The House 1937

The House 1937
39. Ikut Terfoto (2)


__ADS_3

Malam Itu di ruang tamu depan Papa dan Tante Alin sedang sibuk dengan kamera analog yang kini tengah menarik perhatian mereka. Kamera analog itu adalah kamera milik Herman, kekasih dari Tante Alin sekaligus sahabat dari papaku. Beberapa waktu yang lalu, Papaku memang sempat bercerita kepada adik perempuannya itu bahwa Herman memiliki kamera analog yang biasa dipergunakan keluarganya untuk keperluan pengambilan keluarga di momen-momen tertentu. Herman sengaja membeli kamera itu untuk alasan kemudahan dalam pengambilan gambar di keluarganya, tidak perlu memanggil tukang foto lagi, dan untuk mencetak foto yang telah ia ambil ia tinggal membawa film negatif hasil jepretan kameranya ke studio foto saja.


Dan tanteku itu terdengar tertarik akan kamera itu dan meminta ijin kepada Om Herman untuk meminjam kamera itu selama sehari. Papa sendiri sebenarnya agak keberatan ketika Tante ingin meminjam kamera analog itu, mungkin karena papa sendiri adalah tipe orang yang hampir tidak pernah meminjam apapun kepada orang lain, baik dalam bentuk barang ataupun uang. Papa sempat menawarkan kamera polaroid miliknya kepada Tante jika ingin memakai kamera, tapi tanteku itu tetap saja ingin meminjam kamera analog sahabatnya itu.


"Kamera punya Koko sudah ketinggalan zaman, harusnya Koko beli kamera yang seperti ini...", Tante Alin memegang kamera analog itu dengan bersemangat. Mungkin nanti ia akan menabung untuk membeli kamera miliknya sendiri.


"Untuk apa beli kamera lagi, jika sudah punya?, Lagipula kalau polaroid punya Koko kan langsung jadi fotonya, tinggal beli instant filmnya saja...", Papa menaikkan bahunya sekilas, nampak santai membanggakan kamera miliknya itu. Yang malah dibalas Tante Alin dengan ekspresi wajah cemberut. Ia menghela napas pelan dan memang paham, bahwa Papa adalah laki-laki yang sedikit kolot dan konservatif.


"Ko Herman bilang rol film yang ada disini boleh di pakai...", Tante tidak peduli dengan ekspresi Papa yang nampak berkerut. Ia heran kenapa Kakak laki-lakinya ini seperti tidak suka ia menggunakan kamera ini?, padahal ia sudah mendapatkan ijin untuk menggunakan kamera ini dari pemiliknya.


"Boleh di pakai?, sampai satu rol penuh?", Papa menaikkan alisnya dengan ekspresi terkejut.


"Ga usah berlebihan Ko, katanya sih tidak apa-apa, lagipula Koh Herman sudah kasih ijin buat pakai rol filmnya kan?",


"Memang mau foto apa sih sampai harus satu rol begitu?", Papa menggaruk dahinya yang tidak gatal.


" Koh Herman bilang boleh pakai satu rol film, bukan berarti benar-benar Alin pakai satu rol film Ko...", Tante memutar bola matanya dan merasa sangat gemas dengan Papa, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika suatu saat perempuan yang akan menjadi istri sekaligus kakak iparnya nanti akan menghadapi laki-laki berwajah serius di hadapannya ini. Ia sempat berpikir, sebenarnya bila dilihat dengan seksama, kakak laki-lakinya ini memiliki wajah yang cukup tampan dan dengan proporsi tubuh yang pas khas laki-laki peranakan Tionghoa. Menurut Tante, papa cukup mirip dengan salah satu aktor kenamaan asal Hongkong, Raymond Wong Pak-Ming di masa muda. Sayangnya dengan ekspresi dirinya yang selalu berkerut seperti itu, ia merasa salah satu kakak laki-lakinya itu akan sedikit kesulitan untuk menemukan calon istri.


"Jangan terlalu serius Koh, nanti susah dapat istri loh..., nanti malah keduluan sama Koh Herman...", Tante Alin sengaja menyeletuk kan kalimat itu ke Papa yang yang langsung memasang ekspresi wajah antara kesal dan ingin menahan tawa.


