The House 1937

The House 1937
15. Potret Lama


__ADS_3

Hari ini tanteku cukup sibuk dengan berbagai barang-barang tua yang ia keluarkan dari salah satu lemari yang ada di kamar nenek. Hari ini nenek memerintahkan Tante untuk membersihkan lemari itu sekaligus barang-barang yang ada di dalamnya dan menata kembali semua barang itu ke dalam lemari. Tante juga diperingatkan oleh nenek agar berhati-hati ketika membersihkan dan menata kembali semua barang itu ke Lemari mengingat semua barang itu adalah barang-barang lama yang sudah cukup usang dan rentan rusak atau hancur. Tanteku memperhatikan sejenak bagian dalam lemari yang berdebu itu, ia berpikir kapan terakhir kali lemari ini dibersihkan sampai-sampai terdapat sarang gonggo atau laba-laba ayah kaki panjang yang cukup banyak dan serangga kecil itu banyak bersarang diantara jaring-jaring halus itu. Tante yang sudah mengeluarkan semua barang-barang itu kini memfokuskan pandangannya sejenak kearah barang-barang itu dan diantaranya adalah beberapa album foto yang sudah terlihat usang dan berdebu. Ia merasa penasaran dengan album foto itu dan dirinya memang baru pertama kali ini melihatnya.


Album foto pertama yang ia lihat adalah album berwarna coklat tua yang sudah pudar warnanya dan debu-debu di album itu langsung banyak menempel di tangannya begitu menyentuh album foto tua itu. Dari beberapa album foto yang ada, entah kenapa album foto inilah yang memang paling menarik perhatiannya. Mungkin karena album ini terlihat paling usang diantara semua album foto yang ada disini dan biasanya sebuah foto tua selalu menyimpan kenangan tersendiri atau bahkan ada sejarah yang menyertainya. Begitu album foto itu dibuka, terlihat cover foto tersebut yang sudah menguning hampir kecoklatan dengan bertuliskan kalimat yang sepertinya kalimat berbahasa Belanda yang tidak di mengertinya, ia sedikit mengernyit dan kembali membuka halaman album foto itu. Terlihat foto beberapa orang yang sepertinya mereka merupakan orang penting, pejabat atau sejenisnya yang berdiri sejajar dengan posisi formal. Beberapa orang yang ada di dalam foto itu ada yang merupakan orang pribumi, orang Tionghoa keturunan sepertinya, ada juga orang Belanda walaupun hanya sedikit. Disusul beberapa foto lain yang memperlihatkan suasana dan kondisi jaman dulu yang membuat tanteku itu terkagum-kagum. Berfoto pada masa itu merupakan salah satu hal yang terbilang langka dan mewah untuk dilakukan. Dan biasanya memang banyak dilakukan oleh orang-orang penting seperti pejabat, kaum priyayi , orang-orang kaya, yang merupakan golongan orang-orang menengah keatas. Salah satu foto yang ada di album itu terlihat seorang laki-laki yang merupakan keturunan Tianghoa berfoto bersama dengan seorang pria Belanda Dewasa dengan potongan kumis yang khas pada masa itu, pria Tiong Hoa itu mengenakan pakaian kebesaran dinasti Ching dilengkapi dengan topi dan aksesorisnya.



Ada juga foto seorang wanita dengan mengenakan konde yang cukup besar dengan baju tradisionalnya yang mengambil posisi berdiri sedikit miring dari kamera


__ADS_1


Sebuah tangan yang tiba-tiba menepuk pundak tanteku membuatnya kaget dan langsung menengok kebelakang dan terlihat nenekku dengan tangan yang sedikit menghitam, mungkin habis mengganti sumbu kompor didapur.


("Ya ampun Enah, bikin Alin kaget aja..."),


("Lu serius amat liat-liat fotonya.."),


("Iya Nah, mumpung lagi beresin sekalian liat-liat juga..."),


"Ik heb één herinnering op deze foto vastgelegd die je je misschien voor nu of zelfs voor altijd herinnert. Bedankt voor alles en jou kennen is een plezier voor mij. Van ons van wijk familie"

__ADS_1


(Satu kenangan telah saya abadikan dalam foto ini yang mungkin bisa anda kenang untuk saat ini atau bahkan untuk selamanya. Terima kasih untuk segala hal dan mengenal anda merupakan hal yang menyenangkan bagi diri saya. Dari kami keluarga van wijk)


Namun naasnya berdasarkan cerita yang dituturkan kepada nenek, Tuan Belanda yang dikenal baik oleh kakek buyut kami itu meninggal terbunuh secara misterius begitu beberapa hari ia tinggal di tempat dinas barunya. Kakek buyut kami mengetahui hal itu setelah istri dari Tuan Belanda itu mengiriminya surat dan di surat itu juga tertulis mereka semua sepakat untuk kembali ke Negeri Belanda setelah upacara pemakaman suaminya selesai dilakukan.



******


Tanteku akhirnya menaruh kembali barang-barang yang telah ia bersihkan ke dalam lemari yang juga telah bersih dan bebas dari sarang gonggo. Bersih-bersih yang ia lakukan kali ini walaupun melelahkan dan membuat seluruh tangan dan bajunya kotor karena debu dan sarang gonggo, ia benar-benar mendapatkan hal yang berharga karena ia jadi mengetahui sejarah dari keluarganya sendiri yang tak ia sangka bahwa keluarganya pada masa itu tak hanya mampu membangun bisnis yang mumpuni tetapi juga mampu membangun koneksi dengan orang-orang yang memiliki pengaruh dimasanya. Bagi sebagian orang, memiliki latar belakang keluarga yang seperti ini merupakan hal yang mengagumkan dan tak jarang mereka begitu membanggakannya. Ia masih tersenyum dan mengelap tangan kotornya dengan kain lap yang sudah tidak terlihat lagi warna aslinya kemudian menutup pintu lemari tua itu dan sedikit tersentak ketika menutupnya. Pintu lemari itu memiliki kaca cermin yang cukup besar dan hampir memenuhi semua bagian daun pintunya, ketika pintu lemari itu hendak ditutup, semua refleksi dari benda-benda yang ada di depannya terpantul jelas di kaca cermin itu, termasuk bayangan seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan pakaian serba putih dengan kumisnya yang terlihat berwarna coklat muda dan sekilas terlihat tersenyum dari pantulan cermin. Pantulan bayangan itu sekilas mirip dengan Tuan Belanda yang tadi ia lihat di foto. Tanteku kaget dan sedikit gemetar ketakutan ketika melihat bayangan laki-laki itu terpantul di kaca cermin lemari tua ini. Jangan-jangan itu adalah.........................

__ADS_1


******


__ADS_2