
"Maaf Koh, saya bikin Engkoh jadi menunggu lama..", Laki-laki bernama Chun In itu duduk di kursi yang berada di seberang kursi tempat Papa dan Om Herman duduk, jarak mereka hanya dibatasi oleh meja tamu dengan suguhan yang ada di atasnya.
"Tidak apa-apa, Koh. Saya maklum, saya yang seharusnya minta maaf karena datang dan ingin bertemu Engkoh secara mendadak...", Papa kini tengah berusaha serileks mungkin untuk memulai sesi pertanyaannya, namun entah kenapa ia masih merasa gugup, terasa telapak tangannya yang mulai terasa dingin. Ia juga tengah berfikir untuk menyusun penjelasan dan juga pertanyaan yang akan ia tuturkan kepada anak dari Babah Hwan di hadapannya ini.
"Saya dengar dari Ncek Afung, Engkoh mau konsultasi, benar?", Chun In sedikit berbasa-basi, demi kesopanan kepada Papa dan Om Herman.
"Benar Koh.., saya mau tanya terkait.....",
Papa kemudian mulai bercerita tentang semuanya, mulai dari sejarah rumah itu berdiri sampai gangguan-gangguan aneh yang Papa alami sendiri maupun yang dialami oleh yang lainnya, terutama mengenai Papa dan Tante Alin yang pernah melihat sosok mengerikan yang sama. Om Herman pun ikut bercerita mengenai gangguan yang pernah ia alami ketika datang ke rumah itu. Papa mengeluarkan amplop coklat dari dalam ranselnya, amplop berisi foto-foto yang waktu itu Tante Alin cetak hasil jepretan dari kamera milik Om Herman yang ia pinjam.
"Ini Koh penampakan rumah saya dan juga bagian dalamnya, foto ini diambil oleh adik perempuan saya belum lama ini, mungkin ini bisa membantu...", Papa pernah teringat satu hal, yang menurut sebagian orang hal-hal semacam itu bisa tertangkap kamera, sekalipun foto tersebut tampak 'normal'.
Chun In melihat kumpulan foto itu satu persatu dengan menunjukkan ekspresi wajah yang sulit di jelaskan. Papa hanya saling beradu pandang dengan Om Herman, menunggu dengan was-was dan cemas akan penjelasan dari laki-laki di hadapan mereka ini. Setelah semua foto selesai ia lihat satu persatu, laki-laki itu merapikan kembali tumpukan foto itu dan menaruhnya di atas meja. Lalu Chun In kembali menatap Papa dan Om Herman secara bergiliran, memasang ekspresi wajah serius yang membuat papa memberanikan diri untuk bertanya.
"Bagaimana Koh?", Kedua telapak tangannya sudah mulai terasa dingin.
"Yang saya lihat berdasarkan foto-foto ini....", Chun In menjeda sejenak ucapannya, menatap kedua orang yang ada di hadapannya ini dengan hati-hati
"Di rumah Engkoh ini memang banyak 'Sosok'nya Koh..,ada banyak. Mereka semua sepertinya memang sudah lama ada di sana, jauh sebelum rumah itu berdiri...",
Papa terlihat menahan napas mendengar penjelasan dari Chun In, baru penjelasan awal saja sudah membuatnya seperti tidak bisa bernapas.
"Lalu?, selain itu?", papa bertanya dengan menarik napas pendek-pendek.
__ADS_1
"Sosok yang menempati memang banyak, tidak hanya ada di rumah, tetapi di bagian luar pun sama, hanya saja tidak sebanyak di dalam rumah. Tidak semuanya mengganggu Koh..."
"Berarti, sebagiannya lagi itu menggangu..?", Om Herman bertanya dan langsung dibalas dengan anggukan pelan Chun In.
"Kalau boleh saya tahu, kenapa bisa seperti itu ,Koh?, Saya tidak mengerti. Karena selama ini, kami tidak pernah berbuat macam-macam...", Papa terlihat pasrah ketika bertanya. Dan Chun In mengerti maksud dari 'macam-macam' yang papa sampaikan.
