The House 1937

The House 1937
28. Kamu Harus Ikut Saya !


__ADS_3

Tante Dewi menghirup aroma harum kopi hitam hangat yang baru saja ia buat di dapur. Ia habis membantu nenek merapikan meja dapur dan peralatan makan yang telah di cuci bersih. Papa dan Tante Alin sudah pergi sedari pagi untuk menjalankan aktivitasnya masing-masing, Tante Alin pergi bekerja dan Papa membuka tokonya di Pasar. Hanya ada dirinya dan Nenek yang kini tengah berjaga di warungnya dan Tante masih ingin berada di dapur ini seorang diri. Tante Dewi duduk di bangku kayu panjang sambil menyeruput kopi hitam hangatnya dengan pikiran yang melanglang buana mengingat masa-masa ia masih tinggal di rumah ini.


Menurutnya perubahan yang sangat mencolok yang ada di rumah ini adalah telah dipasangnya arus listrik, sehingga nenek dan yang lainnya bisa menggunakan banyak alat elektronik seperti lampu listrik, lemari es, setrika listrik, kipas angin, radio dan televisi hadiah darinya pun dapat menyala dengan baik. Ia ingat betul ketika masih anak-anak dulu, ia sempat merasakan keterbatasan teknologi di rumah ini, seperti menggunakan lampu petromak atau lampu minyak tanah sebagai sumber penerangan, atau menggunakan sumur kerek untuk sumber air. Namun ada satu kejadian yang pernah ia alami di rumah ini yang benar-benar tidak bisa ia lupakan sampai hari ini. Kejadian mengerikan yang membuat dirinya harus berdiri secara paksa di antara hidup atau mati.


*********


"Bagaimana ini Bah?, Neng Dewi panas badannya belum turun juga..", Bibi kembali menaruh kain basah di atas kepala Dewi Kecil yang memang terasa panas, sampai-sampai membuat wajah anak itu sedikit memerah dengan tatapan mata yang amat lesu. Sedari kemarin anak yang baru berusia sekitar delapan tahun itu mengalami panas yang cukup serius. Babah dan Enah berencana membawa pergi anaknya ke Kota untuk berobat, namun mereka belum juga mendapatkan pinjaman mobil untuk sarana transportasi mereka. Maklum saja, di masa itu jarang sekali orang memiliki mobil pribadi. Apalagi daerah rumah ini terhitung masih pelosok sehingga harus melakukan usaha berlebih dan sedikit keras apabila ingin mendapatkan atau melakukan sesuatu.


"Lebih baik kita beli Oplet Bah kalau uangnya sudah cukup..., Jadi mudah jika ingin pergi kemana-mana...", Enah mengerutkan keningnya sambil menatap suaminya itu, karena teringat Babah sempat bilang bahwa jika uang hasil panen sawah dan hasil ternak babinya sudah ia dapatkan, ia berencana untuk memperluas ternak babinya dan ingin membeli beberapa hektar tanah.


"Iya..., tapi kan belum ada Oplet yang bagus..., makanya di tahan dulu buat belinya...", Babah memang berencana untuk membeli mobil oplet, namun mobil bekas dengan kualitas yang masih sangat baik untuk dikendarai. Hanya saja ia memang belum mendapatkannya.


"Ini Dewi bagaimana Bah?, Bagaimana nanti kalau panasnya semakin parah ?", Enah memegangi lengan kemeja Babah, sedari kemarin ia sudah sangat khawatir dengan keadaan putri sulungnya itu, ia sudah memberikan ramuan obat tradisional kepada Dewi untuk menurunkan panasnya. Namun sampai hari ini tidak ada perubahan yang berarti, panasnya bukan semakin membaik, malah sebaliknya.

__ADS_1


"Iya itu juga lagi dipikirin, Dewi sudah diberi obat?", Tanya Babah memastikan. Babah dan Enah memang memiliki kebiasaan jika ada yang sakit mereka meminum obat tradisional Cina berupa ramuan tradisional yang telah di keringkan lalu di rebus.


