luas itu. Di sudut kanan dan kiri dari halaman parkir itu ditumbuhi pohon beringin yang cukup besar dan rindang. Pohon itu pun tidak banyak berubah, hanya terlihat sedikit bagian cabang bawahnya yang terlihat sengaja di potong. Papa mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman Klenteng yang menurutnya sudah terlihat lebih baik. Setelah Papa mengambil tas ransel yang ada di belakang kursi kemudinya, kemudian turun dan menutup pintu mobil diikuti oleh Om Herman. Om Herman yang memang baru pertama kali datang ketempat ini pun terlihat takjub dengan bangunan besar bergaya Tiongkok yang dominan dengan warna merah itu beserta halaman di sekelilingnya.


"Jadi disini Babah lu pernah jadi pengurus Jin?", Om Herman menghampiri Papa setelah menutup pintu mobil.


"Iya, lumayan lama sih, cuma lebih lama Babah Hwan, Babah Cerita ke gua..", Mereka berdua mulai berjalan menyusuri halaman parkir itu menuju gerbang utama Klenteng yang cukup jauh dari halaman parkir.


"Memangnya sejak kapan Babah lu jadi pengurus disini?, berapa lama?", Om Herman menjadi penasaran akan hal ini karena ia memang baru mengetahui kakek yang pernah menjadi pengurus di Klenteng ini.


Om Herman hanya mengangguk sambil bergumam mendengarkan keterangan singkat dari Papa. Mereka terus melanjutkan langkahnya sampai melewati gerbang utama Klenteng yang cukup besar dengan pintu besi kecil yang ada di sisi kanan dan kirinya. Mereka berjalan melewati altar Tuhan Yang Maha Esa, dengan pandangan Om Herman yang masih terus menelisik ke bangunan megah ini,ia sendiri tidak menyangka bahwa di daerah yang cukup jauh dari kawasan perkotaan ini terdapat bangunan Klenteng yang sebesar dan seindah ini.


Mereka mulai melepas alas kaki, menaruhnya di rak alas kaki yang tersedia dan berjalan ke tempat cuci tangan yang ada di bagian depan Klenteng. Sambil cuci tangan, mereka juga mencuci Buah jeruk dan apel yang tadi mereka beli di perjalanan untuk persembahan di Klenteng ini. Papa dan Om Herman lalu menyerahkan piring dengan Buah yang sudah di cuci itu ke penjaga yang sudah menunggu mereka dan membawa piring buah itu ke dalam. Di hari-hari biasa seperti ini, suasana Klenteng ini memang sepi, paling hanya ada beberapa umat yang datang bersembahyang dan itupun tidak datang setiap hari. Namun Tiba-tiba.....


"Loh..., Jun ya?. Ini Jun kan?,",


Salah satu penjaga Klenteng yang ada di sana terlihat mengenal dan memanggil nama Papa, menghampiri dan menyalami Papa dengan ramah, sedang Papa hanya membalas menyalami penjaga itu dengan tatapan mengingat-ingat. Ia sendiri tidak ingat siapa pria yang rambutnya susah memutih secara keseluruhan baru kali ini ia datang berkunjung kembali ke Klenteng ini.

__ADS_1


"Eh..., iya Ncek, saya Jun. Kok Ncek tahu saya ya?,", Papa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bagaimana tidak kenal, gua Afung, lu lupa ya?. Gua tau lu kan anaknya Babah An, kaget gua lu hari ini datang kemari. Bagaimana Enah di rumah?, Sehat?", Laki-laki berambut putih bernama Afung itu langsung memberondong Papa dengan pertanyaan yang hanya di jawab singkat saja oleh Papa. Sementara Om Herman malah jalan-jalan sejenak di sekitar bagian depan Klenteng ini yang memang cukup luas dengan banyaknya lilin merah berukuran besar dengan lukisan lukisan indah di bagian batang lilinnya.


"Enah sehat Ncek..., Ngomong-ngomong kalau hari biasa sepi ya Ncek?", Papa mencoba sedikit berbasa-basi agar tidak merasa canggung.


" Yah..., begitu lah Jun. Paling-paling agak ramai di akhir pekan atau kalau lebih lagi ya.., perayaaan. Ngomong-ngomong tumben nih lu orang jauh baru datang kemari lagi..." Ncek Agung setengah tertawa, dan mau tak mau dalam hatinya ia berdecak kagum, karena anak dari almarhum sahabatnya ini berparas cukup tampan, dan menurutnya Papa lebih tampan dibandingkan dengan Kakekku sendiri.


"Iya Ncek, saya kemari ada perlu. Saya ada perlu untuk bertemu dengan Babah Hwan. Yang saya tahu Babah Hwan masih menjadi pengurus disini Ncek. Maaf juga saya datang mendadak karena tidak ada nomor kontak yang bisa saya hubungi. Apa saya bisa bertemu dengan Babah Hwan, Ncek?, Hari ini atau besok tidak apa-apa..., karena saya berencana menginap disini sampai besok...", Papa menjelaskan panjang lebar kepada Ncek Afung yang wajahnya la langsung berubah pucat begitu mendengar Papa ingin bertemu Babah Hwan.Ada apa ini?, apakah ada sesuatu yang salah ia ucapkan sampai-sampai ekspresi laki-laki dihadapannya ini langsung berubah seperti itu?.


"Kenapa Ncek?, kok diam saja?, apa saya salah bicara?", Papa terlihat sedikit menahan napasnya.


"Ohh.., tidak, tidak ada yang salah...", Ncek Afung langsung menggeleng cepat dengan ekspresi yang sama.


"Lalu?", Papa terlihat tidak sabar karena pria berambut putih ini tak langsung menjawab pertanyaannya.


"Maaf ya Jun, kalau ini bikin lu kecewa. Gua cuma mau kasih tahu, kalau Babah Hwan sudah meninggal hampir dua tahun yang lalu...",


\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2