The House 1937

The House 1937
54. Mencari Kebenaran (8)


__ADS_3

"Tidak apa-apa Koh, ngga usah begitu.., ayo duduk..", Ncek Afung mempersilahkan Papa dan Om Herman untuk dudu di meja makan.


Papa memberikan anggukan singkat kepada Om Herman, dan akhirnya mereka duduk di kursi meja makan itu bersama Ncek Afung. Ketiga laki-laki itu kini mulai menyendok nasi beserta lauk pauk yang tersedia.


"Saya dengar kemarin Engkoh ditawari Chun In untuk bermalam di rumahnya ya?", Ncek Afung berbasa-basi untuk membuka pembicaraan, sebenarnya ia sudah tahu dari Chun In bahwa mereka berkeras untuk bermalam di Klenteng ini, dengan alasan mereka yang memang ingin bermalam di Klenteng ini.


"Iya Ncek, karena sudah dari awal kami memang berencana untuk bermalam disini..", Papa menjelaskan singkat sambil terus fokus dengan makanan di piringnya.


"Klenteng ini ramainya jika di hari libur saja ya Ncek?", Om Herman mencoba ikut mengobrol dengan penjaga Klenteng senior ini.


"Memang, paling ramai pengunjung itu di hari Sabtu malam, ada juga yang datang berkunjung ke Vihara yang ada di sebelah...",


"Berarti, Cuannya lumayan ya Koh..?", Om Herman membuat isyarat uang dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.


Ncek Afung hanya tertawa mendengar pertanyaan Om Herman itu yang langsung mendapatkan cubitan kecil di pahanya dari Papa. Om Herman memang pribadi yang mudah bergaul dengan orang baru dan cukup supel. Namun terkadang ia sedikit keterlaluan dalam berbicara atau bercanda, sehingga terkadang Papa harus memberinya peringatan secara halus.


"Lu juga nanti kalau mau datang dan menginap lagi, ya tidak apa-apa, gua malah senang kan Klenteng jadi tidak sepi..", Ncek Afung tertawa kecil. Sejak kemarin ia melihat bahwa kedua anak muda di depannya ini memiliki sifat yang sangat berbeda. Papa yang pendiam dan selalu berbicara seperlunya sedangkan Om Herman adalah orang yang mudah berbicara dan bergaul dengan siapa saja.


"Nanti kalau ada perayaan lagi tahun depan, jangan lupa datang kemari. Herman belum pernah datang ke perayaan di Klenteng ini ya?",

__ADS_1


"Belum pernah Ncek, dulu sempat di ajak Jun kemari, Hanya saja saya belum ada waktu..", Om Herman meringis sambil melirik Papa yang tengah asyik dengan makanan di piringnya.


Papa yang tengah mengambil satu papan Pete bakar di hadapannya, tak sengaja melihat Ncek Afung yang memandangnya sekilas lalu kembali fokus dengan piring makanannya. Papa termenung sejenak, kenapa pria dengan rambut yang sudah dua warna ini memandangnya seperti itu. Jika diperhatikan, sejak tadi memang laki-laki ini seperti memiliki gerak-gerik yang aneh semenjak sesi makan bersama ini dimulai.


"Kenapa Ncek?, mau petenya?", Papa memegang Pete bakar di tangan kanannya.


"Bukan Jun.., tidak apa-apa...", Papa terdiam melihat ekspresi gugup dari laki-laki tua ini. Sikap yang sangat mengundang kecurigaan datang.


"Kalau ada apa-apa, cerita saja, Ncek. Saya tidak keberatan sama sekali...", Papa berusaha berbicara dengan intonasi yang sesopan mungkin kepada Ncek Afung, walau sebenarnya ia merasa risih dengan pandangan dan gelagat laki-laki di hadapannya ini.


"Maag Jun sebelumnya..., kalau boleh tau Ncek mau tanya...",


"Saya mau tanya, Lu sudah punya pacar belum?",


Papa sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari Ncek Afung yang sangat tidak diduganya itu, jika ia menjawab dengan jujur, bisa di bilang sampai saat ini ia masih sendiri. Entah mengapa, laki-laki ini seperti mengetahui bahwa ia memang belum memiliki kekasih sampai saat ini.


