The House 1937

The House 1937
40. Ikut terfoto (3)


__ADS_3

Di akhir pekan ini Tante mulai melakukan kegiatan barunya dengan kamera analog om Herman itu. Sejak pagi ia sudah ada di dapur memotret Bi Inah yang sedang melakukan pekerjaannya,Nenek yang tengah menjaga warungnya yang ada di depan rumah. Nenek yang melihat putrinya itu tengah asyik memotret dirinya, hanya mengernyit heran dan menggelengkan kepalanya.


"Buat apa Lin foto-foto disini?", Enah menepuk-nepuk bagian atas balai, yang secara tidak langsung menyuruh Tante untuk duduk disana.


"Ya tidak apa-apa Nah, buat kenang-kenangan saja.., nanti fotonya Alin cetak...", terdengar sebuah suara di belakangnya, dan terlihat Akiong yang berjalan mendekat ke bale tempat Nenek dan Tante Alin duduk.


"Akiong...", Sapa Tante Alin ramah dan memberikan isyarat tangan pada anak itu untuk mendekat.


"Iya Iih...", Akiong melihat kamera yang di pegang Tante Alin lalu melirik sekilas ke arah Nenek.


"Mak, Akiong mau beli gula seperempat kilo sama telurnya setengah kilo...", Akiong menyerahkan sejumlah uang pada Nenek untuk belanjaan yang tadi disebutkannya. Nenek lalu mengangguk singkat dan bangkit dari duduknya untuk memberikan gula dan telur.


"Iih bawa kamera mau foto apa?", Akiong terlibat tertarik dengan kamera yang menurutnya terlihat bagus itu.


"Tadi abis foto Emak..., kamu mau foto juga?",


"Tapi...",


"Ga apa-apa Akiong, foto sama Emak saja ya ..", Nenek menyerahkan kantung plastik hitam berisi barang belanjaan miliknya, dan Akiong hanya mematung diam ketika nenek mengajaknya berfoto.

__ADS_1


"Foto...,buat apa Mak?", tanya Akiong yang tampang ragu-ragu dan bingung, dia datang kemari untuk belanja, malah di suruh berfoto.


"Untuk kenang-kenangan Akiong, hari ini Iih kan lagi banyak ambil foto buat album kenang-kenangan...",


"Oh begitu ya, kirain apa Ih...", Akiong sedikit geli dengan ekspresi tetangganya itu yang tampak semangat akan mengambil foto dirinya.


"Ya sudah Ih, gapapa, sebentar saja kan?",


Mendengar Akiong yang mau di foto, Tante Alin jadi semakin bersemangat dan mulai mengatur posisi Nenek dan dirinya untuk sesi pemotretan kilat ini. Setelah beberapa gambar selesai di ambil. Akiong pamit untuk pulang, dan Tante Alin memperhatikan langkah Akiong yang mulai menjauh dari warung Nenek menuju rumahnya.


"Kasihan ya Nah, keliatan kurang mendapat perhatian di rumah...", Tante menatap Nenek dengan tatapan prihatin, menurutnya Akiong adalah anak yang baik dan cukup penurut. Hanya saja entah kenapa keluarganya sendiri seperti kurang memperlakukannya dengan baik.


"Iya Lin, memang kasihan, Mama sama Emaknya sedikit galak dan kurang perhatian. Padahal keluarganya yang di Cina sempet mau bawa dia kesana, tapi emaknya keberatan...",


"Kan Emaknya pernah belanja disini, terus mengobrol sebentar soal itu",


"Hmm..., kalau mereka ingin anak itu disini, harusnya mereka tahu harus mengurus anak itu dengan benar...", Tante jadi merasa setengah jengkel mendengar cerita dari nenek, ia tak menyangka hal semacam ini harus menimpa anak seusianya.


"Sudah Lin, jangan bicarakan keluarga sebelah lagi, tidak akan ada habisnya. Enah juga sebenarnya kesal, mereka seperti tidak peduli pada anak itu. Tapi lu kan tau, kita tidak bisa ikut campur..", Terang Nenekku dengan menyeruput teh tawar hangatnya.

