
Siang itu cukup terik dengan posisi matahari yang berada tepat di atas ubun-ubun kepala, namun itu tidak membuat Giman menunda pekerjaannya. Ia bersama Pak Tani, ayahnya beserta petani lainnya kini tengah mengangkut karung-karung gabah dari lahan sawah ke gudang padi yang ada di dekat lahan persawahan itu. Sebagian karung gabah itu di simpan di gudang padi ini, dan sisanya di simpan di gudang padi yang ada di belakang rumah pemilik lahan persawahan ini.
"Man, ayo naikkan karungnya ke mobil...", Pak Tani memanggil putranya itu untuk membantu mengangkut karung-karung padi yang tersisa ke mobil pick up yabg sudah terlihat usang itu untuk di angkut.
Giman beserta yang lainnya segera mengangkut karung itu ke bagian belakang mobil pick up, dan mereka turut naik ke bak pick up itu untuk membantu proses penyimpanan karung padi. Setelah semua sudah siap, dua mobil pick up tua itu perlahan melaju menuju gudang padi tujuan mereka. Salah satu mobil pick up tua itu di kendarai oleh Pak Tani dengan Giman yang duduk di sebelahnya. Panen yang dilakukan tahun ini merupakan panen padi pertama bagi Giman. Beberapa bulan yang lalu setelah kelulusannya dari Sekolah Menengah Atas, Pak Tani memberitahukan putranya itu bahwa majikannya yang merupakan pemilik dari sawah ini sedang mencari orang baru untuk bekerja mengurus sawah miliknya. Pak Tani mengetahui hal itu langsung dari putra pemilik sawah ini yang tak lain adalah Papaku. Giman berpikir sejenak ketika mendengar perkataan ayahnya itu. Apakah tidak apa-apa dirinya yang merupakan putra Pak Tani juga bekerja di tempat yang sama?.
"Pak, apa tidak apa-apa jika saya juga kerja sama....Engkoh?",
"Memang kenapa Man?",
"Saya tidak enak hati saja Pak dengan yang lain, maksud saya..., saya kan anak Bapak. Saya tidak mau jika yang lain berpikir saya bekerja disini juga karena Bapak...",
"Bapak cuma menyampaikan omongan si Engkoh sama Enah saja, Man. Kamu mau ikut bekerja dengan bapak atau tidak, semua terserah kamu...", Pak Tani dengan bijak memberikan pilihan kepada putranya itu, memang dari awal ia tak ingin memaksa putranya untuk bekerja juga dengan keluarga Papa.
Giman hanya mengangguk singkat kepada ayahnya, setelah beberapa lama akhirnya ia memutuskan untuk ikut bekerja juga bersama Pak Tani. Mendengar hal itu, Pak Tani langsung memberitahukan Giman untuk datang ke rumah Nenek, menemui Papa dan Nenek untuk menginformasikan bahwa Giman mau mengambil pekerjaan yang Papa berikan.
"Kapan Pak saya bisa menemui Engkoh?", Tanya Giman kepada Ayahnya, jelas untuk hal sepenting ini Giman tidak mau kalau sampai dirinya lancang menemui seseorang di waktu yang tidak tepat, apalagi ini majikan dari ayahnya sendiri. Karen Giman juga pernah mendengar sekilas dari orang-orang bahwa Engkoh pemilik sawah tempat ayahnya bekerja ini di kenal tegas dan galak. Makanya ia kembali mengingatkan dirinya sendiri jangan sampai berbuat kesalahan, ia tak mau ayahnya juga terkena imbas dari kesalahan itu semisalnya itu benar terjadi.
"Datang saja hari Minggu sore, si Engkoh sebelum Maghrib biasanya sudah ada di rumah...", Jawab Pak Tani singkat.
Giman pun akhirnya datang menemui Papaku di hari minggu sore sesuai dengan yang dijelaskan oleh ayahnya. Nenek pun menyambut hangat Giman yang terlihat sedikit kaget melihat dirinya yang sudah menginjak dewasa.
"Sehat Man?, kata si Bapak sudah lulus sekolahnya...?" tanya Nenek yang kemudian memanggil Bibi untuk membawakan makanan dan minuman ke ruang tamu, tempat ia dan Giman berada.
