
Musim panen untuk yang kesekian kalinya telah datang kembali. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, terlihat Papa dan para petani mengeluarkan karung-karung padi dari gudangnya untuk melakukan proses penjemuran padi di tanah lapang yang ada di samping halaman rumah. Setelah menggelar semacam terpal yang ukurannya hampir menyerupai tanah lapang itu, barulah para petani mengeluarkan gabah dari karungnya, gabah adalah bulir padi yang sudah tidak bertangkai namun masih dilapisi oleh kulit padi.
Setelah semua gabah itu telah di keluarkan, para petani akan menggunakan semacam alat untuk meratakannya agar semua gabah itu memenuhi terpal secara merata dan agar gabah itu mendapatkan sinar matahari secara optimal. Bi Inah sedari pagi pun sibuk menyiapkan dan membawakan suguhan untuk para petani yang tengah sibuk mengurus gabah itu, tadi pagi ia membawakan cangkir kopi hitam yang masih panas dalam jumlah banyak, aneka kue jajanan pasar berwarna warni, dan satu teko besar berisi air putih dengan beberapa gelas kaca yang bi Inah susun rapi di atas nampan.
******
Tak terasa waktu makan siang sudah tiba, Papa dan para pekerja menghentikan sejenak pekerjaan mereka untuk menikmati makan siang yang sudah di siapkan oleh Bi Inah. Nasi putih dan aneka lauk pauk hangat seperti sayur asam, ikan kembung goreng, tahu dan tempe goreng, jengkol pedas, serta tidak ketinggalan sambal terasi yang sangat menggugah selera. Sebelumnya Nenek memang sudah memberi tahu Bi Inah untuk memasak dengan porsi yang cukup banyak untuk hari ini. Para petani yang bekerja di sawah milik keluarga nenek tidak hanya melakukan pekerjaannya di sawah saja, tetapi mereka juga turut andil ketika melakukan proses pengangkutan karung padi atau proses penjemuran padi seperti sekarang ini. Ketika papa hendak bersantap siang bersama yang lainnya di bagian samping rumah, Bi Inah menghampiri Papa dan berkata bahwa makan siang milik papa sendiri sudah disiapkannya di meja makan dapur.
"Kenapa di siapin di meja makan dapur Bi?, saya kan makan disini juga...", Papa memandang bergantian antara Bi Inah dengan orang-orangnya yang sudah siap menikmati makan siang mereka dengan piring yang sudah terisi nasi hangat beserta lauk pauknya.
"Aduh,, maaf Koh. Saya kira Engkoh makannya misah.., jadi saya siapkan makannya di dapur..",
Papa hanya menghela napas pelan, papa ingat bahwa Bi Inah memang belum lama bekerja di rumah ini, wajar saja ia belum tahu bahwa jika sedang makan siang setelah mengurus penjemuran padi, papa ikut makan siang bersama para pekerja lainnya di luar rumah.
"Ya sudah bi, tidak apa-apa saya makan di dapur. Tapi buat lain kali, kalo makan siang setelah jemur padi, saya biasa makan siang di luar juga bareng yang lain...", Bi Inah mengangguk mengerti, kemudian papa langsung melangkah masuk ke pintu belakang dapur.
Giman yang tengah menikmati santap siangnya pun menghampiri Bi Inah untuk mempersilahkan Bibi duduk di samping teras samping rumah ini, untuk menemaninya makan siang dan mengobrol.
__ADS_1
"Bi udah berapa lama kerja di Enah?", Tanya Giman sambil meminum segelas air putih di tangannya.
"Sekitar seminggu Man, saya kerja disini. Makan siangnya bagaimana Man?, enak ga?",
"Enak Bi, saya suka sayur asamnya..", Giman mengacungkan ibu jarinya, ia cukup puas dengan masakan Bi Inah yang tak kalah dengan masakan almarhumah Bibi.
"Man, saya mau tanya, kamu sudah lama ya kerja sama Enah disini, omong-omong Bapak kemana Man?, Bibi dari tadi tidak lihat Bapak disini...",, Bi Inah mulai membuka pembicaraan.
"Ya..., saya kerja disini sudah lama Bi. Sejak saya lulus SMA,saya sudah ikut Bapak kerja sama Engkoh..., Bapak lagi ngecek gudang yang ada di deket sawah Bi, padi yang sudah panen itu tidak cukup kalau disimpan di satu gudang saja. Tapi kok, itu kenapa si Engkoh ke dapur terus belum kembali kesini ya?",
Bi Inah tertawa kecil mendengar pertanyaan Giman.