__ADS_1


"Habis ini, mau foto apa lagi Lin?",


"Hmm..., Mungkin foto bagian-bagian dalam rumah Nah..., atau nanti kita foto berempat sama Koh Jun dan Bi Inah juga....",


******


Tante Alin mulai membuka matanya perlahan dengan penglihatan yang masih buram, ia menggelengkan pelan kepalanya dan mengusap kelopak matanya yang masih terasa berat. Setelah kesadarannya mulai terkumpul sedikit demi sedikit, ia hanya memperhatikan langit-langit rumahnya yang berwarna kelabu karena lampu kamar yang mati. Entah mengapa ia merasakan kamarnya terasa pengap dan gerah, padahal kipas angin di kamarnya masih menyala dan berfungsi dengan baik. Ia juga mulai merasakan bulir keringat mulai memenuhi dahinya. Begitu ia ingin menggerakkan tubuhnya ke samping, terasa berat dan sangat kaku, Tante Alin tidak bisa menggerakkan tubuhnya sedikit pun, tubuhnya seperti terpaku dengan sangat kuat di atas ranjang. Ia sudah berusaha menggerakkan dirinya sekuat tenaga namun tetap saja nihil. Entah apa yang membuat tubuhnya jadi seperti itu, ia sudah merasa tidak nyaman dengan kamarnya yang semakin terasa pengap dan gerah, dan keringat sudah hampir membasahi wajahnya. Tante benar-benar tidak mengerti apa yang menyebabkan tubuhnya menjadi seperti ini, ia mulai mengatur napasnya secara perlahan mulai mengangkat kelapanya yang juga terasa berat dan ia amat terkejut dengan apa yang ia lihat dihadapannya. Beberapa sosok yang....susah terlihat jelas mereka bukanlah manusia kini berdiri tak jauh dari ranjangnya, diam kaku mematung dan menatap dirinya dengan wajah pucat dan tatapan mata berlubang yang kosong. Satu di antaranya kini duduk di pinggir ranjang menghadap ke arah Tante Alin sambil menyeringai tajam. Walau kamarnya remang-remang cenderung gelap, Tante tetap bisa melihat penampakan mereka yang mengerikan itu. Dan satu gerakan yang membuatnya tak karuan adalah semua sosok itu mulai bergerak satu langkah mendekat kearahnya, membuat Tante terus menggerakkan tubuhnya tidak karuan. Ia yang terus menggerakkan tubuhnya kesana kemari tiba-tiba merasakan sesuatu seperti hantaman keras yang menyerang kepalanya.


Begitu ia kembali membuka matanya, tidak ada siapa-siapa di kamarnya. Hanya ada dirinya yang kini tengah berbaring di ranjangnya dengan kondisi selimut dan bantal guling yang kusut dan berantakan. Tante kembali berbaring sambil memegangi dahinya yang selain basah karena keringat juga terasa terasa berat dan pusing. Dengan sedikit usaha, ia bangun dari posisi berbaring sambil meletakkan kembali bantal guling disampingnya dan berdiri di samping ranjang dan masih memegangi kepalanya yang terasa berat, lalu Tante mengambil gelas cuntang yang ada di meja belajarnya dan meminum hampir setengah air di gelasnya, dan mencoba mengambil napas pendek-pendek. Entah apa yang terjadi semalam, apa yang ia lihat itu serasa nyata, terlalu nyata untuk sebuah mimpi. Bahkan ia masih mengingat perawakan dari sosok itu yang tentu saja membuat siapapun tidak sanggup untuk melihatnya. Tante Alin pun terduduk di kursi belajarnya dengan lemas, sambil merapikan rambutnya yang berantakan, ia kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarnya dan mengingat posisi dimana para sosok itu berdiri.....ia segera menggelengkan kepalanya, tidak mau mengingat hal menyeramkan itu lagi dan mengambil handuk yang tergantung di pintu kamar karena hari ini ia akan ke studio foto untuk mengambil hasil cetak foto dari "sesi pemotretan" kilat yang ia lakukan.


*****


"Alin..., mau ambil hasil foto kemarin ya?", sapa pemilik studio foto dengan ramah. Tante Alin memang selalu datang ke studio foto ini untuk mencetak hasil foto miliknya.


"Iya Koh, sudah jadi ya fotonya?",


"Sudah.., sebentar ya, duduk saja dulu...", Si pemilik studio mempersilahkan Tante Alin duduk, namun Tante lebih memilih untuk berdiri saja.


"Ini Lin fotonya, periksa dlu ya Lin...", Si pemilik studio menyerahkan amplop berisi foto yang sudah dicetak kepada Tante, dan setelah Tante membayar fotonya, barulah Tante Alin duduk di ruang tunggu studio foto itu untuk mengecek foto-foto di dalam amplop itu.

__ADS_1


Tante melihat-lihat hasil cetak dari jepretannya itu satu persatu. Namun setelah ia lihat kembali, ternyata ada beberapa foto yang terasa janggal baginya dan ketika ia perhatikan kembali dengan seksama..., Tante kaget dengan menahan napasnya sejenak. Ia berusaha menenangkan dirinya dan mulai memisahkan foto-foto yang terlihat janggal itu dengan foto lainnya yang sudah ia rapikan ke dalam amplop. Ia harus segera membakar foto yang janggal itu setibanya di rumah.....karena semua sosok mengerikan yang ada dalam mimpinya semalam ada di dalam foto-foto janggal itu.........


\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2