
Bi Inah hampir membuka mulutnya lebar-lebar jika saja ia tidak langsung menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangannya. Ia tidak menyangka bahwa Najim mengalami hal yang mengerikan seperti itu ketika masih anak-anak.
"Aduh Man...",
"Kenapa Bi?",
"Najim pasti tidak bisa melupakan peristiwa itu...", Pandangan Bi Inah sedikit memelas sambil sekilas melirik Najim.
"Jelas Bi, dia setiap kali lewat gubuk kandang ayam itu pasti menunduk sambil menutup mata, kadang saya dorong dia ke arah gubuk itu sampai dia marah...",Giman setengah tertawa. Walau ia merasa menyesal mengerjai adiknya seperti itu, tetap saja itu adalah hal yang selalu membuatnya tertawa.
"Tapi Man, kenapa Babah tidak merubuhkan kandang ayam itu saja?, Babah malah memperbaikinya...", Seandainya saja Bibi ada di posisi kakek, mungkin ia memilih untuk membuat kandang baru yang jauh lebih baik namun tidak di lokasi yang sama dengan kandang sebelumnya.
"Hmm...yang saya tahu Babah memang tidak ingin memindahkan lokasi kandang ayam itu..", Giman menunjuk dengan dagunya kandang ayam berbentuk gubuk yang tak jauh dari mereka.
"Sekarang memang keliatan usang Bi, namun dulu sebelum di perbaiki keadaannya jauh lebih usang, dan kandang yang dulu di pakai Babah buat nempatin ayam dari gubuk kandang ini malah belum diisi lagi sampai sekarang...",
"Kadang tiap pagi saya suka di suruh Enah buat memberi makan dedak ke kandang ayam itu..", Bibi jadi setengah bergidik, entah apa yang akan terjadi apabila ia mengalami hal yang sama dengan Najim.
"Yah.., berdo'a saja Bi. Cuma itu yang bisa kita lakukan kan?. Tapi pas Bi Inah masuk ke kandang buat kasih dedak tidak ada apa-apa kan?", Bi Inah hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Tak terasa waktu makan siang mereka telah selesai, Papa pun melangkah keluar dari pintu dapur untuk kembali melanjutkan pekerjaannya, diikuti dengan Giman yang langsung mengikuti langkah papa menuju bagian tengah halaman dengan yang lainnya.
"Saya duluan Bi.., hati-hati ya..", Pesan Giman singkat kepada Bi Inah sebelum ikut berjalan mengikuti langkah Papa ke tengah halaman.
*******
__ADS_1
Bi Inah baru saja sampai di teras depan rumah Nenek yang kini lampu terasnya sudah menyala terang. Mungkin sekarang sudah lewat dari jam tujuh malam, mengingat tadi ketika ia tengah bersiap-siap di rumahnya waktu masih menunjukkan sekitar jam enam lewat empat puluh menit. Ia diantar oleh Najim yang kebetulan arah tujuannya searah dengan Bi Inah yang berniat kembali ke rumah Nenek. Kemarin siang, ia mendapatkan kabar dari Najim bahwa suaminya sudah pulang ke rumah. Suaminya juga sudah tahu bahwa Bi Inah kini bekerja di rumah ini dan setelah ia menyelesaikan pekerjaannya, Bi Inah memohon ijin kepada Nenek untuk pulang ke rumahnya dan ia akan kembali ke rumah ini esok malam. Nenek yang mengetahui bahwa Bi Inah jarang bertemu dengan suaminya yang bekerja di Kota itu tentu mengizinkan Bi Inah kembali kerumahnya, namun nenek berpesan bahwa Bi Inah harus kembali ke rumah tidak boleh melebihi jam 9 malam. Ia sengaja kembali lebih awal agar bisa menyiapkan makan malam dan ia juga merasa tidak enak hati jika sampai terlambat. Bi Inah masih di teras depan menunggu Papa, Tante Alin atau Nenek yang akan membukakan pintu. Ia yang masih berdiri disana, pandangannya tak sengaja melihat ke arah pohon jambu putih yang ada di halaman rumah..., yang tak jauh dari gubuk kandang ayam itu. Ia seperti melihat sesuatu di bawah pohon jambu itu, seorang anak laki-laki. Bi Inah sedikit terheran, ini sudah malam dan sedang apa anak itu di sana?, apakah ia masih tengah asyik bermain-main?, tapi ia hanya seorang diri dan entah kenapa Bi Inah merasa ada yang aneh dengan anak itu. Bi Inah memang tidak bisa melihat jelas penampakannya, tapi..., anak itu hanya terlihat berdiri kaku di bawah pohon jambu itu tanpa bergerak sedikitpun.
"Klik.." ,
Suara pintu depan pun terbuka dan terlihat Tante Alin dari balik pintu dengan mengenakan setelan baju tidur berwarna merah muda.
"Bi Inah..., maaf ya Bi saya lama bukakan pintunya, karena tadi semuanya ada di dapur, ayo masuk Bi..", Tante Alin menyambut Bibi dengan sopan.
"Eh.., iya Ci...", Jawab Bi Inah singkat kemudian ia kembali melihat ke arah pohon jambu air itu, dan ternyata anak itu sudah tidak ada lagi di bawah pohon itu.
"Ada apa Bi?", Tante Alin menghampiri Bi Inah dan berusaha mengikuti arah pandang Bi Inah yang ternyata mengarah ke pohon jambu air yang diselubungi dengan pemandangan yang cukup gelap dari tempat mereka berdua berdiri.