"Iya Man, si Engkoh makan siangnya di dapur, saya siapkan makan siangnya si Engkoh di meja dapur, Man. Sebetulnya saya sudah tahu kalau lagi jemur padi begini, si Engkoh makan siangnya juga si luar sama yang lain, saya tahu dari Najim....", Bibi melirik Najim yang kini tengah sibuk bersantap siangnya sambil mengobrol dengan para pekerja lainnya yang jarak duduknya agak jauh dari mereka berdua.
"Kenapa makan siangnya Engkoh malah di dapur Bi?, Hati-hati Bi sama si Engkoh, jangan main-main..., Engkoh galak orangnya...", Giman mencoba mengingatkan tetangga adiknya itu agar tidak bertindak sembarangan seperti ini lagi. Majikannya itu mungkin saja memberi Bi Inah toleransi karena masih baru bekerja di rumah ini.
"Galaknya Engkoh sampai segitunya Man?", Bi Inah merasa penasaran sekaligus ngeri.
"Si Engkoh Jun sebenernya ngga banyak ngomong Bi, hanya saja jika sudah marah..., nanti juga Bi Inah lihat sendiri...", Giman malah menunjukkan mimik wajah setengah geli melihat Bi Inah yang yang langsung pucat mendengar ceritanya dan malah mendapatkan cubitan yang cukup keras dari Bi Inah di lengannya.
__ADS_1
"Sebenarnya saya melakukan itu agar saya bisa cerita lebih leluasa Man, saya tidak enak hati kalau sampai kedengaran sama Engkoh, saya kan belum lama kerja...",
"Cerita?, cerita apa Bi?, Bi Inah ga betah di rumah Enah?", Tanya Giman penasaran.
"Bukan itu, Enah sama keluarganya Baik sama saya Man. Cuma....",
"Cuma apa Bi...?",
"Ternyata apa yang orang-orang bilang itu benar Man. Maksud saya soal rumah ini. Sebelumnya memang saya pernah dengar kalau rumah ini itu angker. Dua malam saya diganggu Man...", Napas Bi Inah sampai tercekat untuk menyelesaikan kalimatnya. Giman yang mendengarnya hanya bisa membelalakkan mata, merasa terkejut atas apa yang disampaikan oleh Bi Inah.
"Diganggu...?, Bi Inah diganggu seperti apa?," Giman bertanya dengan nada hati-hati, lalu sedikit melirik ke para pekerja lainnya yang masih menikmati makan siang mereka, Giman memastikan agar pembicaraannya ini tidak bisa terdengar oleh pekerja lainnya.
Bi Inah menghela napas sejenak dan kemudian mulai menceritakan kronologi gangguan yang ia alami di rumah nenek beberapa waktu yang lalu. Mendengar cerita Bi Inah, Giman menarik napas pendek-pendek. Di luar sana Giman memang tidak menampik bahwa berita mengenai rumah majikannya yang angker ini sudah tersebar lewat cerita dari mulut ke mulut. Namun, ada saja orang-orang tidak bertanggung jawab yang menambahkan cerita yang sudah tersebar itu dengan bumbu-bumbu yang cenderung melebih-lebihkan entah untuk tujuan apa mereka melakukan hal itu. Ia sendiri berpikir mungkin mereka yang melakukan itu adalah orang-orang yang iri dengan kehidupan keluarga yang memiliki finansial mapan seperti keluarga Papa.
"Ya Bi..., memang saya akui rumah ini...angker, tapi selebihnya Bibi jangan terlalu percaya ya Bi. Waktu itu saya denger dari Enah, Engkoh marah waktu tau ada yang bilang kalau rumahnya ini angker karena pesugihan..., tolong kalau keluar jangan bicara macam-macam ya Bi..." Giman berbicara dengan setengah berbisik.
"Ya Man, saya tidak percaya kalau keluarga si Engkoh seperti itu. Mereka baik.., rajin ibadah juga...", Jawab Bi Inah yang juga setengah berbisik namun dengan intonasi tegas.
"Sebenarnya memang tidak hanya rumah ini Bi yang angker..., gudang padi di belakang rumah ini juga angker Bi..., saya pernah mengalaminya sendiri....",
__ADS_1
"Memangnya ada apa dengan gudang padi belakang Man?",
*****