
Hari ini nenek dan papa cukup sibuk karena hari ini adalah hari dimana mereka sedang mengatur penyimpanan padi hasil panen tahun ini di gudang padi yang terletak di belakang rumah. Padi-padi yang sudah dipanen sedari siang telah dikemas semua ke dalam karung yang telah disiapkan dan diangkut ke rumah nenek untuk di taruh di gudang pagi, baru esok harinya akan di keluarkan kembali untuk dijemur. Nenekku yang pada saat itu sakit rematiknya sedang kambuh, akhirnya meminta tolong kepada papa untuk mengawasi semua "kegiatan tahunan" mereka itu dan akhirnya papa memapah nenek untuk beristirahat dilamarnya. Setelah nenek masuk kamarnya dan berbaring di ranjang, papa kembali melangkah keluar kamar menuju ke belakang rumah ke arah gudang padi. Para pengangkut padi keluar masuk hilir mudik dari gudang itu dan papa mengawasi mereka semua dengan seksama, dan juga membantu mereka merapikan kembali karung-karung yang telah masuk gudang. Papaku benar-benar senang karena panen tahun ini cukup melimpah, walaupun lebih sedikit dibandingkan tahun kemarin.
Hari ini papa benar-benar lelah karena sedari pagi sudah berada di tengah sawah untuk mengawasi langsung proses panen padi di bantu dengan salah satu petani yang aku kenal sebagai tangan kanan papa dalam proses kepengurusan sawah ini. Sawah ini adalah sawah milik keluargaku yang kebetulan untuk kepengurusan sawah ini nenek percayakan kepada papaku setelah kakekku meninggal dunia beberapa tahun yang lalu karena saudara papa yang lain lebih memprioritaskan usaha dan bisnis mereka masing-masing. Setelah semua karung-karung padi itu sudah ada di dalam gudang, yang terakhir mereka lakukan adalah mengangkut timbangan padi yang berukuran cukup besar dan berat yang membutuhkan sampai setidaknya 4 orang untuk mengangkutnya ke dalam gudang. Bangunan gudang padi yang memang cukup tinggi dari tanah mengharuskan mereka berhati-hati untuk mengangkut timbangan tersebut kalau tidak kaki mereka bisa terluka tertimpa oleh timbangan itu. Setelah mereka semua selesai membawa masuk timbangan tadi ke gudang, papa mulai memerintahkan semua para pengangkut tadi untuk berbaris secara teratur untuk menerima upah mereka. Hari sudah mulai beranjak sore hari, dan para pengangkut sekaligus para petani tadi telah melangkah meninggalkan gudang itu setelah mereka mendapatkan upahnya masing-masing. Kini mereka semua menuju teras depan rumah untuk menikmati singkong goreng, aneka kue basah, dan beberapa gelas kopi hitam hangat yang sudah disediakan oleh bibi asisten rumah tangga nenek atas perintah nenekku untuk mengisi perut mereka setelah seharian berada di sawah dan gudang padi. Sementara papaku masih berada di belakang rumah di depan gudang itu bersama si bapak petani kepercayaan papa itu.
"Koh sudah sore, semuanya sudah selesai..", Si bapak petani menyeka keringatnya dengan lap handuk yang ia sampaikan di lehernya.
"Ya Pak, saya mau kunci juga gudangnya..", Papa melangkah menaiki anak tangga menuju pintu gudang untuk menguncinya.
__ADS_1
Suara derit yang cukup keras terdengar ketika papa hendak menutup pintu gudang itu dan sebelum bisa meraih gembok di pintu gudang, papa mendengar sebuah suara aneh dari dalam gudang. Suara mendesis yang cukup tajam dan sekilas juga terdengar suara seperti suara tawa cekikikan yang terdengar begitu pelan. Papa tertegun dan wajahnya langsung memucat, gerakannya mematung dan belum benar-benar menutup pintu gudang itu. Si bapak petani yang melihat papa belum juga mengunci pintu gudang merasa sedikit heran dan berinisiatif untuk menghampiri papa.
"Ada apa Koh?, pintunya belum dikunci?,ada yang kelupaan ya?",
"Tidak Pak, tidak ada yang lupa. Cuma dari dalam saya seperti mendengar suara aneh Pak, apa bapak juga dengar...", Suara papa perlahan mengecil dan pelan ketika menjelaskan tentang suara aneh yang di dengar.
"Ya Allah, itu apa Koh?", Pak petani juga kaget mendengarnya dan langsung reflek melongok ke arah dalam gudang diikuti papa juga yang mendorong pintu gudang itu sehingga terbuka lebar.
__ADS_1
Dan betapa kagetnya mereka berdua melihat dua sosok hitam misterius yang ada di dalam gudang tersebut, mereka begitu hitam legam dan hanya menyisakan matanya yang berwarna merah menyala yang terlihat amat menakutkan. Satu sosok seperti bersembunyi di antara karung-karung padi yang tersusun rapi, sementara sosok satunya lagi tengah duduk di atas tumpukan padi dan terlihat menatap papa dan pak petani dengan tatapan tajam menusuk disertai dengan suara-suara yang sebelumnya mereka dengar. Melihat itu sontak papa dan pak petani langsung panik, dan papa juga langsung menyambar pintu gudang untuk menguncinya dengan tangan gemetaran sambil merapalkan doa-doa suci dalam hatinya begitu juga pak petani yang tak henti-hentinya membacakan beberapa ayat-ayat suci. Setelah papa yakin pintu itu sudah terkunci, mereka berdua langsung lari tunggang langgang ke arah teras depan rumah dengan wajah ketakutan dan pucat pasi. Pak petani langsung bergabung dengan para pengangkut dan petani lainnya untuk menikmati hidangan yang tersedia disana dan papa ijin mohon diri untuk masuk ke dalam rumah. Papa pun langsung masuk ke dalam kamar nenek untuk menyerahkan kunci gudang padi ke nenek. Melihat wajah papa yang masih ketakutan dan pucat pasi, nenek bertanya apa yang telah terjadi sampai wajah papa seperti itu.
"Anu nah..tadi di gudang padi...."
Papa menghela napas sejenak dan mulai menceritakan apa yang terjadi tadi saat ia dan pak petani akan mengunci pintu gudang padi. Mendengar cerita papa tadi, nenek jadi teringat ketika pengelolaan sawah masih dipegang oleh almarhum kakek. Karena kakek juga pernah sekali melihat sosok menyeramkan itu dan itu juga terjadi ketika menjelang sore hari seperti ini. Mendengar itu, papa mengingatkan dirinya sendiri jika nanti akan kembali mengurus panen sawah untuk tahun depan, semua harus selesai dilakukan sebelum sore hari tiba agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali.
***********
__ADS_1