
Tante mengusap kedua matanya yang masih berusaha mengumpulkan kemampuan penglihatannya. Semua masih terasa buram dan ketika ia mengerjapkan matanya untuk kesekian kalinya, terpampang suasana gelap temaram sepanjang mata memandang ke sekeliling ruang keluarga ini. Tante tahu persis ini ruang keluarga di rumahnya namun entah mengapa ia merasa sangat aneh dengan keberadaan dirinya disini. Tubuhnya sedikit menggigil karena suhu ruangan keluarga ini terasa dingin dan membuatnya semakin merasa asing. Tanteku memberanikan diri melangkahkan kakinya perlahan ia untuk menuju bagian belakang rumah. Bahkan rasa menggigil yang menusuk ini ia rasakan sampai di telapak kakinya karena lantai rumah yang juga terasa dingin.
Tante tidak tahu persis mengapa ruangan keluarga yang sangat familiar baginya ini malah sekarang terasa asing di tambah lagi dengan suasana gelap temaram serta hawa dingin yang sangat membuatnya tidak nyaman. Begitu langkahnya sampai di ujung ruang keluarga, tiba-tiba ia merasakan sakit di gigi belakang bagian atas dan secara refleks Tante memegangi pipinya. Rasa sakit yang tak tertahankan itu sampai membuatnya oleng dan jatuh terduduk. Tante membuka sedikit mulutnya dan terlihat darah segar mengalir dari sana bersamaan dengan rasa aneh yang dirasakan oleh indra pengecapnya.
Darah dari mulutnya itu masih mengalir cukup banyak dan ada satu buah gigi geraham yang jatuh di telapak tangannya.Ia memegangi gigi gerahamnya yang berlumuran darah itu dan mengamatinya dengan seksama sekaligus dengan tatapan bingung. Dan ia juga melihat seperti ada seseorang yang berdiri dihadapannya, seseorang yang mengenakan rok selutut bermotif bunga-bunga kecil di bagian bawah roknya dan ia juga tidak asing dengan rok bermotif bunga itu.
********
__ADS_1
Tante seketika membuka matanya dan langsung terduduk di ranjangnya. Napasnya sedikit terengah dengan keringat dingin yang membasahi seluruh wajahnya. Jantungnya berdetak begitu kencang dan ia refleks memegangi pipi kanan dan pipi kirinya. Ia mengambil napas pendek-pendek sambil menutup mulu dengan telapak tangan dengan tatapan syok. Ternyata yang tadi itu hanya mimpi, tetapi ia merasa itu terlalu nyata untuk sebuah mimpi karena ia masih ingat betul rasa sakit yang menderanya ketika darah-darah itu keluar dari mulutnya dan juga gigi gerahamnya yang lepas.
Ia bangkit dari ranjang dan langsung menatap dirinya di cermin yang ada di pintu lemari pakaiannya dan ia lihat betapa kacaunya dirinya ini dengan wajah kuyu yang basah dengan keringat, rambut berantakan yang juga sedikit basah karena keringat. Tante langsung membuka mulutnya sambil bercermin dan ia melihat semua giginya utuh sempurna, tidak ada yang lepas satupun seperti di dalam mimpinya itu. Tante kembali mengusap kedua pipinya dengan alis mengerut, tak hanya darah dan giginya yang lepas, namun ia juga melihat seperti seseorang memakai rok bermotif bunga di bagian bawahnya, tetapi hanya melihat bagian bawah roknya saja tanpa melihat wajah dari orang itu. Tante berpikir sejenak untung berkilas balik, rok bermotif bunga itu..., sepertinya ia pernah melihatnya namun entah dimana.
Tante akhirnya memutuskan keluar dari kamarnya untuk pergi ke dapur mengambil segelas air dan mandi. Mungkin itu bisa membuatnya jauh lebih baik dan melupakan mimpi anehnya itu. Begitu keluar kamar, ia langsung melihat sekeliling ruang keluarga yang memang sama seperti di dalam mimpinya, hanya saja dalam mimpinya terlihat gelap dan temaram, juga terasa dingin. Ia menggelengkan kepala pelan dan langsung melangkahkan kakinya menuju dapur.
Ternyata suara teriakkan Nenek yang tadi ia dengar berasal dari kamar Bibi yang kini pintu kamarnya terbuka lebar. Terlihat Nenek yang duduk di kursi di depan kamar Bibi sambil menangis dan ada Papa juga yang sedang berusaha menenangkan Nenek dengan mata merah berkaca-kaca. Tante melihat ke arah pintu kamar yang terbuka itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah Nenek dan Papa. Tante menghampiri mereka berdua dengan tatapan bingung bercampur takut. Apakah ada sesuatu yang terjadi pada Bibi sehingga mereka sampai seperti ini?.
__ADS_1
"Koh..., ini ada apa?, Kenapa Enah menangis?, Tadi Alin dengar Enah teriak dari luar kamar..." Tanteku mengguncang pelan bahu Papa, ia begitu tak sabar segera ingin mengetahui jawaban dari apa yang sebenarnya terjadi. Papa hanya diam dan memeluk Tanteku dan berbisik padanya dengan suara parau.
"Bibi sudah tidak ada Lin, Bibi sudah meninggal, nanti kita akan minta bantuan warga buat pemakaman Bibi ..", Papa semakin mengeratkan pelukannya kepada adiknya itu.
"Apa??", Tante sangat terkejut dengan apa yang Papa bilang, sampai-sampai ia melepaskan pelukan papa dengan sedikit kasar lalu berlari masuk ke dalam kamar Bibi.
Ketika ia sudah di ambang pintu kamar, ia melihat jasad Bibi yang sudah terbujur kaku dengan bagian wajah dan kepala yang sebelumnya sudah ditutup oleh kain putih. Tanteku menangis semakin keras dan hampir jatuh terduduk di ambang pintu jika saja Papa tidak memapahnya. Yang membuat Tante semakin histeris adalah ketika melihat rok bermotif bunga kecil-kecil yang di kenakan oleh jenazah Bibi itu sama persis dengan rok yang dikenakan seseorang misterius yang ada di dalam mimpinya tadi malam. Apakah mimpinya itu merupakan suatu pertanda atas kejadian yang sangat mengejutkannya di pagi hari ini...???.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*