
Gelap....namun perlahan tapi pasti, penglihatan itu mulai terlihat jelas...
Terlihat perempuan itu...Cantik.
Dengan kulit kuning Langsat yang membuatnya terlihat berkilau, serta dirinya yang pandai menari, membuat dirinya cukup terkenal sebagai seorang penari yang sangat di gemari oleh para laki-laki. Sukarsih, demikian nama perempuan itu. Sejak di usia remaja, dirinya sudah aktif mengikuti ibunya dari satu langkah ke langkah yang lain untuk menari di berbagai tempat. Dirinya berbakat menari di usianya yang cukup muda, ibunya sering memberikan "pelajaran" khusus menari untuknya dan berhias diri untuk mengenakan kostum, selain mengikuti jadwal ibunya menari dengan rombongannya. Menginjak remaja, paras kecantikannya semakin memancar terlihat, yang sebagian besar orang melihat Sukarsih sangat mirip dengan ibunya, seperti duplikat.
Seiring berjalannya waktu, akhirnya Sukarsih mulai menggantikan banyak panggilan pekerjaan ibunya untuk menari. Namanya semakin banyak di kenal orang, terutama para lelaki yang banyak mengantri untuk mendekati dirinya. Sukarsih hanya bisa tersenyum untuk itu semua, karena saat ini yang paling penting bagi dirinya adalah banyaknya panggilan pekerjaan dan uang yang berlimpah. Masa kecilnya yang sangat berat dimana ibunya yang berusaha keras banting tulang mencari nafkah, sementara ayahnya sendiri hanyalah laki-laki pemalas yang suka memeras dan selalu bersikap kasar kepada ibunya. Ia menyimpan trauma akan hal itu, maka dari itu melirik seorang laki-laki untuk menjadi pasangannya adalah hal yang bukan prioritasnya saat ini.
Namun, lambat lain tetap saja...,
dirinya hanyalah seorang manusia biasa yang tidak bisa menebak apa yang akan terjadi di kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian ini. Dirinya ternyata mulai dilirik oleh salah seorang putra dari tuan tanah yang cukup terkenal di wilayah tempat tinggalnya. Dirinya sendiri tidak menyangka bahwa dirinya yang memang hanya seorang penari ini mampu memikat hati seseorang yang memiliki kedudukan yang cukup berpengaruh di wilayah itu. Dirinya, sudah tentu merasa sangat senang, sebagai seorang wanita yang mampu menarik perhatian laki-laki dari kalangan penting itu, apalagi secara rutin sang putra tuan tanah selalu memberinya Hadiah yang diberikan kepadanya melalui orang kepercayaan si putra tuan tanah. Ibunya pun sangat senang mendengar hal ini, namun Sukarsih berpesan. kepada ibunya agar jangan mengatakan hal ini kepada siapapun.
__ADS_1
"Apa kamu tidak bisa minta hadiah yang lebih besar lagi?", Ibunya yang bisa dibilang materialistis itu sangat berbinar matanya ketika melihat hadiah-hadiah yang terlihat bagus dan mahal itu dihadapannya, mulai dari aneka perhiasan sampai pakaian yang terlihat mahal.
"Mana bisa begitu Bu?, Karsih kan bukan siapa-siapanya.., Karsih cuma bisa terima sekasihnya saja, Bu..", Sukarsih hanya bisa menghela napas melihat ibunya yang masih terlihat berbinar itu, sebenarnya ia merasa segan dan tidak enak hati untuk menerima semua hadiah ini. Namun, ibunya sangat memaksa dirinya untuk menerima itu semua tanpa memikirkan apapun, karena bagi ibunya, selama semua barang ini memang di berikan untuknya, bukan dari hasil mencuri. Sukarsih pantas untuk menerimanya dengan tangan terbuka.
"Siapa tahu jika kamu meminta lebih, dia mau memberikannya, kamu lihat saja ini semua. Tidak sekali dia kasih mau banyak hadiah ini...",
Sukarsih hanya terdiam, ia ingin menerima hadiah-hadiah ini semata-mata karena untuk ibunya, bukan untuk dirinya sendiri. Yang sudah merasa puas dengan penghasilannya sebagai seorang penari.
Namun sayangnya, segala kelebihan yang ada pada calon istri pilihan dari orangtuanya. Perhatiannya lebih tertuju kepada Sukarsih, seorang penari atau si "kembang latar" yang kini namanya semakin tersohor. Dirinya banyak mendapat panggilan untuk menari, salah satunya menari di acara syukuran panen yang diadakan oleh ayahnya sendiri. Parasnya yang elok rupawan serta kepiawaiannya menari, sangat menarik perhatiannya. Diantara semua penari yang ada, keberadaan Sukarsih bisa dibilang cukup menonjol dengan kulitnya yang cukup cerah dibandingkan dengan penari-penari lainnya. Ia sampai sempat beberapa kali melalui orang kepercayaannya, Sarni, untuk menyerahkan beberapa hadiah kepada Sukarsih, tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya.
Dirinya yang selama ini diam-diam memberikan hadiah kepada Sukarsih rupanya telah diketahui orang calon istrinya itu. Hal itu ia ketahui dengan memerintahkan salah satu centeng dari ayahnya untuk mengintai Sudarmo, karena ia merasakan seperti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh calon suaminya itu. Dan benar saja firasatnya, Sudarmo memendam rasa kepada seorang perempuan yang hanya seorang "kembang latar", ia sangat marah ketika mengetahui hal ini. Ia yang bagai bunga indah terawat dengan segala yang dimilikinya, tentu saja merasa sangat berang karena kalah saing dengan setangkai bunga liar yang tumbuh menggangu seperti gulma.
__ADS_1
"Langkah apa yang selanjutnya harus dilakukan, Nyi?", Sakam, Centeng dari ayahnya yang diperintahkan untuk mengintai Sudarmo menunggu perintah selanjutnya dari putri majikannya itu.
"Aku mau penari jalanan itu disingkirkan, aku tidak peduli bagaimana caranya, ia harus disingkirkan...", Perempuan itu menggores lehernya sendiri dengan ibu jarinya, mengisyaratkan bahwa ia ingin melenyapkan nyawa Sukarsih.
Namun ia mengerti, bahwa agar semua yang diinginkannya berjalan dengan berhasil. Ia sama sekali tidak boleh gegabah dan ceroboh. Karena apa yang akan dilakukannya adalah hal yang sangat beresiko tinggi, jika sampai gegabah, bisa-bisa ia ketahuan dan bisa kehilangan muka atas perbuatannya sendiri.
"Nyai susah memikirkan bagaimana caranya?", Sakam sebagai Centeng yang sudah bekerja lama dengan majikannya, ia cukup paham dengan sifat dari putri majikannya ini yang emang mirip dengan ayahnya, angkuh dan ingin mendapatkan apapun yang diinginkannya dengan cara apapun.
"Aku belum berpikir sampai kesana.., tunggu saja nanti perintah dariku...",
__ADS_1
*******