The House 1937

The House 1937
49. Mencari Kebenaran (3)


__ADS_3

"Apa??,Babah Hwan sudah meninggal Ncek??", Papa setengah berteriak di depan Ncek Afung, sampai-sampai Om Herman langsung setengah berlari menghampirinya dan memperingatkannya untuk mengecilkan intonasi suaranya.


"Jun, jangan teriak begitu..", Om Herman memperingatkan Papa dengan memelankan suaranya ketidak bicara.


Papa hanya menatap balik sahabatnya itu dengan tatapan kaku, seperti menahan kecewa. Ya, papa memang sangat kaget bercampur kecewa begitu mendengar kabar yang mengejutkan itu dari Laki-laki berambut putih dihadapannya ini. Setelah sekian lama ia kembali menginjakkan kaki ke Klenteng ini, yang berharap mendapatkan jawaban atas pertanyaaan yang ada dalam benaknya. Ia tak menyangka bahwa langkahnya datang ke tempat yang menurutnya tepat, malah mejadi sia-sia seperti ini. Umur dan kehidupan manusia memang tidak pernah ada yang tahu, siapa saja bisa berpulang tanpa memandang waktu dan tempat. Pandangan papa kini beralih kembali kepada Ncek Afung dengan tatapan yang sedikit melunak. Ia hanya bisa mengucapkan bela sungkawa dengan nada bicara berat, sekali lagi, menahan kekecewaannya.


"Maaf Ncek, suara saya terlalu keras...", Papa sejenak mengusap mulutnya yang mulai terasa kering.


" Tidak apa-apa Jun, gua paham. Lu baru datang lagi kemari, pasti kaget dengarnya...", Ncek Afung menepuk-nepuk bahu Papa.


"Kalau boleh saya tahu, Babah Hwan meninggalnya karena apa, Ncek?, Papa mulai penasaran ingin mengetahui lebih lanjut terkait dengan kabar duka itu.


"Paru-paru dan jantungnya bermasalah Jun, waktu masih hidup Babah Hwan perokok berat...",


Setelah menjawab singkat pertanyaan Papa, akhirnya laki-laki bernama Afung itu mempersilahkan Papa dan Om Herman untuk masuk ke bagian dalam Klenteng ini, tepatnya ke ruang tunggu tamu yang ada di sayap kiri Klenteng ini. Melihat kedua anak muda ini mencari Babah Hwan dan sangat berharap untuk dapat bertemu dengannya, Ncek Agung menyimpulkan bahwa sepertinya ada sesuatu yang sangat penting sampai-sampai mereka berdua datang jauh-jauh ke tempat ini.


Ncek Afung membuka pintu ruang tunggu itu dam mempersilahkan Papa dan Om Herman masuk dan menunggu disana. Sementara dirinya akan keluar sebentar dan nanti akan kembali lagi ke ruangan ini. Setelah Laki-laki berambut putih itu menutup pintu ruangan itu, Om Herman hanya menghela napas sambil menatap wajah Papa yang hanya memasang ekspresi kaku.

__ADS_1


"Lu pasti kecewa ya, Jun?,", Ekspresi papa masih terlihat kaku, jawaban tak langsung dari pertanyaan sahabatnya itu.


"Umur manusia memang tidak pernah ada yang tahu, Man...", Papa berusaha untuk tidak terlihat kecewa di depan sahabatnya itu, namun tetap saja tatapan matanya tidak bisa berbohong untuk itu.


"Terus, sekarang bagaimana?",


"Bagaimana..., maksud ku apa?",


"Ya.., maksud gua kan ku sudah tau kalau Babah Hwan sudah meninggal dunia, setelah ini lu mau apa?, tetap disini sampai besok atau langsung jalan pulang?,",


"Gua..., ngga tau...", Papa menatap datar Om Herman yang menepuk dahinya.


