
Papa masuk ke dalam kamarnya dengan keadaan rambut setengah basah dengan handuk kecil yang terlampir di bahu kirinya. Papa menyalakan kipas angin yang ada di bagian pojok kamar dan menaruh handuk kecil itu di atas kepala tempat tidur. Ia duduk di pinggir ranjang sambil meminum kopi hitam hangat yang tadi ia buat sendiri di dapur. Hari ini memang melelahkan untuknya, seharian ini tokonya di Pasar cukup ramai didatangi pembeli. Maklum saja, di Pasar tempat toko Papa berasa di tiap akhir pekan memang selalu ramai di datangi para pembeli.
Tak hanya tokonya sendiri yang ramai, toko dari Herman yang ada tepat di seberang tokonya pun sama ramainya. Sambil menyeruput kopi hitamnya, ia mendadak teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu, lebih tepatnya ketika mama menginap di rumah ini. Secara tak sengaja Papa menguping pembicaraan mereka berdua diambang pintu dapur, suara mereka berdua jelas terdengar karena keadaan rumah yang memang sepi. Ketika itu papa yang ingin mengambil air di dapur dan langkahnya terhenti ketika mendengar suara Tante Alin bercerita kepada Mama tentang kejadian mengerikan yang di alami adiknya itu semasa kecil, yang ternyata pernah melihat sosok hitam nan mengerikan yang berjongkok di atas tempat tidurnya. Papa ingat peristiwa itu, saudara bungsunya itu memang terlihat sangat takut ketika melihat keadaan kamarnya yang saat itu tengah gelap gulita. Ia sempat terheran mengapa adiknya sampai ketakutan seperti itu, padahal seingat dirinya di kamarnya tidak ada siapapun selain dirinya sendiri, yang pada waktu itu memang belum tahu mengenai yang sebenarnya.
Papa menaruh gelas kopinya yang kini hanya tersisa ampas kopinya saja di meja dapur, lalu bergegas menuju kamar Tante Alin. Ia ingin menanyakan lebih lanjut perihal makhluk mengerikan yang ia lihat pada waktu itu. Karena setelah ketidaksengajaan mendengar cerita adiknya itu, papa jadi teringat kembali akan sesuatu yang pernah terjadi pada dirinya, dan jika diingat kembali itu sudah lama sekali. Papa yang berjalan cepat melewati Nenek yang kini tengah duduk di kursinya di ruang keluarga mengerutkan alisnya karena putra bungsunya itu berjalan sangat cepat, seperti sedang terburu-buru.
"Kemana Jun?", Tanya Nenek singkat lalu pandangannya kembali ke layar televisi yang menyala.
"Alin Nah..", Jawab Papa singkat, kini ia berada di depan pintu kamar Tante Alin dan perlahan mulai mengetuk pintu kamar. Tidak berapa lama Tante membuka pintu kamarnya, ia mengenakan piyama berwarna merah dengan jaket rajut abu-abu muda. Tante terlihat sedikit heran karena tidak biasanya Papa datang ke kamarnya.
"Koko?, kenapa?", Papa langsung mendorong pintu kamar itu agar ia bisa masuk ke dalam, menarik dan mendudukkan Tante Alin di pinggir ranjang yang masih kebingungan.
"Ada apa sih Ko?,", Kini papa mengambil posisi duduk di sebelahnya.
"Koko mau nanya yang waktu itu...",
"Nanya...apa?",
"Waktu Yuli lagi menginap disini....",
__ADS_1
"Oh itu, kenapa ko pas Yuli disini?",
"Koko sebenarnya waktu itu ga sengaja dengar lu cerita sama Yuli soal kejadian itu..., Koko inget...",
"Apa?", Tante membelalakkan mata, ia terkejut ternyata Papa mendengar pembicaraannya dengan Mama mengenai peristiwa itu.
"Iya..,waktu itu...",
Papa kembali menanyakan kepada Tante perihal sosok mengerikan yang dilihat Tante pada waktu itu. Tante sampai menutup mulutnya ketika mendengar ciri-ciri yang tadi disebutkan oleh Papa.
"Koko pernah lihat juga?, cirinya sama persis Ko...", Apakah Saudara laki-lakinya itu telah melihat makhluk mengerikan itu dengan mata kepalanya sendiri?.
********
Dingin...
Gelap...