"Oh, tidak ada apa-apa Ci, ayo kita masuk...", Jawab Bi Inah yang mempersilahkan Tante Alin untuk melangkah masuk terlebih dahulu. Sambil melangkah masuk ke dalam dan mengunci pintu, Bi Inah masih terpikirkan oleh sosok anak kecil yang tadi ia lihat di bawah pohon jambu. Ia berusaha mengingat sesuatu, mungkin saja ia pernah melihat atau bahkan mengenal anak itu. Namun setelah dipikir-pikir, ia memang belum pernah melihat anak itu sebelumnya. Entahlah, Bi Inah berusaha untuk tidak mengingat apa yang tadi di lihatnya, walaupun tetap merasakan ada sesuatu yang aneh dengan anak itu.
******
"Hati-hati Bi...",
Sebuah suara dari arah belakang Bi Inah yang membuatnya kaget refleks membuatnya menengok ke belakang, terlihat Papa yang masih mengenakan baju tidurnya dengan rambut yang sedikit berantakan dengan gelas belimbing yang ada di tangannya. Suara papa yang terdengar serak karena habis bangun tidur membuat Bi Inah sedikit kaget bercampur takut.
"Ya ampun Koh.., bikin Bi Inah kaget saja..",
Bi Inah mengelus dadanya yang masih gemetar karena kaget, sementara papa hanya menaikkan bahu sambil meminum air di gelas belimbing yang ia pegang.
"Maaf Bi, suara saya serak. Maklum habis bangun tidur..", Papa melirik ke arah meja dapur yang diatasnya ada bahan-bahan yang akan di masak Bi Inah untuk sarapan.
__ADS_1
"Masak sayur tauge Bi untuk sarapan?",
"I..iya Koh. Selain sayur tauge, ada tempe goreng, sambal terasi, dan ikan kembung goreng..", Bi Inah menjelaskan dengan detail menu sarapan yang kini tengah ia siapkan.
"Ikan kembungnya di buat pedas ya Bi..", kata papa yang kembali menuang air dari kendi tanah liat ke gelas belimbingnya.
Tok..Tok...Tokkk....
Suara ketukan pintu dapur yang cukup keras seketika mengalihkan perhatian papa dan Bi Inah yang langsung saling berpandangan. Hari ini masih begitu pagi, dan papa memberi isyarat pada Bi Inah adat membuka pintu dapur. Siapa yang sekiranya datang sepagi ini untuk bertamu, datang lewat pintu dapur pula. Begitu Bi Inah pintu di buka, terlihat dua orang laki-laki dengan ekspresi wajah panik dan pucat.
"Maaf, ini Bapak-bapak ada apa ya?", Bi Inah merasa sedikit heran bercampur curiga. Seharusnya mereka mengetuk pintu depan saja agar terkesan lebih sopan. Apalagi mereka datang ke rumah sepagi ini. Apakah ada sesuatu yang terjadi?.
"Anu Bi, maaf kami menggangu pagi-pagi begini, Si Engkoh yang punya rumah ada Bi?,...", Selain dua laki-laki tadi, datang dua laki-laki lainnya yang terlihat lebih muda yang melangkah mendekat. Bibi melihat mereka datang dari arah belakang, dari arah lahan kosong rumah ini.
"Saya disini, ada apa ya Pak pagi-pagi ke rumah saya?" Tanya Papa yang kini tepat di belakang Bi Inah dengan ekspresi wajah serius. Melihat ekspresi dua orang dihadapannya ini, papa merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
"A..anu Koh, maaf sekali kalau kami mengganggu pagi-pagi begini...", laki-laki itu terlihat pucat melihat wajah papa yang berkerut serius.
"Ada apa Pak?", Papa bertanya sekali lagi pada laki-laki itu.
"Di Empang belakang Koh...,ada yang tenggelam...",
"Apa?,tenggelam??siapa?", Papa langsung setengah berteriak sampai Bi Inah menutup kedua telinganya.
"Anak laki-laki Koh, dia tinggal di belakang lahan kosong sini...", Jelas laki-laki itu. Bi Inah amat terkejut mendengar bahwa yang tenggelam itu adalah seorang anak anak laki-laki. Bi Inah yang tak mau terlihat panik langsung memohon diri kepada Papa ingin melanjutkan pekerjaannya. Begitu Bi Inah melangkah kembali ke meja dapur, Ia melihat Nenek dan Tante Alin yang ternyata sedari tadi sudah berdiri di dekat meja kendi air dan termos dengan raut wajah khawatir. Mereka juga sama terkejutnya mendengar hal naas itu.
__ADS_1
Bi Inah tetap berusaha melanjutkan pekerjaannya walaupun ujung jarinya merasakan sedikit sakit karena irisan pisau tadi. Sementara Nenek dan Tante Alin kini duduk bersama Bibi di meja dapur. Dari pembicaraan papa dan warga yang datang, diketahui bahwa anak itu kemungkinan sudah tenggelam di Empang belakang sedari kemarin sore. Di pinggiran Empang di temukan korang yang masih kosong dengan joran yang sudah siap dipergunakan untuk memancing. Kemungkinan anak laki-laki itu jatuh terpeleset saat dipinggir empang dan ia tidak bisa berenang. Mendengar percakapan itu, Bi Inah hanya terdiam bercampur ketakutan. Mengingat apa yang ia lihat di bawah pohon jambu air putih itu semalam, apakah.....?????.
********