"Sudah Bah, tapi panasnya belum juga membaik...", Enah benar-benar terlihat khawatir, berharap segera mendapatkan pinjaman mobil untuk pergi ke kota membawa Dewi berobat.


"Begitu ya?", Babah terlihat mengusap wajahnya dengan sedikit Frustasi. Jelas saja ia sangat khawatir karena selain panas, ia melihat ekspresi wajah putrinya itu yang sedikit aneh, dengan tatapan mata yang begitu lesu, dan Dewi hampir tidak pernah berbicara sejak kemarin dan terlihat tidak mampu untuk menggerakkan tubuhnya sama sekali.


"Perasaan gue ga enak...", Babah menatap Enah dengan serius.


"Dewi sakit sampai seperti itu,, lu lihat kan dari kemarin keliatan ga bisa bergerak...", Wajah Enah langsung pucat begitu mendengar perkataan Babah. Ia akui bahwa apa yang dikatakan suaminya itu memang benar. Debaran jantungnya semakin keras dan kedua telapak tangannya mulai terasa dingin.


"Semoga kita cepat dapat pinjaman mobil Bah...", Jawab Enah sekenanya sambil kembali ke dapur bersama Bibi untuk kembali menyiapkan obat untuk Dewi. Segala bentuk pikiran negatif ia singkirkan dalam benaknya, dengan debaran jantungnya yang masih terpacu kuat, dalam hatinya Nenek berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa semoga putri sulungnya itu segera membaik dan kembali sehat seperti biasanya.


\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Semua Gelap Gulita !


Dewi melihat ke segala arah dan hanya terlihat kegelapan yang menyelimuti dirinya. Ia melihat ke kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah, kebingungan yang amat sangat telah melandanya saat ini. Ia mulai meraba lengan-lengannya sendiri yang mulai terasa dingin. Ia mengambil napas sejenak lalu berteriak memanggil Enah dan Babah, namun ia terkejut karena suaranya tidak keluar sama sekali, padahal ia susah mencoba berteriak dengan sekeras mungkin.


Ia semakin gusar dan tentu ini merupakan pengalaman yang sangat menakutkan untuk anak berusia delapan tahun seperti dirinya. Ia tetap mencoba berdiri dengan kaki-kakinya yang sedikit gemetar, dan menekuk lengannya seolah tengah memeluk dirinya sendiri dengan pandangan yang masih mengarah ke sana kemari. Dimana ini? mengapa begitu gelap? apakah ini di rumah? dimana Babah dan Enah?, Kenapa ia tidak bisa mengeluarkan suaranya sendiri?, berbagai pertanyaan berseru dalam hatinya dalam kegelapan yang kini menyelimutinya.


Dalam kebingungannya itu, sayup-sayup Dewi mendengar suara aneh yang sepertinya ada sesuatu yang tengah mendekat kepadanya. Pandangan anak itu berubah waspada dengan kembali mengedarkan pandangannya dalam kegelapan itu. Semakin lama suara itu terdengar semakin dekat kearahnya, dan Dewi kecil amat terkejut dengan sumber suara yang kini sudah ada di depannya. Sosok yang terlihat seperti seorang perempuan yang aneh dan menyeramkan tengah melayang-layang mengitarinya. Terlihat badannya yang setengah telanjang dengan sekujur luka borok menjijikkan dan mata merah menyala yang sangat tajam menusuk. Tangannya yang kurus dan juga penuh borok itu seperti membuat gerakan menggapai-gapai ke arah Dewi dengan tetap melayang mengitari anak itu. Dewi hanya ternganga ketakutan dengan makhluk aneh berkuku tajam ini yang masih terus mengitarinya sambil berkata.


"MANEH KUDU MILUAN AING...!!!!, AYEUNA MANEH KUDU MILUAN AING...!!!!!",


(Kamu Harus Ikut Saya, Sekarang Kamu Harus, Ikut Saya).


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2