The House 1937

The House 1937
52. Mencari Kebenaran (6)


__ADS_3

Papa menatap Chun In dengan tatapan terbelalak, mengalihkan pandangannya ke arah Om Herman yang juga terlihat keheranan lalu kembali menatap Chun In. Sebelumnya, memang papa memikirkan beberapa kemungkinan jawaban yang akan ia dapatkan, namun ia tak menyangka bahwa jawaban seperti ini yang ia dengar.


"Itu...., apa benar begitu Ko?, Engkoh tidak salah 'melihat' kan?", Papa benar-benar tidak ingin percaya dengan semua ini.


"Masa sih Koh sampai begitu?", Om Herman kembali meminum sisa teh si gelasnya yang kini sudah mulai dingin. Ia menyenggol bahu Papa lalu menunjukkan gelas tehnya, isyarat untuk meminum sedikit tehnya yang masih tersisa banyak yang mungkin juga sudah dingin, karena papa tadi hanya meminumnya sedikit. Begitu papa menyeruput tehnya, benar saja, teh itu memang sudah dingin. Chun In yang sepertinya tahu bahwa teh untuk tamunya itu sudah dingin, ia berinisiatif memberitahu papa agar nanti tehnya di ganti dengan yang masih baru, dan tentu saja masih hangat. Papa mengucapkan terima kasih, namun ia lebih memilih untuk menghabiskan tehnya yang sudah dingin ini.


"Bagaimana bisa seperti itu Koh?, maksud saya.., ini benar-benar tidak masuk akal Koh...", Papa sedikit memijat pelipisnya.


"Tenang Jun...", Om Herman setengah berbisik sambil menepuk-nepuk bahu papa.


"Sebelum Engkoh Jun datang kemari, kasus seperti ini tidak sedikit terjadi Koh. Maksud saya, tidak Engkoh seorang yang seperti ini, "mereka" juga bisa punya rasa suka ke manusia ko, kadang ada juga yang tingkatnya sampai "posesif" atau terlalu suka sampai-sampai itu bisa bikin celaka orangnya Koh...",


"Sampai seberapa bahayanya ko?, apa saya juga bisa seperti itu?",


"Yang saya lihat tidak sampai seperti itu, karena Engkoh yang tidak bisa 'melihat' sosok itu dan mungkin karena Engkoh juga rajin bersembahyang, gangguannya pun tidak terlalu besar...", Papa mengangguk mengerti, sebelumnya telah menceritakan kepada Chun In bahwa Sosok mengerikan itu hanya menerornya dalam mimpi, tidak sampai menyentuh atau bahkan melukai fisik jasmaninya. Papa juga telah bercerita bahwa ia rajin bersembahyang baik siang maupun malam, karena papa memang yakin, hanya dengan kepadaNya lah manusia berdoa dan memohon perlindungan.


"Kalau yabg sampai 'posesif' itu, kenapa bisa koh?, atau bahkan sampai melukai fisik?", Om Herman yang penasaran pun ikut bertanya. Dalam hatinya, ia cukup bersyukur, dirinya memiliki kehidupan yang normal tanpa ada gangguan-gangguan aneh seperti yang dialami Papa. Namun walau begitu, ia juga berharap papa tidak akan lagi mengalami hal-hal seperti ini.


"Untuk penyebabnya itu bervariasi, berdasarkan kasus yang pernah saya tangani sebelumnya. Ada yang memang orangnya mudah untuk 'diganggu'. Ada juga yang karena sosok itu cukup 'kuat' sampai bisa mencelakai. Ada juga karena adanya 'komunikasi' karena orangnya 'peka'. Maksudnya dia bisa 'melihat' atau 'merasakan' keberadaan sosok itu...",

__ADS_1


"Jadi, sekarang saya harus bagaimana Koh?, apakah ada solusinya untuk masalah ini?", Papa yang sudah terlihat lesu ingin segera mengetahui penyelesaian dari ini semua.


"Engkoh sama temannya ini mau menginap disini?,", Chun In melirik ransel yang dibawa oleh papa dan Om Herman.


"Iya Koh, malam ini kami akan bermalam di Klenteng...", Jawab Papa singkat. Papa sedikit mengerutkan dahi, bukannya langsung menjawab pertanyaannya, malah menanyakan barang bawaan miliknya dan Om Herman.


"Kalau Engkoh-Engkoh mau, bisa saja menginap disini. Ada satu kamar kosong yang bisa Engkoh pakai untuk bermalam...",


"Terima Kasih Koh, tapi sebelumnya kami memang sudah berencana untuk bermalam di Klenteng saja. Saya tida mau merepotkan Engkoh...", Papa menolak halus tawaran dari putra Babah Hwan ini untuk bermalam di rumahnya. Ia tak bermaksud menolak tawaran baik dari Chun In, hanya saja ia baru pertama kali bertemu dan berinteraksi langsung dengan putra dari almarhum sahabat kakek itu. Ia hanya merasa tak enak hati jika langsung menerima tawaran untuk menginap di rumahnya ini. Apalagi dengan kedatangannya kemari untuk menemuinya yang begitu mendadak.


