
"Kamu hanya melihat matanya saja, Man?", Bibi sampai menutup mulutnya dengan telapak tangan, ia sedikit bergidik mendengar cerita Giman barusan.
"Iya Bi, makanya saya kapok kalau harus masuk lagi ke gudang itu, Bibi liat kan dari tadi saya hanya di lapangan saja?", Giman sudah selesai menghabiskan makan siangnya, sambil merendam tangannya dengan air di baskom kecil yang sudah diberi perasan jeruk nipis.
"Berarti gudang belakang itu angker ya Man?",
"Iya Bi, memang angker. Bapak saya bilang sebelum rumah ini berdiri, gudang padi itu sudah ada di sini. Dan saya ingat, Bapak saya dan si Engkoh juga pernah lihat makhluk itu, katanya seram Bi, semua badannya berwarna hitam, matanya merah menyala....",
" Man...., kamu malah menakut-nakuti saya..", Bibi refleks memukul lengan Giman karena saking takutnya.
"Selain Bapak dan kamu, apa Najim juga pernah punya pengalaman di gudang itu?", Tanya Bibi melirik Najim yang kini tengah mengobrol setelah menyelesaikan makan siangnya.
"Hmm....", Giman mulai berpikir sejenak, mengingat apakah adiknya itu pernah menceritakan pengalaman mengerikan yang berkaitan dengan rumah ini kepadanya, kemudian Giman melirik Bibi yang tengah melihat ke arah dapur, mungkin mengecek si Engkoh yang mungkin saja sudah selesai menyantap makan siangnya.
"Kenapa Bi?", Giman mengikuti arah pandang Bibi yang menuju bagian pintu dapur yang terbuka itu.
__ADS_1
"Saya tidak mau kalau si Engkoh sampai dengar pembicaraan kita, apalagi kamu tahu kan si Engkoh seperti apa...", Giman pun mengangguk setuju, ia juga tidak mau sampai ketahuan jika ia bercerita seperti ini kepada Bibi.
"Sepertinya Najim pernah cerita ke saya Bi...",
Giman menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Pernah Man, kapan?", Bi Inah langsung tertarik begitu mendengar jawaban Giman sesuai dengan keinginannya.
"Tapi itu udah lama Bi, kalau tidak salah waktu Najim masih kecil...",
*******
__ADS_1
Sore ini ia duduk di bale depan teras rumah, menunggui Pak Tani yang kini ada di ruang tamu rumah bersama dengan Kakek yang tengah membahas urusan sawah. Sebetulnya ia sudah dilarang oleh ayahnya itu untuk ikut datang ke rumah ini, hanya saja Najim yang pada waktu itu memang masih anak-anak hanya bisa merengek pada ayahnya bahwa ia ingin ikut dengannya ke rumah kakek dengan alasan ia bosan berada di rumah. Akhirnya Pak Tani mengizinkan Najim untuk ikut ke rumah kakek asal ia tidak nakal dan bisa menjaga sikap. Begitu sampai di rumah kakek, sempat ia ingin ikut masuk kedalam, hanya saja Pak Tani melarangnya dengan alasan ia tengah ada urusan penting dengan majikannya itu.
"Kenapa saya tidak boleh ke dalam Pak?", Tanya Najim sedikit lesu yang langsung kaku karena tatapan yang cukup tajam dilontarkan Pak Tani kepadanya.
"Bapak sudah bilang Najim, Bapak ada urusan dengan Babah. Kamu malah ikut..", Najim hanya menundukkan kepala dan menuruti perintah ayahnya itu untuk menunggu diluar, dan sekilas pendengarannya menangkap suara ayahnya yang minta maaf kepada Kakek selaku pemilik rumah karena kemari dengan membawa anaknya dengan alasan takut menggangu. Kakekku hanya tertawa pelan dan tidak mempermasalahkan hal itu. Akhirnya ia menunggu di teras depan ini dengan di temani teh manis hangat dan kue putu ayu yang tadi dibawakan oleh Bibi.
Setelah beberapa waktu berlalu, Najim merasa dirinya memang sudah cukup lama duduk dan menunggu di bale panjang ini dan membuatnya sedikit menguap. Ia melirik kembali kue putu ayu yang masih tersisa lalu memakannya. Sambil mengunyah kuenya, ia mengamati sekilas rumah kakek ini yang menurutnya rumah ini sangat besar dengan halaman yang sangat luas. Ia memandang ke arah lahan kosong yang terpisah dengan halaman ada di samping rumah yang biasanya di gunakan untuk proses menjemur gabah. Karena ia sudah merasa sangat bosan, ditambah lagi teh dan kue yang tadi dimakannya sudah habis, akhirnya Najim memutuskan untuk jalan-jalan sebentar di sekitar area halaman rumah. Setelah ia meyakinkan diri bahwa ayahnya masih lama berada di dalam rumah, ia berdiri dari posisi duduknya kemudian berjalan perlahan menuju halaman yang luas itu.
