The House 1937

The House 1937
69. Pembongkaran


__ADS_3

Papa yang memang tidak ingin membuang waktu, setelah membicarakan hal ini kepada nenek terlebih dahulu dan nenek menyetujuinya , akhirnya di putuskan bahwa pembongkaran dari gudang tua untuk renovasi itu harus segera dilakukan. Di hari esok setelah Chun In memaparkan semua ceritanya, papa langsung menghubungi mandor dari tukang yang akan mengerjakan renovasi gudang tua itu. Papa ingin agar perombakan gudang itu di lakukan sehari setelah papa menelpon mereka. Papa pun tidak keberatan bila harus mengeluarkan biaya lebih atas telponnya yang mendadak ini. Tidak hanya itu, bahkan papa ingin Chun In di libatkan ketika proses pembongkaran itu dilakukan.


"Apa Engkoh tahu letak persis dari tempat perempuan itu di kuburkan?", Papa menunjukkan ekspresi penasaran yang teramat sangat.


"Itu...", Chun In menghela napas pelan, ia tahu bahwa jawabannya ini akan membuat papa kecewa, namun mau bagaimana pun papa tetap harus mengetahui kebenaran ini.


"Untuk letak persisnya saya tidak tahu Koh..., maksud saya begini...., penglihatan yang di berikan oleh Sukarsih kepada saya itu...adalah penglihatan si kejadian saat itu. Dan lahan kosong pada saat kejadian keadaannya sungguh berbeda dengan yang sekarang ini..., yg api yang pasti, tanah tempatnya di kuburkan ada di sekitar area tanah tempat berdirinya gudang tua itu...", Chun In berusaha setenang mungkin melihat ekspresi papa yang terlihat kurang senang.


"Saya tahu, mungkin jawaban saya ini membuat Koh Jun kecewa, tapi...itulah kebenarannya...",


Papa hanya terdiam dengan wajah datar, dulu almarhum kakek pernah bercerita kepadanya bahwa orang-orang seperti Babah Hwan dan Chun In ini, sekalipun mereka memiliki kelebihan dari manusia yang lain, tetap saja mereka adalah manusia yang memiliki kekurangan dan "batasan". Papa hanya bisa mengusap wajahnya dengan frustasi, rasa ia ingin mengelak, menyangkal bahwa semua ini adalah palsu. Namun tetap saja, ini semua adalah peristiwa nyata dan kebenaran yang tidak bisa di sangkalnya. Setelah dirinya kembali tenang, akhirnya ia meminta Chun ain untuk melihat langsung proses pembongkaran gudang tua itu.


"Apa Engkoh sudah mendingan?,", Papa mulai sedikit berbasa-basi demi etika kesopanan dengan menanyai keadaan Chun In, mau bagaimanapun laki-laki dihadapannya menjadi seperti ini akibat dirinya yang mengundang Chun In ke rumah ini.


"Saya sudah lebih baik Koh, Terima Kasih...", Chun In sampai sedikit menegakkan punggungnya, ucapan papa tadi adalah hal yang tidak ia perkirakan.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu ..", Papa menghela napas lega. Papa sempat berpikir untuk melakukan persiapan jika nanti ada sesuatu yang buruk terjadi kepada putra Babah Hwan ini.


"Engkoh tidak usah khawatir, saya baik-baik saja, setidaknya tidak seperti kemarin...", Chun In tahu papa merasa sangat khawatir,


"Baik Koh,...saya akan ikut melihat langsung proses pembongkarannya...",


******


Sehari setelah Papa menelpon mandor bangunan itu, akhirnya pembongkaran gudang tua itu dilakukan juga hari ini. Papa sempat berbicara sebentar dengan sang mandor bangunan mengenai tambahan biaya yang harus dikeluarkan papa akibat papa yang meminta pembongkaran gudang lebih cepat dari yang sebelumnya di sepakati, sekitar tiga sampai empat hari setelah dilakukan pengecekan. Papa yang terlihat berbicara dengan sang mandor di bagian halaman belakang, sementara Tante Alin, Bi Inah dan Chun In tengah berkumpul di teras bagian depan rumah sambil memperhatikan para tukang yang mulai memenuhi area sekitar gudang tua itu.


