The House 1937

The House 1937
53. Mencari Kebenaran (7)


__ADS_3

Mereka telah tiba di altar utama yang terlihat bagus dan megah itu. Terlihat hanya ada beberapa penjaga yang berlalu lalang yang sepertinya mereka tengah melakukan pekerjaannya, membersihkan meja altar dari debu-debu hio yang berjatuhan serta mengganti batang-batang hio yang sudah habis terbakar. Sambil menunggu Chun In, mereka berdua berjalan menuju washtafel untuk mencuci tangan, lalu ke meja besar yang diatasnya terdapat tumpukan hio yang sudah di gulung dan di karetkan dengan kertas kuning. Setelah membakar semua hio itu di atas api di salah satu lilin berukuran cukup besar, mereka mulai bersembahyang di Altar terluar di klenteng ini, Altar Tuhan Yang Maha Esa, lalu di lanjutkan ke altar-altar para Dewa yang ada di bagian dalam Klenteng. Setelah mereka selesai sembahyang, mereka kembali ke altar utama, menunggu Chun In sambil bersandar di dinding dekat pintu masuk altar utama ini.


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Chun In yang mereka tunggu akhirnya datang, melalui pintu masuk utama di sebelah mereka. Putra Babah Hwan itu menyapa mereka ramah, dan memberikan instruksi kepada Papa dan Om Herman untuk melangkah mengikutinya. di depan meja altar berukuran besar itu, Chun In mengambil dua botol kaca berukuran sedang berisi air yang ada di meja itu, dengan beberapa lembar kertas kuning yang tertulis huruf-huruf aneh, sekilas kertas itu mirip dengan jimat yang membuat vampir tidak bisa bergerak apabila kertas itu di tempelkan di dahinya seperti di film-film horor Mandarin klasik.


"Apa ini Koh?", Papa memperhatikan sejenak kedua botol dan kertas kuning itu. Sekilas, kertas kuning itu mirip dengan kertas kuning yang di tempelkan di belakang pintu rumah.


"Air ini untuk Engkoh minum, campur sedikit saja dengan air biasa ya Koh, agar gangguan makhluk itu bisa jauh berkurang. Yang paling penting Engkoh harus terus rajin bersembahyang, memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan kertas kuning ini bisa dipergunakan dengan membakarnya di gelas, di campur dengan air biasa untuk diminum juga, kertas kuning ini bisa di pergunakan apabila gangguannya sudah menyentuh atau melukai secara fisik, saya berikan kertas ini untuk berjaga-jaga Koh....", Chun In menjelaskan dengan terperinci kegunaan dari batang yang ia ambil di meja besar ini.


"Baik Koh, saya mengerti...", Papa mengangguk mengerti, memegang botol kaca dan kertas-kertas kuning itu secara bergantian.


"Untuk rumah Engkoh sendiri, mohon maaf Koh, solusi yang bisa saya berikan adalah, Engkoh dan sekeluarga memang harus keluar dari rumah itu..., sekali lagi, yang saya berikan ini adalah agar makhluk itu tidak mengganggu lagi atau meminimalisir gangguan lainnya....", Chun In sebenarnya ingin menyampaikan hal ini sedari kemarin ketika Papa dan Om Herman datang kerumahnya. Namun, ia mempertimbangkan dan memutuskan untuk menjelaskannya hari ini saja di altar utama Klenteng.


"Baik Koh, tidak apa-apa. Saya mengerti...", Papa menghela napas sejenak dan menganggukkan kepalanya. Dalam hatinya, ia merasa sedikit lega. Kedatangannya jauh ke Klenteng ini sesuai dengan yang ia harapkan.


"Engkoh Jun dan Engkoh Herman sudah sembahyang?", Chun In menatap Papa dan Om Herman secara bergantian.