"Apa hubungannya??, malah bawa-bawa Si Herman...", Papaku sedikit menarik rambut Tante Alin yang tangannya langsung menepis tangan Papa dari helaian rambutnya.

__ADS_1


Nenekku yang rupanya sedang berdiri hanya dua langkah dari pintu pemisah antara ruang tamu dan ruang keluarga hanya menggelengkan kepalanya pelan mendengar interaksi antara kedua anaknya itu. Mereka sudah cukup dewasa, tetapi masih saja bertingkah seperti anak-anak. Nenek pun berinisiatif untuk menghampiri kedua anaknya itu.


"Pada ribut-ribut apa berdua?", Suara nenek yang bertanya kepada mereka berdua langsung mengalihkan perhatian papa dan Tante, mereka menengok ke arah nenek yang kini melangkah pelan mendekati mereka berdua.


"Ini kamera, Nah...", Tante Alin mengangkat kamera analog itu ke arah nenek.


"Buat apa kamera itu, Lin?, Tadi Enah dengar itu punya Herman ya?, hati-hati, jangan sampai rusak ya..", Nenek memang selalu seperti itu, memberi nasihat untuk selalu berhati-hati jika meminjam atau menggunakan barang milik orang lain.


"Iya Nah, tenang saja. Lin akan hati-hati.., Nanti kalau Lin sudah punya uang yang cukup, Lin mau beli sendiri..",


"Padahal Jun juga ada kamera Nah, si Alin malah pake kamera punya orang...", Papa menopang dagunya dengan tangannya yang menekuk menumpu di lututnya.


"Sudah-sudah, jangan ribut. Lu berdua sudah besar masih saja seperti anak-anak. Kalau sudah selesai pakai kameranya, nanti segera dikembalikan saja ya Lin, jangan terlalu lama menggunakan barang punya orang, walaupun itu punya Herman...",


"Iya Nah. Tenang saja..", Tante Alin dengan jahil menjulurkan lidahnya ke arah Papa yang malah mencebikkan mulutnya.


"Jadinya, itu kamera untuk foto apaan Lin?", Papa hanya menghela napas, tidak ingin berdebat kembali dengan adiknya itu, dan fokus ingin mengetahui apa yang akan menjadi objek foto dari kamera pinjaman itu.


"Hmm...", Tante Alin tampak berpikir sejenak, karena sebelumnya ia memang belum menentukan sama sekali objek dari foto yang anti akan ia ambil dengan kamera itu.


"Jadinya apa?", Papa bertanya tanpa bisa menyembunyikan intonasi setengah geli di kalimatnya. Seolah mengejek Tante yang bersikeras memakai kamera itu, tapi malah kebingungan dengan objek fotonya sendiri.

__ADS_1


"Alin mau foto.., kegiatan di rumah...", Seperti ada sebuah bola lampu yang menyala terang di atas kepalanya, Tante merasa itu adalah ide yang bagus. Karena mungkin saja dengan mengabadikan kegiatan sehari-hari di rumah yang akan ia lakukan nanti bisa menjadi kenangan yang bisa di lihat dalam bentuk lembaran foto.


"Hah?, kegiatan di rumah?, untuk apa?", Papa merasa itu adalah hal yang sangat membuang-buang waktu, dan ia tidak mengerti untuk Ama memotret kegiatan sehari-hari di rumah, apalagi ia tahu kegiatan di rumah ini bisa di bilang cenderung statis.


"Untuk kenang-kenangan Ko, siapa tau nanti anaknya Koko atau Alin bisa lihat kenangan kita pas sekarang ini...",


"Yah....,sudahlah....terserah...", papa hanya menggaruk bagian belakang kepalanya, dan tidak berkomentar lagi mengenai kegiatan baru yang akan dilakukan oleh adiknya itu.


\*\*\*\*\*\*\*


Hallo Semua...Author come back lagi nih. Author kembali mengucapkan Terima Kasih untuk para Readers yang telah berpartisipasi mendukung karya author ini. Author mau kembali mengingatkan untuk Klik like, favorit, dan juga komentarnya ya. Semakin ramai dan buat author semangat terus untuk updatenya...


Jangan lupa untuk selalu mematuhi protokol kesehatan agar kita terhindar dari Covid 19


Sekali lagi Terima Kasih ya....


Mazukashina



INI MASKER AKU, MANA MASKER KAMU ?

__ADS_1


__ADS_2