
Setelah Papa direpotkan dengan banyak urusannya beberapa hari yang lalu, akhirnya ia memutuskan akan melakukan renovasi terhadap gudang yang lokasinya persisi di samping gudang padi yang ada di bagian belakang rumah. Papa sudah membicarakan hal ini dengan nenek sebelumnya, Papa berbicara kepada Nenek bahwa gudang itu perlu memerlukan renovasi karena bagian atapnya sudah rapuh dan terlihat di beberapa bagian sudah berlubang. Hal itu bisa saja merusak barang-barang yang tersimpan di dalamnya oleh air hujan karena atap yang bocor. Setelah terjadi diskusi yang cukup alot antara ibu dan anak itu, akhirnya Nenek menyetujui untuk dilakukannya renovasi gudang itu. Memang nenek, ingat semenjak Almarhum Kakekku yang telah lama meninggal dunia, gudang itu belum mengalami renovasi kembali.
"Memang harus di renovasi sekarang?", Tanya Nenek mengerutkan dahi, melihat Papa yang begitu serius menjelaskan soal rencana renovasi itu.
"Iya Nah, kalau tidak buru-buru di renovasi, takut kebocoran dan barang-barang di dalam gudang itu bisa rusak...", Bahkan Papa harus real mengulur waktu untuk membahas masalah Mama demi rencana renovasi ini
"Baiklah Jun, kalau gudang itu mau di renovasi, ya renovasi saja. Gua ngga mau kalau sampai semua barang di dalam gudang itu rusak atau kemalingan karena gudang itu sudah lapuk...", Nenek tahu persis hal terakhir yang tadi disebutkan masih sering terjadi sampai saat ini.
"Iya Nah, makanya gudang itu harus segera di renovasi...", Papa mengangguk singkat, secara tidak langsung setuju dengan pernyataan terakhir nenek.
"Kapan renovasi mau dilakukan, Jun?", Nenek menyeruput teh hangat tawarnya, mereka berdua tengah mengobrol di bale yang ada diwarung nenek. Papa agak heran dengan nenek yang malah minum teh hangat, padahal cuaca sedang panas terik seperti ini.
"Secepatnya akan dilakukan Nah, mumpung belum musim hujan..", Papa meminum sebotol minuman sarsaparilla dingin langsung dari botolnya.
__ADS_1
"Lu mau panggil siapa buat renovasinya?", Untuk urusan renovasi atau hal lainnya yang berkaitan dengan rumah, nenek memang mengandalkan Papa.
Papa berpikir sejenak.
"Mungkin Jun bakal manggil tukang dan mandir yang waktu itu mengurus renovasi atap, Nah..., mereka semua bagus kerjanya..",
"Ya sudah, nanti ku urus aja buat renovasinya...",
*****
"Bi, nanti untuk menaruh bakul nasi dan lauk pauknya, taruh saja di meja kayu tidak terpakai yang ada persis di samping luar dapur ini.., Sebentar lagi, para tukang dan mandornya akan tiba..", Perintah Nenek kepada Bi Inah dengan bakul nasi hangat ditangannya.
"Iya Nah", Bi Inah dengan berjalan perlahan mulai memindahkan satu persatu bakul nasi beserta semua lauk pauk itu ke meja yang di maksud Nenek. Bi Inah harus berjalan bolak-balik untuk memindahkan semuanya. Setelah selesai, Bi Inah tidak langsung kembali ke dapur, ia malah melirik gudang yang akan di renovasi hari ini.
__ADS_1
Bi Inah memperhatikan sejenak gudang tua itu, gudang yang persis berdiri secara berdempetan dengan gudang padi itu. Di lihat bagaimanapun, gudang itu memang terlihat rapuh dan tua. Berbeda dengan gudang padi yang meskipun juga gudang tua, namun terlihat kokoh dengan dinding dan atapnya yang terbuat dari kayu jati asli, dengan bagian lantai gudang yang terbuat dari semen, bagian lantai semen gudang sengaja dibuat lebih tinggi dari tanah, untuk mencegah banjir masuk ketika musim hujan tiba. Bisa di bilang, salah satu bagian luar rumah ini memang jarang sekali Bi Inah perhatikan, paling-paling ia hanya melihatnya sebentar ketika sedang memberi makan dedak ke dandang ayam. Namun hari ini ,gudang tua itu cukup menarik perhatiannya.
Bi Inah terdiam sejenak dan masih berdiri di samping meja, menunggu apakah suara Nenek kembali terdengar akan memanggilnya?. Setelah beberapa lama ia menunggu, tidak terdengar lagi suara nenek, mungkin Nenek telah telah kembali berjaga di warungnya.
Ini kesempatan bagus, entah apa yang membuat Bi Inah penasaran dan ingin sekali melihat ke dalam gudang itu. Ia memang ingat beberapa orang yang ia kenal pernah bercerita bahwa gudang tua ini adalah gudang angker. Namun itu sama sekali tidak menyurutkan niatnya untuk masuk ke gudang tua itu. Lagi pula ini sudah beranjak siang, dan ia sama sekali tidak ada niat buruk ketika masuk ke gudang itu.
Bi Inah memperhatikan langkahnya ketika berjalan menghampiri pintu gudang itu. Ia benar-benar harus berhati-hati karena bisa saja di balik rumput yang ia injak itu, ada ular yang bersembunyi. Salah satu teman Najim pernah di patuk ular karena kakinya tidak sengaja menginjak ular malang itu yang keberadaannya menyaru dengan rumput sampai ia harus di bawa ke puskesmas karena terkena bisa ular. Bi Inah menatap ke arah tanah dan rumput di sekitarnya, dan juga menatap ke arah rumah. Melihat kondisi sudah aman, Bi Inah memegang pintu gudang yang memang tidak terkunci. Nenek sengaja tidak menguncinya untuk renovasi hari ini, jika dilihat-lihat mungkin beberapa hari ini rumah akan sedikit ramai oleh tukang bangunan dan mandornya, karena butuh waktu yang cukup lama untuk melakukan renovasi dari gudang ini. Di lihat dari bahan bangunan yang ada, mungkin gudang itu akan di renovasi menyerupai gudang padi yang persisi ada di sebelahnya.
Bibi menghela napas pendek, membuka rantai yang membelit pintu gudang itu, pintu gudang ini pun terlihat sama rapuhnya, malah cenderung mudah bila ada maling yang ingin merusak pintunya. Memang, renovasi adalah langkah yang tepat di rencanakan oleh Papa dan Nenek agar tidak kebocoran sewaktu hujan dan tidak rawan akan di masuki oleh maling. Setelah beberapa lama Bi Inah berusaha membuka pintu tua yang macet itu, akhirnya ia berhasil membuka pintunya bersamaan dengan bunyi derit dari engsel pintu yang terdengar cukup keras. Dan tampaklah kegelapan yang berasal dari dalam gudang menyambut dirinya.
********
__ADS_1