"Saya lihat pun memang keluarga Engkoh tidak macam-macam. Tapi sepertinya sumber dari segala semua ini adalah, pemilik sebelumnya dari tanah ini. Itulah yang saya lihat, apakah Engkoh Jun tahu siapa pemilik dari tanah itu sebelumnya?",...",
Papa hanya menatap lurus ke arah Chun In sambil menggelengkan kepalanya pelan, pada kenyataannya papa memang tidak tahu siapa pemilik dari tanah itu sebelumnya. Kakek hanya pernah bercerita kepadanya bahwa pemilik sebelumnya dari tanah itu tengah membutuhkan uang dengan segera, tanpa diketahui apa alasannya. Pada waktu itu, Kakek membeli tanah itu lewat Calo tanah, tanpa bertemu langsung dengan sang pemilik tanah sebelumnya.
"Saya rasa, pemilik tanah sebelumnya itu bermasalah Koh.., mungkin dia pernah "bermain" atau ada "perjanjian" dengan yang tidak kasat mata, atau ada hal lain yang berhubungan dengan klenik sampai-sampai tanah itu menjadi "bermasalah" sampai saat ini..., dan yang saya lihat kembali sedari awal tanah tempat berdirinya rumah Engkoh itu memang tidak bagus, dengan pemilik sebelumnya yang pernah "macam-macam", itu membuatnya semakin "bermasalah"...",
Papa hanya mengangguk pelan dengan mimik wajah serius, ia tidak menyangka rumah yang ia tempati sejak ia lahir, memiliki masa lalu yang begitu pelik seperti ini.
Chun In menarik napas sejenak
"Dulu, waktu saya masih jadi asisten Babah, Babah pernah cerita ke saya kalau ia pernah memberitahukan ke Babah An, sebaiknya jangan menempati rumah itu, namun Babah An tetap bersih keras menolak karena merasa...., rumah dan tanah itu adalah hasil kerja kerasnya selama ini...",
"Engkoh benar, Babah dan Enah saya memang tidak suka jika si singgung soal itu, sebelumnya saya dan Cici saya yang paling tua juga pernah membicarakan hal ini secara baik-baik padanya. Tapi Enah malah memarahi kami semua...", Papa menghela napas perlahan, sekilas dalam ingatannya terlintas nada intonasi nenek yang memarahi Papa dan ketiga saudaranya yang lain.
"Yang bisa saya lakukan hanyalah banyak berdoa kepada Tuhan, dan melakukan hal baiknya seperti melakukan pembagian beras secara rutin setiap tahunnya, dan itu juga sudah mendapatkan persetujuan dari Enah. Saya tidak bermaksud sombong atau pamer dari apa yang saya lakukan Koh, hanya saja mungkin dengan itu ',gangguan' yang kami rasakan bisa sedikit berkurang...",
"Tidak apa-apa Ko Jun. Apa yang Engkoh lakukan itu sudah benar.., yang penting banyak berdoa dan berbuat baik. Tapi untuk gangguannya sendiri, apa pernah sampai menyentuh atau melukai fisik Koh..?",
__ADS_1
Papa terdiam dan berusaha mengingat-ingat, lalu menggeleng pelan karena seingat dirinya, ia dan keluarganya memang belum pernah sekalipun mengalami hal yang sampai sejauh itu.
"Tidak Koh, belum pernah sampai sejauh itu...", Papa memberikan jawabannya dengan mengangguk mantap.
"Syukurlah jika seperti itu, dan untuk yang satu lagi, peristiwa Engkoh dan Adik Engkoh melihat sosok yang sama itu, sosok yang Engkoh ceritakan itu juga sudah lama berdiam disana, Koh. Saya melihatnya di salah satu foto disini...",
Lagi-lagi Papa menahan napasnya, lalu menarik napas pendek-pendek, menanti jawaban selanjutnya yang membuat detak jantungnya berpacu menjadi lebih cepat. Apakah itu adalah sosok makhluk jahat tangan kan membuat ia dan Saudarinya itu celaka?.
"Yang saya rasakan..., sepertinya sosok ini sejak lama suka dengan Engkoh Jun..."
\*\*\*\*\*\*\*
๐ Happy New Year 2022 untuk Semua ๐
Maaf ya Author telat banget ngucapinnya
Terima Kasih untuk Para Readers yang selalu
setia mampir di laman Author ini
Sukses untuk semuanya ya ......
๐๐น๐ฅ๐บ๐ทMazukashina๐ธ๐ฎ๐ต๏ธ๐ป๐ผ
__ADS_1