Papa membutuhkan waktu beberapa menit untuk perlahan mengumpulkan kesadarannya.
__ADS_1
Dimana ini?,
Entahlah, dalam pemandangannya terlihat gelap gulita dan terasa aneh. Tak hanya itu, rasa dingin pun menusuk kulitnya bagaikan puluhan ujung jarum tajam yang menyentuh permukaan kulitnya sekaligus. Ia mencoba menggerakkan sedikit kepalanya yang terasa kaku, setiap pergerakannya terasa sangat lambat karena memang sesulit itu ia menggerakkan lehernya sendiri.
Ia mulai berfikir, ada apa ini?. Mengapa ia seperti sulit sekali untuk menggerakkan tubuhnya sendiri. Seperti ada sesuatu yang membuatnya sulit sekali untuk bergerak, bahkan ia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyadari bahwa saat ini ia tengah berbaring di tempat tidur di kamarnya sendiri !.
Papa mulai menelan ludah, ia merasa keheranan atas kondisi tubuhnya yang seperti itu. Suhu kamarnya sendiri pun tetap tidak berubah, suhunya sangat rendah hingga membuat kedua telapak tangan dan telapak kakinya mulai terasa beku dan kaku.
Papa mulai menarik napas pendek-pendek untuk menstabilkan napas dan detak jantungnya yang mulai berdetak kencang. Dalam hatinya sekarang ini memang ia merasa takut, tapi ia tetap harus bisa membuat pikirannya tenang dan tidak goyah. Apapun yang terjadi ia harus tetap tenang. Ia memejamkan mata sejenak sambil membacakan sutra suci yang ia hafal selama ini. Perlahan tapi pasti, dengan segenap keyakinan dalam hatinya Papa terus melantunkan sutra suci itu dalam hatinya dan secara perlahan ia mulai bisa menggerakkan ujung jarinya, dilanjut dengan ujung kakinya yang juga mulai bisa ia gerakan.
Ditengah usahanya ia berusaha bergerak diatas tempat tidurnya itu. Tiba-tiba ia mendengar suara ganjil yang sangat mengagetkan dirinya. Suara memekik yang terdengar sumbang dan mengerikan. Papa menerka suara itu berasal dari sudut ruangan dekat dengan pintu kamar yang masih saja terdengar dan jika ia boleh mengatakan secara jujur, suara itu sangat mengganggu pendengaran. Perlahan tapi pasti dengan mantra suci yang terus ia lantunkan, papa semakin mampu menggerakkan tubuhnya , termasuk mengangkat kepalanya untuk melihat secara langsung sumber suara yang sangat mengganggu dan terdengar menakutkan itu.
Dalam pemandangan yang gelap itu, papa melihat dengan mata kepalanya sendiri, sosok hitam menakutkan dengan rambut panjang dan kuku jemari yang amat runcing dan tajam menyeringai kearahnya, dan suara menakutkan itu kembali TERDENGAR lagi. Yang lebih menakutkan lagi adalah sosok itu mulai merambat naik di dinding seperti seekor cicak dengan rambut panjangnya yang menggantung dan menjulur seperti akar pohon beringin. Ia terus merangkak di dinding kamar yang terlihat gulita itu dan terus merangkak menuju bagian langit-langit kamar. Papa yang mulai tidak sanggup dengan apa yang disaksikannya itu kini mulai menggerak-gerakan seluruh tubuhnya secara kasar, lalu tanpa sengaja tubuhnya langsung dapat bergerak dan karena gerakan yang teramat kasar dan serampangan itu, Papa langsung terjatuh dari atas tempat tidur dengan cukup keras.
Papa mulai merasakan sakit di kepalanya, dan ia mulai membuka kedua matanya perlahan. Ia menatap sekitarnya dan ternyata ia sudah berada di bawah tempat tidurnya sendiri dengan sensasi kepala yang terasa sakit dan berdenyut. Ia cukup terkejut karena sepertinya dahinya sedikit benjol akibat kepalanya yang membentur permukaan lantai. Ia mulai menatap seluruh area kamarnya yang ternyata sepi, tidak ada siapapun disana selain dirinya sendiri. Namun, tetap tidak bisa ia pungkiri, apa yang ia alami semalam, baginya itu terlalu nyata untuk sebuah mimpi.
Mungkin.., seperti bermimpi dengan mata terbuka.
\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1