Jumlah tukang yang cukup banyak, dan material bangunan dari gudang tua itu yang hanya berupa kayu dan besi tua yang terlihat sudah lapuk memudahkan mereka untuk melakukan proses pembongkaran gudang setelah semua barang yang ada di dalam gudang itu. Semua barang itu kini ada persis di bagian samping dekat dengan dinding luar dapur. Semua perabotan itu terlihat kotor,berdebu, bahkan ada lemari tua yang terlihat kayunya sudah lapuk di sana-sini. Tante Alin yang melihat isi gudang yang terlihat menyedihkan itu, sangat menyayangkan keadaannya sampai tidak terawat seperti itu, karena hampir semua barang-barang itu adalah peninggalan dari almarhum kakek semasa hidup.


"Iya Bi, itu barang-barang lama dari Babah masih ada. Karena ukurannya makan tempat di dalam rumah, jadi di taruh sama Enah di gudang itu...", Jelas Tante Alin seadanya, karena memang hanya itu yang ia tahu.


Setelah menunggu hampir siang hari, kini pemandangan di depan mereka bertiga menunjukkan jika gudang itu hanya tersisa kerangka saja, Papa melirik ke teras depan dimana hanya Tante Alin yang masih ada di sana menemani Chun In mengobrol. Sedangkan Bi Inah sudah kembali ke dapur untuk melakukan pekerjaannya. Chun In yang dilirik seperti itu oleh papa seolah mengerti dan Chun In bilang kepada Tante Alin bahwa ia akan menghampiri papa di halaman belakang. Chun In yang melangkah ke arah belakang sedikit terganggu dengan banyaknya debu yang berterbangan. Sekilas aroma menyengat dan lembab dari gudang tua yang telah hancur itu sedikit menguar. Chun In mengibaskan tangannya dan menghampiri Papa yang menutup area hidung dan mulutnya dengan sapu tangan.

__ADS_1


"Ada apa Koh?", Chun In sampai terbatuk karena banyaknya debu yang berterbangan. Salah satu tukang bangunan memang sudah memperingatkan mereka berdua, jika proses pembongkaran ini akan mengakibatkan banyak debu dari sisa bangunan yang berterbangan kemana-mana, yang sudah tentu akan menggangu penglihatan dan penciuman. Namun papa bersikeras mengatakan ia tidak apa-apa berada di area belakang ini.


"Nanti tolong lihat Koh yang di sebelah mana tanahnya.., bisa Koh?", Mata papa setengah terpejam karena debu yang sangat mengganggu, namu ia masih bisa melihat Chun In walau tidak terlalu jelas.


"Iya Koh, saya lihat dulu...", Chun In melirik meja kayu kecil reyot dengan teko ikutan sedang dengan beberapa gelas belimbing berisi sisa teh.


Begitu Ia mengalihkan kembali pandangannya ke area gudang yang sudah runtuh itu. Chun In terlihat terkejut karena....


Sukarsih ada di sana !


Ya, Chun In yakin, sosok perempuan yang berdiri di tanah bekas gudang tua itu, itulah dirinya. Ia berdiri di antara para tukang bangunan yang masih sibuk membereskan sisa-sisa material berupa kayu dan besi tua bekas gudang itu. Chun In seketika merasa gugup, jantungnya berdetak cepat, ia jadi ingat peristiwa kemarin siang di dalam gudang tua itu yang membuatnya 'tumbang'.


Papa yang melirik Chun In, dan melihat putra dari Babah Hwan itu menatap ke area tanah gudang itu dengan tatapan terkejut seperti itu, ia menduga, laki-laki ini pasti melihat sesuatu yang tidak ia lihat.


"Ada Apa Koh?, kok keliatan kaget begitu?", Papa mengikuti arah pandang Chun In, namun yang ia lihat hanya reruntuhan gudang dan para tukang bangunan yang sibuk dengan pekerjaannya.

__ADS_1


"Saya melihatnya Koh..., Sukarsih...",Jawab Chun In dengan nada tercekat.


**********


__ADS_2