
Malam ini papa akan melakukan sesi jaga malam di luar rumah mengingat peristiwa hilangnya entok milik nenek beberapa waktu yang lalu. Sebelumnya papa telah mendiskusikan hal ini kepada nenek untuk mencegah hal serupa terjadi kembali. Jika kasus pencurian itu sampai terulang kembali, tentu saja papa yang akan dibuat pusing. Selain harus berusaha mencari pelaku pencurian itu, papa juga tidak ingin nenek mengeluarkan sikap rewelnya lagi. Papa yang pada waktu itu sedang di kamar nenek dan membahas hal ini secara empat mata, sejenak nenek agak ragu mengenai usul yang Papa sampaikan kepadanya. Keraguan nenek timbul karena papa ingin melakukan sesi jaga malam itu seorang diri saja, tanpa ada yang menemaninya sama sekali.
"Bahaya Jun kalo lu jaga malam sendirian di luar rumah..., gua sih gapapa lu jaga diluar. Cuma lu jangan jaga sendirian...", Nenek menepuk bahu putranya itu dengan tangannya yang sudah terlihat berkeriput, ia tahu bahwa putranya ini memang sedikit keras kepala bila ia teramat ingin melakukan sesuatu, tidak peduli itu bahaya atau tidak.
"Yah gimana Nah, Jun udah nanya ke Pak Tani, sama Giman dan Najim juga, mereka bilang ga bisa nemenin Jin buat jaga malem di luar nanti. Ya..., mau ga mau Nah...", Papa mengangkat bahunya santai yang langsung dicubit oleh Nenek.
"Kalo sampe ada malingnya terus bawa senjata kan bahaya..", Jawab nenekku yang setengah kesal.
"Tenang aja Nah, kan Jun bawa juga...", Papaku mulai bersikeras.
"Emangnya nunggu mereka sampe bisa jaga sama lu ga bisa ya?", Tanya nenek sambil memijat-mijat lututnya yang terasa sakit dan melihat nenek yang memijat lutut nya papa langsung berinisiatif memberikan pijatan yang sedikit lebih bertenaga dan membuatnya merasa nyaman.
"Ya nanti Nah kalo mau jaga lagi, kalo malam ini sih Jun sendirian aja dulu...", Jawab papa dengan tatapan yang meyakinkan.
"Iya,, tapi lu hati-hati ya..", jawab nenek sekenanya, melihat kemauan papa yang kuat seperti itu nenek hanya bisa menghela napas dan berharap semoga tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan.
"Jun takut setelah kemarin entok Enah yang diambil, takutnya nanti ada yang mau ambil ayam Enah juga...",
"Menurut lu begitu?",
Papa menganggukkan kepala.
"Iya Nah, biarpun letak kandangnya ngga sejauh kandang entok, tapi Jun merasa bakalan tetep ada yang mau ambil ayam-ayam itu..."
__ADS_1
"Ya udah, nanti malam lu siap-siap aja buat jaganya...",
*****
Papa duduk di bale panjang yang ada di teras depan sambil mengisap rokok kretek miliknya dan ditemani segelas teh tawar hangat dan juga sepiring kecil singkong rebus yang tadi diantarkan oleh bibi. Malam ini tidak terlalu dingin dan papa sedikit mengibaskan sarung yang ia bawa untuk mengusir nyamuk yang memang jumlahnya cukup banyak ketika malam seperti ini. Ia mengamati jalanan di depan rumah yang sekarang sudah mulai banyak kendaraan yang berlalu lalang, walaupun di malam hari masih sangat sepi seperti biasa. Sejak pemasangan listrik yang semakin banyak di daerah ini membuat jalanan dan rumah-rumah warga semakin terang benderang sehingga tidak membuat orang-orang kesulitan atau merasa takut jika mengakses jalanan ini dan sekitarnya di malam hari. Rumah nenek pun sudah di pasang arus listrik sehingga rumah lebih terang dengan lampu listrik modern dan mampu menggunakan alat-alat elektronik lainnya seperti kipas angin, lemari es, dan setrika listrik. Di tengah lamunannya ia mendengar suara pintu terbuka dan terlihat Tanteku yang berdiri di ambang pintu dan menghampiri papa yang terlihat keheranan.
"Kenapa Ko?, kaya heran gitu?", Tanteku mengambil posisi duduk persis di sebelah gelas teh panas dan piring kecil berisi singkong rebus yang tampaknya mulai dingin karena papa hanya memakan satu buah saja.
"Bukannya tidur Lin, malah kemari...", Papaku kembali menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Koko jangan sering-sering merokoknya, nanti kaya Babah loh....", Tanteku memperingatkan papa Tentang almarhum kakek yang memang telah meninggal dunia akibat penyakit paru-parunya yang sudah akut. Penyakit itu diderita kakek karena kakek adalah seorang perokok berat.
"Si Toni ngga lu kasih tau begitu...", Papa menyebutkan nama omku dengan nada jengkel.
"Ya, gue ga sering-sering kok. Enah udah tau juga gua ngerokok..", Papaku setengah tertawa dengan ekspresi Tante yang cemberut.
"Foto yang waktu itu Alin ceritain udah dibakar ko...", Mendengar tanteku bicara mengenai foto, papaku langsung menengok kearahnya dengan wajah seriusnya.