__ADS_1
"Iya Nah, sudah beberapa bulan yang lalu.., saya dengar Enah sama Engkoh lagi cari orang ya...",
"Najim gimana?, dia masih sekolah ya?",
"Iya Nah, masih kelas 1 SMA...",
Ketika ia dan Nenek sedang bercakap-cakap, datang papaku yang baru saja selesai mandi. Pandangan Giman langsung mengarah ke arah Papa yang terlihat santai dengan kaos berkerah longgar dan celana pendek. Melihat wajah papa yang berparas keturunan Tionghoa, Giman mengira sepertinya Papa masih berusia cukup muda, mungkin sekitar usia 20 tahunan dengan postur tubuh sedang, dan berkulit cerah. Giman juga sedikit terhenyak melihat tatapan Papa yang tampak berkerut dengan ekspresi serius. Dalam hatinya Giman mengerti, mungkin karena inilah yang membuat papaku terkesan galak dan tegas.
" Giman ya?", Tanya Papa yang juga melirik nenek. Nenek memberikan isyarat pada papa untuk ikut duduk di ruang tamu itu.
"Iya Koh saya Giman...", Giman langsung berdiri dan menyalami papa begitu papa menghampiri sofa ruang tamu itu dan ikut duduk disana bersama Giman dan Nenek.
"Bapak sudah bilang ya, Man?,", Tanya Papa ke Giman tanpa basa-basi.
"Iya Koh, saya susah dengar dari Bapak saya kalau Engkoh sama Enah lagi cari orang buat di sawah,...saya..., mau ambil pekerjaannya Koh...",
"Iya Koh, gapapa saya mau. Misalnya, saya kerja yang lain, Engkoh butuh bantuan buat d toko Engkoh di pasar...,saya mau...", Jawab Giman dengan mata mengerjap semangat.
"Untuk sekarang saya belum butuh kalau di toko Man, cuma di sawah saja..., nanti di arahkan sama bapak dan saya. Oh ya, umur berapa Man?"
"Saya...., 18 tahun Koh...", mendengar jawaban Giman, selisih umurnya 3 tahun lebih muda dibandingkan dirinya.
"Oke..., nanti panen ikut sama bapak ya Man ke sawah, soalnya kan sebentar lagi mau panen...",
__ADS_1
"Iya Koh, saya mau. Nanti saya bilang ke Bapak...",
Di tengah obrolan mereka bertiga, Bibi masuk ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi tiga gelas teh tawar hangat dan sepiring kue jajanan pasar di untuk kudapan. Bibi sekilas melirik Giman sambil menaruh gelas teh dan piring kue di meja ruang tamu, terakhir kali melihat putra sulung Pak Tani itu ketika ia masih menginjak remaja.
"Sehat Bi?", tanya Giman kepada Bibi.
"Sehat Man, baru lulus langsung kerja ya Man..", mereka berempat tertawa singkat lalu Bibi mohon diri untuk kembali ke dapur.
"Terima Kasih Koh, Nah sebelumnya saya sudah diterima bekerja disini..,tapi...",
"Tapi kenapa?", intonasi suara papa yang tegas itu mengagetkan Giman, dan lengan papa langsung terasa sakit akibat cubitan dari Nenek.
"Sebenarnya saya sempat mikir-mikir untuk menerima pekerjaan ini, saya merasa tidak enak hati karena saya kan anak Bapak Koh...,"
Papa berpikir sejenak dan langsung mengerti apa maksud dari perkataan Giman tadi.
"Kenapa harus tidak enak hati Man?, kan pekerjaan ini saya yang kasih tau.., tidak usah takut..., tidak ada yang berani macam-macam Man, ada saya....", Jawab papa tegas.
"Iya Koh, sekali lagi terima kasih, nanti pas sawah panen saya akan langsung ikut bantu Bapak..", Jawab Giman mantap yang langsung disambut anggukan tegas oleh Papa dan Nenek.
*******
Jangan Lupa Favorit, Komen, dan Like ya Readers
__ADS_1
Terima kasih
Author