"Kami sudah sembahyang Koh, sebelum Engkoh sampai disini...", Jawab Om Herman yang berdiri di sebelah Papa, menyenggol bahu papa sambil mengangguk pelan dengan merogoh saku celananya. Papa yang paham isyarat dari Om Herman juga merogoh sakunya. Papa dan Om Herman mengeluarkan amplop putih kecil yang sebelumnya sudah mereka isi dengan uang. Om Herman menyerahkan amplop itu ke Papa, dan Papa memberikan amplop itu kepada Chun In, mengepalkan kedua amplop itu cukup kencang ke tangannya.

__ADS_1


"Koh, kami ada sedikit rejeki. Untuk beli rokok, di terima ya Koh...", Papa terus mengepalkan tangan Chun In dengan amplop itu dalam genggamannya.


"Iya Koh, rejeki buat Engkoh.." Om Herman menambahkan sambil menepuk bahu Chun In.


"Saya juga terima Kasih Koh, Jauh-jauh Engkoh menyempatkan diri datang kemari...", Chun In merangkapkan kedua tangannya kepada Papa dan Om Herman, mereka berdua pun melakukan hal yang sama sebagai tanda terima kasihnya.



"Engkoh-Engkoh sudah makan?, Ncek Afung bilang hari ini istrinya bawa masakannya ke dapur Klenteng...", Chun In menunjuk pintu bagian dalam Klenteng, sebelumnya beberapa saat tadi ketika ia melangkah masuk melewati gerbang utama, Ncek Afung menghampirinya dan memberitahu kalau hari ini istrinya membawa masakan buatannya ke dapur Klenteng, karena hari ini istrinya memasak cukup banyak dan juga diberitahu bahwa di Klenteng ini kedatangan tamu yang merupakan putra dari sahabat Babah Hwan.


"Tidak ada acara apapun Koh, hanya membawa masakan saja kemari. Ncek Afung bilang, hari ini istrinya masak lebihan, makanya dibawa kemari...",


"Oh begitu Koh..., saya kira ada acara apa...",


"Kalau Engkoh-Engkoh mau langsung ke belakang saja. Setelah ini saya mau pergi, ada urusan...",


"Oh iya Koh Chun In. Terima Kasih sebelumnya Koh, mau Nerima tamu yang dadakan datang kemari...",

__ADS_1


"Sama-sama Koh. Ngga usah ngerasa ngga enak. Kapan saja Engkoh mau datang kesini, saya malah senang.., Mari Koh...", Chun In mohon diri untuk meninggalkan ruang altar utama itu. Dan kini hanya tersisa Papa dan Om Herman yang masih berdiri disana sambil memandangi Chun In yang melangkah pergi meninggalkan gerbang utama Klenteng.


"Gimana Jun?, Mau ga?", Om Herman kembali menyenggol papa, dan memberikan sebuah kantung plastik hitam ke papa, plastik itu ia berikan untuk membungkus botol air dan kertas kuning itu.


"Apa?", Papa menerima kantung plastik itu, dan langsung menaruh botol kaca dan kertas kuning itu kedalamnya.


"Mau ke belakang ga?, lumayan makanan gratis...",


"Biasa deh, dengar yang gratis, langsung semangat...",


Papa hanya menggelengkan kepala, namun ia mengangguk dan berjalan perlahan menuju bagian belakang Klenteng, tepatnya bagian dapur untuk melihat makanan yang tadi diberitahukan Oleh Chun In. Sampai di bagian dapur Klenteng, Papa dan Om Herman sedikit terbelalak. Mereka cukup kaget dengan nasi putih dan aneka lauk-pauk yang masih hangat dan terlihat sangat lezat itu. Ada ayam goreng kuning, sayur asam, ikan teri goreng dengan kacang, sambal terasi, tiga papan petai yang sudah dibakar, dan sayur lalapan yang benar-benar menggugah selera. Perhatian mereka lalu teralih ke suara Ncek Afung yang menyapa mereka ramah dan mempersilahkan mereka untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkannya itu.


"Engkoh...,hari ini istri saya masak lebihan. Ini sengaja saya bawa untuk Engkoh Jun dan Engkoh Herman..",


"Terima kasih banyak Koh, saya jadi tidak enak hati. Sampai repot Engkoh bawa banyak makanan buat saya sama Herman...",


\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2