The House 1937

The House 1937
47. Mencari Kebenaran


__ADS_3

Tante Alin sampai menutup mulutnya dengan telapak tangan, dan terlihat ia menahan tangisnya. Bahunya terlihat bergetar sampai-sampai Papa memegangi kedua bahu adiknya itu dan merangkulnya. Ia paham mungkin Adiknya itu amat sangat terkejut mengenai cerita yang tadi ia sampaikan. Mereka berdua sampai melihat satu sosok mengerikan yang sama walaupun si waktu yang berbeda. Entah mengapa ia merasakan bahwa apa yang mereka alami ini adalah sesuatu yang sangat serius, tidak bisa di remehkan sama sekali. Berulang kali papa menenangkan Tante Alin yang terlihat terguncang.


"Sudah Lin..,tenang ya..., jangan menangis lagi...", Papa yang memang tidak pandai bicara, hanya itu yang papa ucapkan untuk menenangkan adik perempuannya itu.


"Memangnya Koko tidak cerita ke Enah soal ini?, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja..", Tante menyeka air matanya dengan kertas tisu yang tadi ia ambil ke atas meja belajarnya.


Papa hanya menunjukkan wajah yang terlihat lesu dan menghela napas dengan sedikit kasar.


"Kalo Koko tau lu juga pernah lihat, sudah dari lama Koko cerita ke Enah...",


"Ko, Alin takut kalau ini pertanda buruk...",


"Maksud lu apa Lin?",


"Kita berdua sampai melihat "hal" yang sama ko, jelas itu pasti bukan kebetulan..",


"Ya.., mungkin benar begitu...", Papa tidak menyelesaikan kalimatnya, hanya menatap Tante Alin dengan sorot mata yang sulit untuk di jelaskan.


"Hah?", Tante tidak mengerti dengan kalimat papa yang menggantung itu.


"Ya, maksudnya.., mungkin memang benar, ini tidak bisa dibiarkan..",


Tante hanya menatap lantai di bawah kakinya dengan pandangan tidak bersemangat, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke Papa.


"Sepertinya kita memang harus keluar dari rumah ini ko...",


"Itu tidak mungkin Lin..", Papa langsung menyanggah kalimat Tante Alin.


"Pasti karena Enah kan?, Memangnya Koko tidak bisa membujuk Enah lagi untuk hal ini?,", Tante menatap gusar papa yang membalas tatapan adiknya dengan tatapan terdiam kaku.


"Jangankan Koko.., Ci Dewi saja tidak bisa membujuk Enah.., lu kan tahu sendiri, kalau sudah menyangkut rumah ini, Enah tidak mau di ganggu gugat sama sekali....",

__ADS_1


Papa tahu bahwa Nenek sangat mencintai Almarhum Kakek, rasa cintanya yang begitu besar dibuktikannya dengan menjaga seluruh peninggalan yang kakek berikan kepada keluarganya, termasuk rumah besar ini. Bagi Nenek, rumah besar ini tidak hanya sebagai tempat tinggal semata, tetapi juga sebagai bukti dari perjalanan rumah tangganya bersama kakek yang terus berjuang dan berproses dengan hasil yang mereka semua rasakan sampai hari ini. Papa, dan ketiga saudaranya yang lain sebenarnya tidak bermaksud untuk melupakan dan mengabaikan hasil kerja keras dai almarhum kakek, hanya saja, karena banyak peristiwa Aneh nan ganjil yang banyak mereka rasakan selama tinggal di rumah ini, itulah yang membuat mereka mengambil inisiatif ingin menjual rumah ini. Atau setidaknya jika pilihan pertama mereka tidak jadi dilakukan, mereka tinggal di rumah lainnya yang mungkin saja lebih "aman".


"Enah pasti marah lagi kalau kita berdua bicara soal itu...", Papa mengusap wajahnya dengan sedikit Frustasi.


"Alin tahu Ko Enah sayang sama Babah, merawat semua peninggalan Babah sampe hari ini. Tapi lain hal kalau kita masih tinggal di rumah ini..., Alin ga setuju...", Tante Alin meraih bantal guling dan memeluknya erat.


Papa hanya mengangguk pelan, lalu ia merebahkan dirinya di atas tempat tidur Tante dan mengambil satu bantal kepala untuk dirinya. Jika ia pikir kembali membicarakan soal rumah ini memang tidak ada habisnya, dalam hal ini keinginan mereka untuk menjualnya. Ia sudah tidak tahu lagi cara apa yang harus dilakukannya agar Nenek luluh dan menyetujui untuk hal ini. Namun, jika mereka memang mereka berhasil membujuk nenek untuk menjual rumah ini. Sepertinya akan sulit untuk mencari orang yang mau membelinya, karena suka atau tidak suka papa memang sudah mengetahui bahwa cap angker dan mengerikan memang sudah lama tersemat di rumah ini, bahkan sudah ada ketika Kakek masih hidup.


