The House 1937

The House 1937
79. Muncul dan Menghilang


__ADS_3

Oh Herman tengah bersiap untuk menutup tokonya lebih cepat dari biasanya. Hari ini ia sudah ada janji dengan Tante Alin untuk mengajaknya pergi keluar. Bisa dibilang, karena kesibukan dirinya mengurus dan mengelola toko ini seorang diri, membuat dirinya jarang memiliki waktu untuk mengajak Tante Alin keluar rumah untuk pergi kencan seperti hari ini. Paling-paling ia hanya mampir ke rumah Nenek untuk bertemu Tante Alin dan tidak lupa membawa buah tangan yang terkadang malah di sambut ejekan oleh Papa. Pernah sekali nenek mencubit Papa yang terlihat keterlaluan mengejek Herman ketika sedang berkunjung ke rumah. Om Herman sendiri sebenarnya tidak merasa keberatan karena sudah paham dengan tabiat dari sahabatnya itu.


"Jangan keterlaluan Jun, lu meledek Herman terus-terusan. Lebih baik lu cari calon buat lu sendiri...",


Om Herman malah tertawa mendengar perkataan Nenek yang cukup menusuk itu. Jika dipikir ulang, sahabatnya itu memang sangat sulit dekat dengan lawan jenis karena sifatnya yang kaku dan serius itu, di tambah lagi dengan kesibukannya di toko sekaligus mengurus sawah dan bisnis peternakan Babi milik keluarganya. Membuat sahabatnya itu semakin jauh dari pergaulan dan mengenal banyak orang lainnya di luar sana. Membicarakan perkataan Nenek tadi, Om Herman selalu ingin tertawa jika tengah mengingatnya.


"Man, jam segini sudah tutup toko?, lu mau kemana?", Papa berdiri di depan etalase tokonya dengan memegang cangkir kaleng berisi teh hangat. Sebenarnya ia sudah tahu bahwa sahabatnya itu sudah aja janji temu dengan adik perempuannya. Ia menahan ekspresi jahilnya dengan wajah sedatar mungkin.


"Biasalah, gua mau ketemu Alin?, memang Alin ngga bilang sama Lu?", Om Herman tengah memegang satu papan ciantang dengan kedua tangannya. Di jaman itu toko-toko yang ada di kompleks pasar ini masih menggunakan ciantang, papan kayu yang digunakan untuk menutup dan membuka toko. Penggunaan folding gate untuk pintu toko belum populer seperti sekarang.


"Oh...,iya dia bilang ke gue kemarin..., lu mau bawa adik gue kemana?",


"Yah..., paling makan-makan aja sih...", Om Herman masih terlihat sibuk dengan papan-papan ciantang tokonya.


"Pulang jangan malam-malam...",


Om Herman langsung menengok ke arah Papa dengan menaruh kembali ciantangnya.


"Lu pikir gua bakal bawa kabur si Alin kemana, Jun?, gua bakal dipenggal sama Enah...",


"Ya gua kan cuma bilang begitu Man...," Papa menyeruput tehnya tanpa rasa bersalah.


"Lu mau nitip apa nanti?", Om Herman telah selesai menutup tokonya.


"Nitip?, Makanan?, ngga apa-apa Man, lu aja sama Alin..." , Papa yang hendak melangkah kembali ke dalam tokonya terlihat kaget mendengar perkataan Om Herman sebelum meninggalkan tokonya itu.

__ADS_1


"Alin boleh ya gua bawa pulang ke rumah...",


Seketika Om Herman langsung ambil langkah seribu melihat papa langsung melempari Om Herman dengan beberapa potong kerupuk mentah.


******


"Jalanan belum diaspal juga ya Lin..", Mereka berdua kini sudah ada di teras depan rumah, om Herman tengah memarkir motornya dan sedikit mengeluh mengenai kondisi jalanan di depan rumah Nenek yang memang belum juga di aspal. Jalanan dengan kondisi seperti itu selain sangat berbahaya bagi pengendara, juga sangat berpotensi merusak ban karena terus-menerus melaju di jalanan yang tidak merata.