"Kenapa lu bisa sepasrah itu Jun?, Lu sama sekali ga memprediksi ini akan terjadi?, lu ngga kepikiran apapun?", Om Herman berpikir, jika ia jadi Papa. Ia akan memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi sebelum datang kemari, mengingat ia juga baru menginjakkan kaki kembali ke Klenteng ini dan sudah lama sekali tidak bertemu dengan sahabat dari Kakekku itu, belum lagi papa yang tidak memiliki nomor telepon yang berkaitan dengan Klenteng ini atau Babah Hwan.


"Gua cuma mikir mau ketemu Babah Hwan saja sih, selebihnya gua ga mikir apa-apa lagi...",


"Terlalu 'lurus' itu ngga bagus Jun...,liat kan sekarang bagaimana?", Papa hanya memelototi Om Herman tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Tatapannya menunjukkan bahwa banyak bicara seperti itu tidak akan membuat keadaan lebih baik. Tatapan Papa yang sinis itu hanya di balas dengan Om Herman yang mendekus kasar.

__ADS_1


Terdengar suara pintu ruangan itu terbuka,dan terlihat seorang perempuan masuk ke dalam ruang tunggu itu dengan membawa tiga cangkir teh hangat dan sepiring kue bulan yang sudah di potong-potong. Bersamaan dengan perempuan itu masuk ke ruang tunggu, terlihat Ncek Afung juga melangkah masuk mengikuti perempuan muda itu. Setelah selesai menaruh cangkir dan piring kue bulan itu, si BB perempuan muda yang merupakan anak perempuan dari Ncek Afung sendiri mohon diri keluar dari ruangan itu. Ncek Afung menutup pintu dan langsung duduk di sofa panjang di di seberang sofa yang di tempati Papa dan Om Herman yang di batasi oleh meja tamu.


"Maaf Jin, Ncek tadi Ara urusan di belakang...", Bentuk basa-basi singkat dari Laki-laki tua itu yang hanya di balas anggukan singkat oleh Papa.


"Ngga apa-apa Ncek, maaf juga saya sama Jun datang secara mendadak kemari, Saya Herman Ncek. Temannya Jun...", Om Herman sedikit menyikut Papa yang malah balik menyikutnya.


" Gapapa Herman, Ga usah merasa tidak enak. Saya Maklum....", Ncek Afung sedikit menarik napas, sepertinya setelah ini ada pembicaraan sesuatu penting yang akan ia sampaikan.


"Jadi Begini Jun..., Gua sebelumnya mau tanya, lu mau ketemu Babah Hwan ada perlu apa?",


Papa menatap Ncek Afung dengan tatapan serius dan mulai menceritakan tujuannya ke Klenteng ini dan menemui sahabat dari almarhum kakek itu. Ncek Afung mendengarkannya dengan seksama dan mengangguk mengerti. Karena Laki-laki ini tahu bahwa semasa hidupnya Babah Hwan menangani "konsultasi" dan banyak orang yang datang ke Klenteng, selain untuk bersembahyang, juga untuk menemui Babah Hwan untuk "berkonsultasi" mengenai masalah mereka, biasanya memang yang terkait dengan hal-hal yang tak kasat mata. Papa ingat cerita Nenek ketika Saudari perempuannya atau Tante Dewi yang "sakit" ketika masih kecil, Kakek ingat untung saja Babah Hwan sedang datang berkunjung ke Klenteng yang berlokasi di dekat area pasar tempat toko milik papa berada.


"Begitu ya...", Ncek Afung menghela napas.


"Lu ngga perlu khawatir Jun, Babah Hwan memang sudah meninggal, tapi lu tetap bisa konsultasi sama anaknya, salah satu anaknya memiliki kemampuan persisi seperti Babah Hwan dan dialah yang melanjutkan sesi konsultasi di Klenteng ini, lu ga sia-sia hari ini datang kemari. Maaf juga tadi gua ga buru-buru jelasin langsung soal ini...",


\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2