Kakek....


Papa tiba-tiba teringat bahwa Kakek memiliki seorang teman yang memiliki "kelebihan" atau kemampuan khusus dalam hal-hal semacam itu. Ia ingat bahwa teman dari kakek itu adalah seorang penjaga dan pengurus Klenteng. Dulu kakek juga pernah menjadi seorang pengurus Klenteng selama beberapa tahun. Papa ingat Kakek memang cukup dekat dengannya, kalau tidak salah ia juga yang membantu Kakek ketika Tante Dewi mengalami sakit yang Aneh sewaktu kecil. Nenek memang pernah bercerita sekilas, berdasarkan penuturan teman kakek itu, jika ada seseorang yang iri dengan usaha kakek yang kala itu memang sedang maju pesat, dan akhirnya "menjahili" Tante Dewi. Mengingat hal itu, mungkinkah teman dari Almarhum Kakek itu juga bisa membantunya mengenai apa yang telah mereka berdua alami?.


"Lin.., Lin..", Papa yang secara tiba-tiba bangun dari tidurnya membuat Tante terkejut.


"Tidak perlu sampai buat Alin kaget begitu Ko, kenapa?",


"Lu ingat teman Babah yang orang pintar itu?, Siapa ya namanya?, Koko lupa...",


"Ya, lu ingat siapa namanya?",


"Namanya ya..?", Tante berusaha mengingat-ingat nama dari orang yang mereka maksud.


"Ka...kalau tidak salah panggilannya Babah Hwan Ko, ya.., Babah Hwan.., Alin Ingat...", Karena Tante juga ingat cerita Nenek mengenai Tante Dewi sewaktu kecil.


"Babah Hwan ya..., sekarang masih mengurus Klenteng tidak ya..?,", Klenteng yang maksud papa itu adalah Klenteng berlokasi cukup jauh dari dari daerah ini. Papa juga sudah lama sekali tidak kesana sejak Kakek tidak lagi menjadi pengurus di Klenteng itu.


"Alin juga tidak tahu, apa Koko mau menemui Babah Hwan?", Tebakan Tante Alin ternyata benar dengan Papa yang langsung menganggukkan Kepala.


"Iya, nanti Koko mau kesana...",


"Mau menemui Babah Hwan?, Kalau memang Koko berniat menemui Babah Hwan, lebih baik secepatnya Ko..",

__ADS_1


"Yah..,mungkin dalam waktu dekat ini Koko akan pergi kesana. Dan yang jelas, Enah tidak boleh tahu mengenai pertemuan itu....",


********


Pada Hari yang sudah di tentukan oleh Papa, akhirnya ia berangkat pergi menuju Klenteng itu untuk menemui Babah Hwan. Ia tidak pergi seorang diri, Papa pergi bersama Om Herman dengan mengendarai mobil truk kuning miliknya. Mendengar Papa bercerita kepadanya akan menemui Sahabat dari almarhum Kakek itu, ia berinisiatif untuk menemani Papa kesana. Papa sempat menolak dan berkata akan pergi seorang diri saja. Om Herman yang memang sudah tahu Papa akan menolak tawarannya, ia kemudian berdalih bahwa kebetulan ia juga ingin pergi kesana.


"Terima Kasih Jun, lu udah mau kasih tumpangan buat gua...", Om Herman duduk di sebelah Papa yang berada di belakang setir kemudi.


"Tida usah begitu, Lu kira gua orang asing ya?,", Papa malah merasa jengkel mendengar kata terima kasih dari sahabatnya itu, seakan ia adalah orang asing atau orang yang baru pertama kali mengenal dirinya.


"Perjalanannya masih jauh Man, sekitar tiga jam lagi...", Jawab Papa sekenanya. Sebelumnya memang Papa sudah pernah kesana. Hanya saja itu sudah lama sekali.


"Man, nanti gua mau pergi ke Klenteng...", Perkataan Papa yang ia ucapkan tiba-tiba itu langsung mengalihkan perhatian Om Herman.


"Klenteng?, Klenteng yang dekat dengan Pasar ini?",


"Bukan Man, gua mau ke Klenteng tempat Babah pernah jadi pengurus disana...",


"Apa?, di Klenteng itu?, setahu gua lokasi Klenteng itu lumayan jauh Jun.., Mau apa lu kesana?",


"Gua mau ketemu Temennya Babah Man, namanya Babah Hwan, ada yang mau gua tanyakan sama dia...",


"Tanya?, Maksudnya?",


"Gua ingat Babah Hwan itu 'orang pintar', dia yang pernah bantu Babah ketika Ci Dewi "sakit" waktu kecil, sakit dalam arti..,bukan sakit sungguhan, lu paham kan?",


"Oh..iya, gua paham...memang lu mau nanya apa, Jun?, sampai mau menemuinya segala?",


'Iya Man..., ini soal rumah itu. Dan juga antara hidup dan mati...",


********

__ADS_1


__ADS_2