"Memangnya ...,kenapa ya Ncek?, tiba-tiba Ncek bertanya begitu?", Papa yang juga ikut menjadi gugup langsung meneguk segelas air di gelas belimbing yang ada di samping piringnya. Kerena, seingat dirinya belum pernah ada orang lain yang bertanya mengenai hal yang cukup pribadi ini.


Ncek Afung bergegas menuju washtafel dapur yang ada di bagian belakang meja makan ini. Setelah selesai mencuci tangan ia kembali ke kursinya sambil menunjukkan satu potret perempuan muda. Papa memperhatikan sejenak, ia merasa pernah melihat perempuan ini, namun papa berusaha mengingat-ingatnya.

__ADS_1


"Dia anak saya Jun, namanya Li Ing. Yang kemarin mengantar gelas teh ke ruang tunggu...", Papa langsung mengingat kejadian kemarin ketika ia dan Herman menunggu di ruang tunggu itu yang memakan waktu cukup lama, ia ingat perempuan muda yang membawa gelas teh hangat keruangan itu. Jika dilihat sekilas, mungkin Li Ing memiliki usia yang sama dengan Tante Alin.


"Oh.., iya saya ingat..", Jawab Papa singkat sambil memandang potret dari Li Ing dan Ncek Afung secara bergantian. Dan papa mengakui, Papa dan anak perempuannya yang ada di dalam foto ini memang serupa tapi tidak sama. Li Ing memiliki paras yang begitu mirip dengan Papanya ini.


"Begini Jun.., saya ingin memberitahukan kalau..., anak saya mau sama lu.., kemarin dia bilang begitu..", Ncek Afung sedikit berdeham, dan papa masih diam saja mendengarkan laki-laki itu melanjutkan pembicaraannya.


"Dia bilang begitu sehabis mengantar gelas teh ke ruang tunggu?", Papa mulai memasang ekspresi seriusnya kembali dan melirik Om Herman yang sudah pasti juga kaget mendengar hal ini.


"Benar Jun, malamnya dia langsung cerita sama saya....", Afung menjeda kata-katanya sejenak lalu kembali melanjutkan.


"Mungkin sekiranya kalau lu memang belum ada pasangan.., ya..mungkin ini bisa di pertimbangkan kembali.., tidak apa-apa kalau lu belum mau menjawab sekarang..., bisa lu pikir-pikir lagi...", Ncek Afung mengingatkan dirinya kembali dalam hati , bahwa kini ia tengah bicara dengan laki-laki yang baru pertama kali ini ia ajak bicara secara langsung seperti ini. Ia benar-benar harus berhati-hati, agar jangan sampai ia salah bicara dan malah menyinggung Papa.


Papa masih terdiam, berusaha tak mengeluarkan ekspresi apapun. Ia sendiri tidak menyangka kedatangannya ke Klenteng ini malah menarik perhatian lawan jenis, yang benar-benar diluar dugaan dirinya. Papa memang ingat kemarin ketika perempuan itu membawakan gelas tehnya ke ruang tunggu itu, dia juga sedikit terlihat aneh dengan memandangnya terus menerus sebelum meninggalkan ruangan itu. Papa berusaha menarik napas, semua hal di luar dugaannya ini malah membuat kepalanya menjadi berdenyut.


"Bagaimana Jun?", Ncek Afung seperti menaruh harapan kepada Papa perihal ini.


Om Herman menyenggol kaki Papa dengan kakinya, isyarat tidak langsung darinya agar Jun mau berbicara untuk menjawab Ncek Afung. Om Herman tahu ini pasti begitu mengejutkan Papa, membuatnya kembali teringat dengan sesi konsultasinya bersama Chun In kemarin.


"Terima Kasih Ncek, untuk niat baiknya. Tapi..., sebelumnya saya mohon maaf karena untuk hal ini, saya sudah punya calon istri, Ncek. Salah satu tujuan saya datang kemari juga berkonsultasi mengenai hal ini. Sekali lagi bukan saya menolak atau apa..., tapi saya memang sudah memiliki calon istri, Ncek. Saya harap Ncek mengerti perihal ini. Dan mungkin nanti anak Ncek bisa dengan yang lain lagi.., yang mungkin bisa lebih baik dari saya...",

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2