Ada dua pohon jambu yang menjadi batas pemisah antara lahan kosong dan halaman rumah yang sebagian tanahnya dilapisi semacam batu bata yang kebanyakan telah hancur dan di tumbuhi oleh rumput liar. Sebelumnya pun ia pernah mampir ke rumah ini bersama Giman, Kakaknya hanya untuk mengantar singkong rebut buatan ibu mereka untuk Pak Tani ketika tengah melakukan penjemuran gabah. Selain dua pohon tadi, ia juga melihat tidak jauh dari pohon itu ada bangunan kecil tua dan reyot yang ia tahu itu merupakan kandang ayam milik majikan ayahnya, dalan pandangan Najim entah kenapa kandang itu terlihat begitu menyeramkan, mungkin karena memang kandang ayam itu terlihat lapuk dan usang. Dari letak kandang ayam itu, ia juga melihat ada sumur yang banyak ditumbuhi tanaman merambat dan dua bangunan yang juga terlihat tua yang ia tahu bahwa pintu kedua gudang itu merupakan gudang penyimpanan padi, sedangkan di pintu pertama tidak tahu gudang apa itu.
Entah perasaan apa yang nemerpanya, Najim kemudian melangkahkan kakinya untuk menuju area tempat kandang ayam itu berada. Ia berdiri cukup jauh dari kandang reyot itu dan kembali mengamatinya. Ia ingat bahwa pemilik rumah ini sekaligus majikan dari ayahnya itu memelihara banyak ayam yang semuanya merupakan ayam kampung. Ia memang pernah melihat jumlahnya sangat banyak dan ayam betinanya memiliki anak-anak ayam yang juga berjumlah banyak. Namun entah mengapa kandang ayam ini terasa sepi, seperti kosong, seperti tidak ada apapun disana. Ia tidak mendengar ada suara ayam yang samar-samar berada di dalam sana, ia juga tidak melihat ada ayam yang berkeliaran di sekitar halaman. Ia berjalan jinjit menuju kandang reyot itu untuk melihat bagian kandang itu. Ia tahu seharusnya Ita tidak boleh ada disini, mengingat mungkin saja ayahnya akan memarahinya dan juga hari sudah semakin sore.
Kini ia sudah berada di depan pintu kandang ayam itu dan mendorongnya perlahan. Ia hanya mendorongnya sedikit saja namun pintu kandang yang tak kalah reyot itu langsung terbuka dan langsung menampakan bagian dalam kandang yang cukup gelap dan membuat Najim ketakutan. Ternyata kandang itu tidak kosong, namun bukan ayam-ayam peliharaan pemilik rumah ini yang ada di dalamnya. Melainkan makhluk aneh dengan tubuh tinggi kurus tanpa pakaian yang ada di dalam kandang itu dengan posisi membungkuk , dengan tatapan mata tajam mengerikan dan tangan kurus berkuku tajam itu seperti ingin meraih Najim yang berdiri persis di depan pintu kandang. Yang lebih mengerikan lagi adalah leher dari makhluk aneh itu dapat memanjang dan menjulurkan lidahnya yang berbentuk seperti kobaran api. Langsung saja tanpa aba-aba Najim lari sekencang-kencangnya tanpa menengok lagi ke belakang sambil berteriak dengan keras. Ayah, Kakek dan Nenek ada di teras depan ketika Najim susah sampai disana dengan menangis tersedu-sedu.
"Lu lihat makhluk itu ya Jim?", tanya Kakek yang membuat Najim langsung mengangguk cepat. Jika nenek tidak mencegahnya, mungkin Pak Tani akan memarahi Najim yang malah keluyuran ke depan kandang reyot itu.
__ADS_1
Kakek akhirnya cerita, sebenarnya semua ayamnya itu telah di pindahkan ke kandang ayam baru yang terletak di halaman rumah sebelahnya, karena beberapa hari belakangan ayam-ayam peliharaan kakek sering berkokok dan berkeok-keok tanpa sebab yang jelas, bahkan di malam hari pun tetap seperti itu. Karena ia merasa ada yang tidak beres akhirnya ia menanyakan hal ini kepada Atek, kawannya yang dulu juga pernah menolong dirinya perihal Dewi. Atek melihat bahwa ada makhluk gaib yang ternyata menyukai ayam-ayam peliharaan kakek, itulah sebabnya ayam-ayam itu menjadi sangat berisik tidak karuan. Kandang yang telah kosong itu akan dilakukan 'pembersihan' olehnya agar makhluk itu tidak lagi mengganggu disana. Rencananya setelah selesai, kandang reyot itu akan diperbaiki agar lebih baik dan diisi dengan beberapa ekor ayam kampung baru yang akan menempati kandang itu.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*