
"Bah...Nah....Tolong Dewi....Dewi takutt....", Dewi yang terbaring lemah dengan mata terpejam bergerak lemah tak beraturan sambil memanggil kedua orangtuanya sekuat tenaga. Napasnya sedikit tersengal dan bulir keringat dingin mulai membasahi dahinya. Bibi yang sedari tadi menunggui Dewi kecil di kamarnya langsung berlari ke kamar Babah dan Enah kemudian mengetuk-ngetuk pintu kamar itu berharap Babah dan Enah segera membuka pintunya.
Dari dalam kamar terlihat Babah yang membuka pintu kamar di susul Enah yang berdiri di belakangnya dengan raut wajah yang sangat khawatir. Ini sudah lewat tengah malam, jika Bibi sampai memberanikan diri mengetuk pintu kamar mereka, itu berarti ada sesuatu yang sangat serius. Melihat wajah Bibi yang terlihat panik itu sudah pasti ini menyangkut kondisi anak mereka.
"Neng Dewi Bah, Dewi mengigau...", Bibi tidak bisa menutupi nada panik dalam bicaranya menyampaikan kondisi dari anak majikannya itu.
Babah langsung menghambur keluar dari kamarnya melangkah cepat menuju kamar Dewi disusul Enah dan Bibi yang mengikuti dari belakang. Babah membuka pintu kamar anaknya itu dengan sedikit kasar dan melihat kondisi putrinya itu yang masih mengigau dengan tubuhnya yang juga masih bergerak lemah di atas ranjang. Perlahan Babah mendekat ke samping ranjang dan memegang telapak tangan Dewi yang sudah terasa dingin itu.
"Pergii....,pergii...,Ba...bahh...Dewi....", Dewi terus mengigau meminta tolong dengan nada yang sangat lemah dan napas tersengal. Babah mengerutkan kening dan tatapannya sangat tajam menusuk. Ia yakin ada sesuatu yang tidak wajar dengan sakit putrinya ini. Babah memberi isyarat pada Enah untuk menghampirinya dan Babah membisikkan sesuatu padanya.
"Ambilkan botol kaca yang ada di meja altar Neng...", perintah Babah pada Enah yang langsung bergegas ke meja altar yang ada di ruang depan.
Sementara Babah menggenggam erat tangan Dewi dan mulai berbisik di telinga Dewi yang sedari tadi masih meminta tolong dengan menyebut dirinya.
(Neng,, ini Babah. Dewi tidak perlu takut. ada Babah disini..., Dewi dengar suara Babah ya, bukan yang lain...)
Babah pun mengambil napas sejenak, membacakan doa-doa suci dengan membisikkannya ke telinga putrinya itu. Napas Dewi yang awalnya tersengal kini sedikit lebih tenang dan tidak lagi meminta tolong. Babah memang dikenal sebagai sosok yang cukup religius karena ia pernah beberapa tahun menjadi pengurus di Klenteng. Setelah melihat kondisi putrinya yang sudah lebih tenang, ia berusaha membangunkan Dewi dengan perlahan dan mengusap wajah Dewi yang penuh keringat dengan saputangan yang sudah ia siapkan di saku piyamanya.
"Ba..bahh...", Dewi perlahan membuka matanya dengan tatapan yang terlihat sangat lemah, ada air mata yang mengalir dari sudut matanya dan membasahi pelipisnya.
"Sudah Neng.., Tenang...", Babah mengambil botol kaca berisi air yang tadi diambil Enah dari meja altar, lalu menuangkannya di gelas belimbing dan menyerahkannya kepada Dewi. Karena kondisinya yang begitu lemas, Enah sampai membantu anaknya itu untuk duduk di ranjang dan memegang gelas itu. Dewi meneguk air itu perlahan-lahan sampai habis dan gelas yang sudah kosong itu diserahkan kepada Bibi.
"Dewi kenapa Neng?, minta tolong kenapa?", Enah memegang dahi Dewi yang masih terasa panas, Dewi hanya menatap kedua orangtuanya dengan lemah.
__ADS_1
"Ada yang mau bawa Dewi Nah, wujudnya seram, Dewi takut..", Dewi kembali terisak dan Enah mengeratkan genggaman tangannya kepada Dewi dengan tatapan khawatir bercampur takut. Lalu Enah melirik ke arah Babah dan Babah mengusap lembut kedua bahu istrinya, agar istrinya tidak khawatir berlebihan dan tetap tenang. Dugaan Babah benar, sepertinya ada hal yang tidak beres dibalik sakit anaknya ini. Seperti ada sesuatu yang tak kasat mata yang seolah ingin membuat putrinya celaka entah untuk apa tujuannya. Esok pagi ia berencana akan menemui salah satu temannya yang kini masih menjadi pengurus Klenteng yang Babah tau memiliki "kelebihan" untuk melihat dan mengetahui hal-hal semacam ini.
*******
"Memang ada yang mau mencelakai anak lu, An.....", Terang teman Babah yang kini ada di rumah untuk melihat kondisi Dewi setelah Babah datang kepadanya dan menjelaskan apa yang terjadi pada Dewi. Beliau memanggil Babah dengan sebutan An, dari nama tradisionalnya Djiaw Chun An.
"Maksudnya?", Jantung Babah serasa diremas, ternyata dugaannya sejak awal memang benar bahwa sakit putrinya itu memang ada campur tangan dari hal yang tak kasat mata.
"Yang gua lihat ada yang mau anak lu celaka, ada yang iri karena usaha lu maju pesat An...",
"Begitu ya...", Babah terlihat pucat sambil menatap temannya itu.
Setelah itu dilakukanlah proses "pembersihan" kepada Dewi agar gangguan serupa tidak terjadi kembali dan Teman Babah itu memberikan nasihat bahwa ia harus lebih berhati-hati karena bisa saja yang melakukan ini semua adalah orang terdekat atau orang yang mengenalnya.
"Tapi Apa An?", Teman Babah yang bernama lengkap Lauw Tek Hwan ini kembali menatap Babah dengan serius, ia menduga bahwa Babah pasti ingin mengetahui siapa sekiranya orang yang begitu tega ingin mencelakai anaknya, apalagi dengan cara tak kasat mata seperti ini.
"Kira-kira lu tau siapa yang melakukan ini semua?",
Laki-laki yang kerap dipanggil Atek itu hanya menggelengkan kepala,
"Lebih baik lu fokus ke anak lu dan keluarga lu supaya kejadian ini ga berulang lagi An. Dan yang harus selalu lu ingat, semua orang bertanggungjawab atas semua perbuatannya masing-masing, baik atau buruk..."
*********
__ADS_1
Bonus :
Babah Enah
(Djiaw Chun An). (Oey Gu Nio)
Dewi
(Djiaw Ing Nio)
Toni
(Djiaw Seng An)
Rudy /Jun
(Djiaw Jun An)
Lina /Alin
(Djiaw Lin Nio)
Terima Kasih
__ADS_1
Jangan Lupa Favorit, Like, dan Komennya !