"Begitu lah Ko, sampai sekarang Alin juga bingung kenapa belum di aspal juga...", Tante Alin melirik sebuah sepeda Onthel tua yang terparkir di dekat warung milik Nenek. Apakah ada tamu yang datang malam ini?,


"Kenapa Lin?", Om Herman mengikuti arah pandang Tante Alin ke sepeda tua itu.


"Sepertinya lagi ada tamu Koh..", Tante Alin lalu menengok ke arah pintu depan.


"Tamu?, Siapa?, tamunya Enah?",


"Oh begitu.., ya Sudah, ayo kita ke dalam...",


Tante Alin mengetuk pintu pelan, dan terdengar suara Papa yang mengatakan pintunya tidak di kunci, lalu mereka berdua masuk ke dalam, dan terlihat Papa yang tengah duduk di sofa ruang tamu bersama dengan Najim. Najim langsung menghampiri Tante Alin dan Om Herman dan menyalami mereka dengan sopan.


"Oh Najim, tumben datang kemari malam-malam...", Tante Alin sedikit berbasa-basi dengan salah satu orang kepercayaan Papa itu.


"Iya Ci.., lagi ada perlu saya sama si Engkoh...", Najim kembali duduk di sofa tempatnya tadi, dan mulai bertanya kepada papa dengan hati-hati mengenai Om Herman, yang memang baru pertama kali ini ia melihat sahabat papa itu.


Tante Alin dan Om Herman berjalan meninggalkan Papa dan Najim menuju ruang keluarga. Mereka berdua langsung menemui Nenek yang tengah menonton televisi.

__ADS_1


"Koh, itu tadi yang sama Cici Alin siapa?", Najim bertanya dengan sangat berhati-hati.


"Itu Herman, temen gua. Pacarnya Alin juga...", Papa berdeham pelan.


"Oh begitu Koh, kalo Engkoh sendiri kapan punya juga Koh?", Najim sampai menahan napas melihat majikannya itu yang langsung memelototinya.


Kini perhatian mereka berdua teralih ke Tante Alin yang kembali menemui mereka berdua di ruang tamu dengan membawa satu kotak sedang martabak manis dengan topping keju dan kacang.


"Nih Koh, Alin beli martabak, Najim di makan martabaknya...",


"Iya Ci, Terima kasih. Sampai repot-repot segala Ci bawa martabak...",


Tante Alin kembali duduk di kursi ruang keluarga dan terlihat Om Herman yang tengah mengobrol dengan Nenek dan sesekali bertanya kepada Bi Inah. Beberapa lama setelah itu, Papa menuju ruang keluarga setelah Najim pamit untuk pulang dengan membawa sisa martabak yang masih ada.


"Sudah selesai Koh?", Tante Alin melihat raut wajah Papa sedikit kusut. Tante Alin Tahu bahwa pembangunan gudang yang baru yang persis di sebelah gudang padi memang sangat menguras energi Papa.


"Sudah..", Jawab Papa singkat, dan ia mengambil posisi duduk di dekat Tante Alin.


Setelah mereka semua terlibat dalam beberapa obrolan yang cukup bervariatif, sampai-sampai mereka semua ditonton oleh layar televisi. Akhirnya sudah tiba waktunya Om Herman untuk pamit pulang dan Tante Alin mengantarnya ke pintu depan Rumah.


"Lin, yang tadi duduk sama Jun itu siapa?", Om Herman sampai lupa untuk bertanya mengenai salah satu orang kepercayaan Papa itu.


"Oh itu Najim, Koh. anak buahnya Koh Jun, yang bantu mengurus sawah...", Jelas Tante Alin sambil membuka pintu depan. Kini mereka berdua sudah ada di teras depan dengan kuning temaram cahaya lampu bohlam di atas mereka.


"Pulangnya Hati-hati ya Koh, jangan ngebut, soalnya jalannya masih rusak...",

__ADS_1


"Iya Lin tenang aja, Kokoh akan hati-hati...", Om Herman menghampiri motornya untuk menstarter motor miliknya. Om Herman yang tak sengaja melihat bagian yang gelap gulita dari luar teras tempatnya memarkir motor dan ia tersentak kaget melihat sesuatu seperti bayangan hitam yang menyerupai manusia yang hanya terlihat bagian matanya saja lalu sosok itu menghilang begitu saja di hadapannya.



__ADS_2