"Baguslah Lin, emang harus di bakar fotonya.., kalo ngga takutnya "ngikut" terus kesini...", Papa sudah tahu perihal yang terjadi pada Tante ketika peristiwa mati lampu di tengah malam yang sedang turun hujan waktu itu. Ketika papa mendengar cerita Tante yang cukup menyeramkan itu, dia memang menyarankan harus membakar foto itu agar makhluk hitam menyeramkan yang ikut terfoto itu tidak mengikutinya kembali.
"Ko.., sampai kapan ya kita harus tinggal di rumah ini terus?, Koko tau kan kenapa...", Tante memegang lengan Papa dan papa hanya memandangnya dengan tatapan datar dan sedikit pasrah.
"Jangan pernah ngarep pindah apalagi menjual rumah ini Lin, Enah udah jelas ngga setuju buat itu. Lu kan tau ini rumah kenang-kenangan dari Babah...", Papa juga berpikir jika ada pilihan lain selain harus tinggal di rumah ini, mungkin ia akan mempertimbangkan pilihan lain itu saja.
__ADS_1
"Jaga malamnya sampe jam berapa ko?", Tante melihat wajah papa yang sedikit tidak sinkron antara keinginan papa untuk melakukan jaga malam dan wajahnya yang terlihat malas-malasan. Tapi Tante tahu betul jika papa ingin melakukan sesuatu, maka ia akan benar-benar melakukannya, seperti insiden entok milik Enah yang hilang beberapa waktu lalu.
"Kalo keadaan aman ya selesainya cepet, kalo ngga ya.., mungkin sampe pagi...", Papaku meledek Tante lagi yang dibalas dengan pukulan ringan Tante di bahunya.
"Kalo ada apa-apa langsung ketok pintu depan ya..", Tante ku berlalu begitu saja dan masuk ke dalam rumah.
********
Papa mulai melakukan kegiatan berjaga malamnya ini dengan berkeliling beberapa kali di sekitar rumah saja. Sebenarnya ia ingin juga menyusuri bagian belakang rumah, namun ia mengurungkan niatnya itu. Berjaga malam dan melihat bagian belakang rumah nanti akan ia lakukan di jaga malam berikutnya saja, bersama pak Tani beserta Giman dan Najim. Beberapa warga yang tengah melakukan siskamling dan lewat didepan rumah sempat menyapa papa sebentar dan bertanya tentang kegiatan jaga malam yang dilakukannya.
"Tumben Koh jaga malem di rumah..", Tanya salah seorang warga yang dari kelompok siskamling itu.
"Iya pak, kan kemaren Entok Enah saya hilang beberapa. Makanya saya jaga malem supaya ga ada kejadian hilang lagi...",
"Oh iya Koh saya sempet denger, ada yg Entoknya hilang. Ternyata itu punya Enah ya...",
"Iya pak, kemarin pas kejadian pusing saya Enah rewel banget pas tau Entoknya hilang. Makanya saya sekarang jaga malem..",
"Iya Koh di daerah rumah saya juga suka ada yang kemalingan, ayam atau entoknya ada saja yang hilang..., ada juga yang siskamling disana..",
Setelah mengobrol singkat, para warga yang siskamling tadi mohon diri untuk berkeliling kembali dan papa melanjutkan tugas jaga malamnya. Malam ini memang terasa dingin, namun juga tidak nyaman dengan suara dengungan nyamuk yang cukup berisik sampai-sampai papa harus mengibaskan sarung di pinggangnya itu sambil sesekali mengawasi sekitar dengan lampu senter ditangannya.Mendadak sinar dari lampu senter ditangannya seperti menangkap sesuatu yang bergerak namun ia tidak bisa melihatnya dengan jelas karena sesuatu yang bergerak itu sangat cepat dan papa kembali menggerakkan lampu senternya untuk bisa melihat lebih jelas sesuatu yang bergerak itu. Terdengar lagi seperti ada yang bergerak dan papa setengah berlari untuk menuju sumber suara dan ternyata itu berasal dari sekitar kandang ayam milik nenek dan papa mengalihkan sinar lampu senternya kearah lain, karena papa takut lampu senter itu akan mengejutkan membangunkan ayam-ayam yang ada di dalam kandang dan membuat suara kokokan yang sangat berisik. Papa memperhatikan sejenak kandang ayam itu, dan reflek menoleh ke arah sinar lampu senternya itu menyala dan ternyata sinar dari lampu itu menyala ke sumur tua yang ada di tengah-tengah antara kandang ayam dan gudang perabotan tua milik nenek. Sumur itu memang sudah jarang dipergunakan sejak nenek memasang mesin pompa air di kamar mandi. Dan yang membuat papa terkejut adalah ada sesosok makhluk berkulit putih pucat dengan rambut panjang terburai seperti sedang berjongkok seolah-olah melindungi dirinya dari sinar lampu senter itu dan dengan secepat kilat ia masuk ke dalam sumur itu dengan tatapan mata yang kosong dan hanya berupa kornea matanya saja yang langsung membuat papa bergidik ketakutan dan langsung berlari kembali ke arah teras depan rumah. Ia ingat seharusnya memang sumur tua itu diratakan saja mengingat sudah jarang sekali sumur itu dipergunakan.
__ADS_1