
Papa memarkirkan mobil truk kuningnya di halaman rumah yang cukup luas itu dan membutuhkan sedikit waktu untuk memarkirkannya karena kondisi tanah halaman rumah yang masih berbatu dan banyak ditumbuhi rumput liar. Papa membuka botol air mineralnya dengan pembuka botol yang sengaja ia simpan di mobilnya itu sebagai perkakas wajib untuk membuka tutup botol karena pada waktu itu kemasan untuk air mineral dalam kemasan masih berupa botol kaca dengan tutup botol yang harus dibuka dengan alat khusus. Papa menenggak air dalam botol itu sampai habis setengah botol, membuka kaca jendela truknya lalu menyalakan sebatang rokok dan menghembuskan asapnya perlahan-lahan.
Hari ini ia cukup lelah setelah melakukan perjalanan ke berbagai tempat yang ia suka selama seharian penuh menggunakan truk kuningnya ini untuk mengisi waktu liburnya yang sudah sengaja ia atur beberapa hari yang lalu. Papaku yang pada saat itu sebagai seorang pedagang yang sibuk mengurusi tokonya yang ada di pasar memang tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan hal yang ia sukai sesuka hati. Keramaian pasar dan suara orang yang berbelanja dan tawar menawar disana selalu menjadi motivasi baginya untuk selalu bersemangat menjaga dan mengurus tokonya setiap hari. Belum lagi jika toko dalam keadaan ramai, bahkan ia sampai lupa untuk menarik napas karena saking ramainya toko miliknya itu. Papa berjualan sembako di pasar dan setiap hari tokonya itu selalu buka dan tidak pernah libur. Nenek yang merasa kasihan karena papa yang semakin sibuk ditokonya, akhirnya menasihati papa untuk menutup tokonya satu hari dan ia pergi jalan-jalan ke berbagai tempat yang ia mau untuk melepas penat dari aktivitasnya di toko.
__ADS_1
Papaku memikirkan sejenak nasihat nenek dan mungkin ada benarnya juga ia harus sedikit bersantai karena selama ini ia sudah jarang sekali menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang atau sekedar berkumpul bersama teman-temannya di akhir pekan karena dirinya yang semakin sibuk mengurus toko miliknya dipasar. Sebelum memiliki toko sendiri, dulu papaku sempat bekerja dengan salah satu kerabatnya yang memiliki toko besar yang menjual berbagai perabot dan barang pecah belah, berkat usaha kan kerja kerasnya bekerja dan uang bagian yang diberikan nenek kepada papa atas kepengurusan sawah yang papa lakukan saat ini ia bisa membangun tokonya sendiri dan membeli truk ini secara kredit, walaupun bukan kendaraan baru tapi ia sangat senang telah memiliki kendaraanya sendiri. Ia kembali menghembuskan asap rokok ke udara, ia menatap langit melalui kaca mobilnya itu dan melihat langit yang kini mulai menggelap menunjukkan bahwa mungkin sekarang ini sudah hampir Maghrib, dan benar saja terdengar sayup-sayup adzan Maghrib berkumandang. Papa menghabiskan sisa air mineralnya yang masih setengah botol dan mematikan rokoknya itu yang hanya tinggal filternya saja yang tersisa. Ia memandang sejenak ke arah rumah yang lampu bagian luar dan dalam rumah sudah menyala. Ia meraih tas ranselnya yang ada di jok mobil disebelahnya dan hendak keluar dari mobil untuk mandi dan ikut makan malam bersama yang lainnya bertepatan dengan suara adzan yang sudah selesai berkumandang.
Ia memarkirkan mobilnya tepat tak jauh dari pohon jambu air putih yang kini sedang berbunga lebat pertanda pohon itu akan menghasilkan buah jambu air putih yang papa ketahui rasanya yang manis sedikit asam dan memiliki kandungan air yang banyak. Sejenak ia memperhatikan pohon itu, ia seperti melihat sesuatu yang aneh dan tiba-tiba saja ia mendengar pintu mobil yang ada di sebelahnya seperti di pukul oleh sesuatu dan begitu ia menengok kembali ke arah pohon itu, ia seperti melihat sekelebat seseorang yang tengah duduk di salah satu dahan pohon dan tengah mengguncangkan kakinya. Tersentak kaget dengan apa dilihatnya, sosok itu semakin terlihat jelas dan tengah terkekeh dengan ekspresi wajah yang menakutkan ditambah wajah yang begitu putih pucat dan bagian sekitar mata yang nampak hitam melingkar ....sekilas terdengar......
JUN......,JUUUNN......
__ADS_1
Tanpa aba-aba lagi, papaku yang sudah luar biasa panik langsung berusaha membuka pintu mobilnya yang sialnya ia harus memerlukan beberapa waktu untuk membukanya karena macet. Setelah berhasil membuka pintu mobil dan meraih ranselnya, ia lari tunggang langgang tanpa melirik ke kanan dan ke kiri. Di depan pintu rumah ia mengetuk-ngetuk pintu cukup keras takut-takut makhluk menyeramkan itu mengikutinya. Pintu pun terbuka dan terlihat tanteku yang juga takut bercampur kaget melihat wajah papaku yang sudah panik dan nampak ketakutan.
"Denger gak Lin?", papaku berbisik pelan pada Tante.
"Iya ko denger......", jawab tanteku lirih
__ADS_1
***********