"Oh Baik Koh, tidak apa-apa kalau memang mau di Klenteng saja. Untuk yang tadi Koh Jun tanyakan, besok pagi-pagi saya akan ke Klenteng, sekitar jam sembilan pagi. Nanti Engkoh temui saya di meja altar utama..",


"Apa ada lagi yang ingin Engkoh-engkoh tanyakan?, Mumpung lagi ketemu seperti ini Koh, tidak apa-apa juga ingin bertanya mengenai hal-hal yang lain...", Chun In yang memang melihat ekspresi muram dari kedua tamunya ini, berusaha untuk mencairkan suasana dan membuat interaksi mereka bertiga sedikit lebih hangat.


"Anu Koh..., kalau saya mau tanya soal jodoh,, bisa?", Om Herman langsung menyela yang membuat Chun In tertawa kecil, sementara papa melirik Om Herman dengan menunjukkan ekspresi wajah muram.


*******


Om Herman terlihat asyik mengobrol dengan salah satu penjaga Klenteng sambil minum kopi dan merokok di kursi yang ada di taman kecil dekat dengan WC dan kamar mandi umum. Sesekali mereka terlihat tertawa dan meminum kopi hitam hangat yang tadi Herman buat di dapur Klenteng. Tadi malam mereka tidur di ruang serbaguna berukuran sedang yang terletak persis di sebelah ruang tunggu tempat kemarin mereka memulai pembicaraan dengan Ncek Afung. Papa baru saja keluar dari dalam kamar mandi, dan melihat Om Herman yang masih asyik mengobrol dengan penjaga Klenteng itu. Papa mengerutkan dahi, suara mereka berdua cukup keras terdengar dari dalam kamar mandi. Papa hanya menghela napas melihat Om Herman dan penjaga Klenteng itu sambil menggosokkan rambutnya yang masih setengah basah. Penjaga Klenteng itu menyapa Papa ketika ia mendekat ke kursi taman tempat mereka duduk saat ini. Dulu, waktu terakhir kali papa datang Ke Klenteng ini, area ini hanyalah lahan kosong yang digunakan untuk menaruh berbagai macam peralatan yang tidak terpakai, dan sama sekali tidak terawat. Sekarang benar-benar sangat berbeda dengan di tanamnya rumput Jepang, aneka tanaman hias dengan hiasan bangku taman berwarna putih di tengah-tengah taman kecil ini. ada juga air mancur mini di bagian pojok belakang dengan beberapa ekor ikan Koi. Ternyata begitu banyak hal yang ia lewatkan setelah sekian lama kembali datang ke Klenteng ini.

__ADS_1


"Koh Jun, sudah lama sekali baru datang lagi kemari...",


"Iya Koh, maklum, saya baru sempat lagi kemari...", Papa hanya menjawab sekenanya saja, sejujurnya papa tidak mengenal penjaga Klenteng ini, yang mungkin seumuran dengan Ncek Afung. Mungkin laki-laki yang sudah memiliki dua warna rambut yang berbeda ini tahu bahwa ia adalah anak dari almarhum kakek.


"Sudah makan Koh?, sedang menunggu Chun In ya?",


"Sudah Koh, tadi pagi sama Herman. Nanti kami akan ke altar utama...", Papa melihat Om Herman yang malah memberikan tatapan peringatan, entah apa maksudnya itu.


Penjaga Klenteng tadi akhirnya mohon diri untuk membiarkan kedua sahabat ini memulai percakapannya sendiri. Ia merasa karena Papa sudah tiba, ia memilih untuk membiarkan kedua tamu jauhnya itu menikmati obrolan mereka berdua saja.


"Jun, apa-apaan sih lu...", Om Herman menggeser posisi duduknya untuk papa di bangku taman.


"Kenapa?", Papa yang duduk di sebelah sahabatnya itu memasang wajah sedikit bingung, seperti ia habis melakukan sesuatu yang salah.


"Sopan sedikit Jun, kita kan lagi di tempat orang. Jangan kaku begitu, ayo dah, ke altar utama....", ia tahu persis sahabatnya ini memang cenderung kaku dan pendiam, namun bukan berarti ia bisa dengan bebasnya seperti itu kepada yang lain, terutama yang lebih tua.


Papa hanya menggeleng pelan dan mengangkat bahunya santai. Ia merasa tidak melakukan sama sekali. Ia menarik handuk basah yang ia sampirkan di bahunya lalu menjemurnya di bagian senderan bangku taman. Setelah mereka berdua bersiap-siap di ruang serbaguna tempat mereka bermalam, mereka berdua akhirnya bersiap menuju altar utama Klenteng ini.


\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2